Berita

Kolase Logo PSI dan Jokowi. (Foto: Dokumentasi RMOL/Istimewa)

Politik

PSI Bisa Jadi Musuh Bersama Partai Koalisi

JUMAT, 03 JULI 2026 | 14:34 WIB | LAPORAN: AHMAD ALFIAN

Safari politik Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) bersama Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dinilai berpotensi mempercepat kompetisi antarelite politik menuju Pemilu 2029. Bahkan, PSI disebut bisa menjadi "musuh bersama" jika terus memperluas pengaruh politiknya.

Pengamat politik Selamat Ginting menyebut, kompetisi akan semakin tajam apabila PSI berkembang menjadi kekuatan politik besar dan mulai bersaing dengan partai-partai lain yang saat ini berada dalam koalisi pendukung Presiden Prabowo Subianto.

"Kompetisi elite akan terjadi jika PSI berkembang menjadi kekuatan besar dan mulai bersaing dengan partai-partai koalisi yang lain, terutama koalisi yang mendukung Prabowo, dalam perebutan pengaruh menuju 2029," katanya lewat kanal Youtube Abraham Samad, Jumat, 3 Juli 2026.


Menurutnya, kompetisi elite akan semakin tajam mulai tahun ini. Yang tadinya diperkirakan memanas pada 2027, kini dipercepat dengan safari politik Jokowi.

Ia JUGA menilai safari politik tersebut juga berpotensi menimbulkan kekhawatiran di kalangan elite partai politik karena PSI dinilai sedang memperluas jaringan pengaruhnya.

Persaingan yang terjadi bukan semata memperebutkan kursi presiden, melainkan juga akses terhadap jaringan politik yang menjadi modal penting dalam kontestasi mendatang.

"Safari politik ini juga membuat elite khawatir akan digarap oleh PSI. Yang diperebutkan bukan hanya soal kursi presiden semata, tetapi juga akses terhadap jaringan politik. Nah, ini kan sedang menyebar jaring," ujarnya.

Karena itu, Selamat berpandangan PSI berpotensi dipersepsikan sebagai ancaman bersama oleh partai-partai lain apabila terus memperkuat basis politiknya.

"PSI bisa menjadi musuh bersama karena saat ini mereka sedang membangun jaringan politik dan juga sumber-sumber kekuasaan, termasuk menyentuh birokrasi," jelasnya.

Selamat menambahkan, pembangunan jaringan politik tersebut dapat dilakukan melalui pendekatan kepada berbagai kelompok strategis dengan menawarkan prospek akses terhadap sumber daya kekuasaan di masa depan.

"'Kalau dekat dengan saya, kalau anak saya jadi presiden, akan ada sumber daya yang bisa Anda dapatkan.' Itu bagian dari upaya membangun jaringan politik," pungkasnya.

Populer

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Menteri Warisan Jokowi akan Bersih dari Kabinet Prabowo pada 2027

Jumat, 30 Oktober 2026 | 23:29

Pencopotan Agus Suparmanto dan Taj Yasin Bukan Keinginan Ketum PPP

Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:16

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Rencana Insentif MBG Rp1 Triliun Tuai Kritik dari DPR

Kamis, 29 Oktober 2026 | 15:47

UPDATE

Kapolri Resmi Larang Seluruh Polisi Pakai Vape

Minggu, 01 November 2026 | 21:51

Ketidakpuasan terhadap Kinerja Pemerintah

Minggu, 01 November 2026 | 21:33

Gaduh Penggeledahan Pesantren, Polri Libatkan Propam

Minggu, 01 November 2026 | 20:41

Dua Nasabah Gugat AIA Financial ke PN Jaksel

Minggu, 01 November 2026 | 20:18

Mantra Mahasiswa dan Mengapa Rakyat Sering Kali Dikalahkan?

Minggu, 01 November 2026 | 19:36

KB Bank Syariah Digugat ke Pengadilan

Minggu, 01 November 2026 | 18:39

Pakar Tata Negara Bongkar Efek Putusan MA Terhadap Nasib Gibran

Minggu, 01 November 2026 | 18:15

Cancel Culture RANS-Willie Salim Contoh Kemarahan Publik

Minggu, 01 November 2026 | 17:41

Lulusan Trisakti Didorong Jadi Generasi Inovatif dan Berjiwa Wirausaha

Minggu, 01 November 2026 | 17:23

Elemen Umat Islam Harus Bersatu Perkuat Ekonomi melalui Koperasi

Minggu, 01 November 2026 | 17:00

Selengkapnya