Berita

Ilustrasi media sosial. (Foto: artificial intelligence)

Publika

Gemar Bertengkar, Bukan Berdebat?

SELASA, 30 JUNI 2026 | 21:51 WIB | OLEH: YUDHI HERTANTO

GADUH! Lini masa gawai sering dimulai dengan kegaduhan beragam. Dari perdebatan politik berujung makian, perseteruan influencer berbuntut klarifikasi, hingga kolom komentar berita dipenuhi saling lempar tuduhan.

Internet dan media sosial, yang digadang-gadang menjadi ruang publik inklusif dan mencerahkan, justru terasa seperti ring tinju tanpa wasit.

Kita dikelilingi informasi melimpah, namun ruang diskusi justru mengalami pendangkalan akut. Netizen mudah tersulut amarah, gemar menghakimi, dan sulit diajak berpikir jernih. Tidak bisa hanya menyalahkan teknologi.


Kitab klasik; seni retorika Aristoteles, strategi debat praktis Jay Heinrichs, dan anatomi rekayasa opini Edward Bernays menjadi pemandu.

Keriuhan ruang siber, bukanlah sebuah kebetulan, melainkan hasil dari desain komunikasi yang sengaja dieksploitasi.

Terjebak dalam Labirin

Perdebatan di media sosial, hampir selalu buntu tanpa solusi. Jay Heinrichs, dalam bukunya Thank You for Arguing (2017), memberikan jawaban menarik. Dimana memisahkan secara tegas dua konsep yang sering bercampur aduk: bertengkar (fighting) dan berdebat (arguing).

Prinsipnya, bertengkar (fighting), berorientasi ego, agresi, dan keinginan mutlak menjatuhkan lawan. Tujuannya, menang dengan cara memojokan pihak lain. Sedangkan berdebat (arguing), keterampilan persuasif berfokus pencarian solusi, mengubah cara pandang mencapai kesepakatan.

Celakanya, arsitektur media sosial dirancang untuk memfasilitasi pertengkaran, bukan perdebatan. Hal ini terjadi karena komunikasi, dikunci pada dimensi waktu yang salah.

Menurut Heinrichs, argumen yang sehat harus bergerak maju ke masa depan (future tense), membahas tentang pilihan dan solusi. Tetapi, netizen justru gemar menetap di dua dimensi waktu lainnya.

Labirin perangkap masa lalu (past tense): dengan konsentrasi pencarian kesalahan, membongkar dosa lama, dan menghukum. Sekaligus terjebak di masa kini (present tense): bertumpu pada nilai, moralitas absolut, dan segregasi identitas kelompok.

Ketika ruang publik digital, dipaksa berdiskusi hanya di ranah masa lalu dan masa kini, yang lahir bukanlah solusi, melainkan tribalisme, pengotakan masyarakat ke dalam perkubuan yang saling bermusuhan tanpa ujung.

Kudeta Emosi atas Logika

Jauh sebelum algoritma internet diciptakan, filsuf Yunani Kuno, Aristoteles, sudah merumuskan bahwa komunikasi persuasif yang ideal, harus ditopang tiga pilar utama seimbang: Ethos -kredibilitas karakter, Pathos -sentuhan emosi, dan Logos -argumen logis.

Di ruang siber, kita sedang menyaksikan terjadinya kudeta total Pathos terhadap Logos.

Algoritma media sosial, bekerja berdasarkan prinsip engagement-maximizing memprioritaskan yang paling banyak memicu reaksi (Sunstein, 2018). Dalam psikologi, tidak ada yang mendorong reaksi lebih cepat daripada emosi ekstrem: ketakutan, kemarahan, rasa terancam, dan kebencian.

Argumen yang berbasis data, bernalar runtut, dan objektif (logos) membutuhkan waktu lama untuk dicerna bahkan dianggap membosankan. Sebaliknya, narasi provokatif, bombastis, dan menyentuh emosi (pathos) akan langsung viral dalam hitungan detik.

Bagaimana ethos? Kredibilitas di dunia digital, tidak lagi diukur dari rekam jejak keahlian atau integritas moral, melainkan dari metrik artifisial: jumlah pengikut (followers), tanda centang biru, dan popularitas. Terbukti, influencer justru lebih dipercaya daripada pakar di bidangnya, hanya karena memiliki panggung digital yang lebih megah.

Dirigen Tak Terlihat

Apakah kekacauan emosional dan polarisasi digital, terjadi secara alami? perlu menengok pemikiran Edward Bernays, pelopor industri hubungan masyarakat modern. Dalam karya provokatif, Propaganda, Bernays (1928) menyatakan bahwa dalam masyarakat demokratis, pikiran, selera, dan opini massa sebenarnya terus dibentuk dan dikendalikan segelintir elite di balik layar, yang disebut sebagai invisible government pemerintahan tak terlihat.

Dalam konteks modern, invisible government menjelma berbentuk industri propaganda komputasional (computational propaganda): jaringan agensi digital, pendengung (buzzers), akun bot, hingga konsultan politik yang merancang operasi informasi (Woolley & Howard, 2019).

Mereka memahami teori psikologi massa, tahu kapan harus menyuntikkan narasi ketakutan, serta waktu mengalihkan isu publik dengan menciptakan drama baru, serta bagaimana cara memecah belah perhatian publik melalui teknik rekayasa konsensus the engineering of consent.

Lantas, bagaimana agar tidak menjadi bahan bakar bagi mesin propaganda dan algoritma? Sekurangnya (i) ubah arah kompas waktu komunikasi,  bergerak menuju masa depan (future tense). Selanjutnya, (ii) lakukan diet emosi dan tuntut logik, saat emosi tersulut, pathos kita sedang dimanipulasi, jeda sejenak, periksa data dalam aspek logos.

Lalu, (iii) bangun literasi retorika publik, kemampuan berpikir kritis menjadi alat pertahanan diri yang esensial.

Ruang publik digital adalah cerminan dari nurani kolektif. Dengan menolak menjadi bagian dari kegaduhan irasional, kita sedang merebut kembali akal sehat dan hak demokratis sesungguhnya, dari kendali para dirigen tak terlihat di balik layar gawai. Pahamilah!

Penulis Sedang Menempuh Program Doktoral Ilmu Hukum Universitas Islam Sultan Agung

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

UPDATE

Jokowi Injak Kepala Kerbau saat Terima Gelar Adat Lampung, Apa Maknanya?

Selasa, 30 Juni 2026 | 18:21

Safari Politik Jokowi Bukti Kepemimpinan Gibran dan Kaesang Lemah

Selasa, 30 Juni 2026 | 18:21

Jokowi dan PSI, Duri dalam Daging Pemerintahan Prabowo

Selasa, 30 Juni 2026 | 18:09

Daftar Wilayah yang Berpotensi Terdampak El Nino 2026

Selasa, 30 Juni 2026 | 18:05

Keiko Fujimori Akhirnya Bernasib Sama Seperti Prabowo

Selasa, 30 Juni 2026 | 18:03

KPK Sebut 10 Orang Diamankan dalam OTT Kuansing

Selasa, 30 Juni 2026 | 17:57

Panitia Minta Jokowi Datang Setelah Acara Adat, Kunjungan Malah Batal

Selasa, 30 Juni 2026 | 17:50

Koperasi Beri Ruang Bagi Mahasiswa Berwirausaha

Selasa, 30 Juni 2026 | 17:37

Tutup Perdagangan Akhir Bulan: IHSG Merosot ke 5.643, Rupiah Loyo Dekati Rp18 Ribu

Selasa, 30 Juni 2026 | 17:28

Ketum AHY: Genap 25 Tahun, Partai Demokrat Ingin jadi Bagian Solusi

Selasa, 30 Juni 2026 | 17:19

Selengkapnya