Berita

Presiden ke-7 RI, Joko Widodo menginjak kepala kerbau saat menerima gelar kehormatan dari lima kerajaan adat di Kedaton Keagungan, Bandar Lampung, Sabtu 27 Juni 2026. (Foto: Istimewa)

Publika

Jokowi "Baginda Pemuka Bangsa" Kok Didemo?

SENIN, 29 JUNI 2026 | 06:05 WIB

RAS terkuat, emak-emak asal Lampung gelar demo. Yang didemo mantan orang terkuat di negeri ini, Joko Widodo alias Jokowi. 

Padahal, para raja di sana menganugerahi ayah Wapres Gibran Rakabuming Raka ini dengan gelar "Baginda Pemuka Bangsa". 

Demo emak-emak ini bukan di stadion, bukan pula di arena UFC, melainkan di Bundaran Tugu Adipura, Bandar Lampung, Sabtu, 27 Juni 2026. Tempat yang mendadak berubah menjadi panggung opera politik, festival budaya, sekaligus sinetron baru "Merebut Singasana 2029."


Di satu sisi, lima kerajaan adat Lampung dengan khidmat, sakral, penuh aura mistis level serial kerajaan Turki, menganugerahkan gelar adat tertinggi "Baginda Pemuka Bangsa" kepada Jokowi. 

Ada prosesi adat, ada tarian, ada simbol-simbol kebesaran. Bahkan,  ada ritual menginjak kepala kerbau. Untunglah kerbaunya tidak mengajukan gugatan ke pengadilan hewan. "Kok kerbau sih, Bang?" "Udah ente diam jak, ikuti sinetronnya." Ups

Jokowi berdiri gagah memakai pakaian adat Lampung. Wibawanya seperti raja yang baru pulang dari ekspedisi menaklukkan tujuh samudra, delapan gunung, dan sembilan grup WA ormas yang isinya ngakak ngopi mulu. 

Eh, di bawah tugu yang sama, muncul pemandangan yang membuat Isaac Newton mungkin bangkit dari kuburnya hanya untuk memastikan hukum gravitasi masih berlaku.

Ratusan emak-emak berbaju gamis hitam berbaris rapi seperti pasukan elite Avengers cabang pengajian. Mereka membawa spanduk bertuliskan, "Pak Jokowi, tunjukkan ijazahmu!" Nuan bayangkan betapa bingungnya semesta.

Di atas panggung ada seseorang baru saja dinobatkan menjadi Baginda Pemuka Bangsa.

Di bawah panggung ada emak-emak yang berkata, "Baginda boleh, tapi rapor SD mana?"

Ini seperti seseorang baru menang Nobel Fisika, lalu tetangga sebelah bertanya, "Ijazah TK masih ada, Bang?"

Aksi tersebut digelar oleh Forum Suara Masyarakat Lampung (FSML). Dipimpin Gunawan Parikesit dan Meri, mereka datang membawa satu mobil komando dan tiga bus besar. Komposisinya persis rombongan arisan akbar yang salah belok dan nyasar ke konferensi geopolitik.

Orasi berkumandang. Roy Suryo diteriakkan. dr. Tifa disebut-sebut. KM 50 dibahas. Peristiwa 21-22 Mei 2019 diangkat kembali.

Pokoknya lengkap. Tinggal kurang diskusi tentang black mamba, malam Jumat, dan mengapa kaleng Khonguan isinya rengginang.

Mereka menilai safari politik Jokowi merupakan agenda terselubung menuju Pemilu 2029. Padahal bisa jadi Jokowi cuma ingin keliling, makan seruit, foto-foto, dan pulang sebelum magrib sambil memikirkan kapan Pertamax turun.

Namun di negeri ini, orang membeli bakso saja bisa dicurigai sedang menyusun strategi kudeta. Yang membuat cerita ini yang suka mojok di warkop bisa saja dituduh buzzer.

Kalau kelompok pertama membawa spanduk tuntutan ijazah, kelompok kedua justru membawa senyum, ponsel, dan niat suci mencari selfie bersama Jokowi.

Terjadilah apa yang bisa disebut sebagai Perang Saudara Emak-emak Jilid Lampung.

Satu kubu berteriak, "Tunjukkan ijazah!"

Kubu lain menjawab, "Pak, sini dulu selfi!"

Polisi yang berjaga sampai ratusan personel mungkin mulai mempertanyakan pilihan karier mereka. Karena menghadapi demonstran biasa masih ada SOP.

Menghadapi emak-emak? SOP-nya mungkin hanya satu, "Tetap tenang, jangan menyela, jangan membantah, dan jangan sekali-kali mengatakan, iya, Bu."

Lalu lintas pun tersendat. Bukan semata-mata karena jalan sempit.

Tetapi karena warga sengaja memperlambat kendaraan demi menyaksikan tontonan gratis yang lebih seru daripada sinetron prime time.

Di kiri ada prosesi adat. Di kanan ada demonstrasi. Di tengah ada polisi. Di belakang ada pedagang es.

Lengkap. Tinggal masukin komentator Pildun. "Baginda bergerak dari sisi kiri lapangan! Emak-emak menekan tinggi! Spanduk dinaikkan! Polisi bertahan! Penonton bersorak! Ini luar biasa!"

Puncak ironi memang terasa nikmat. Seseorang baru saja memperoleh gelar Baginda Pemuka Bangsa, gelar yang lahir dari adat, simbol kehormatan, dan legitimasi budaya.

Tetapi sebagian masyarakat tetap berkata, "Baginda nanti dulu, Pak. Fotokopi legalisirnya mana?"

Mungkin inilah negeri MBG. Negeri yang bisa menggabungkan kerajaan adat, demokrasi jalanan, teori konspirasi, nostalgia politik, budaya selfie, kemacetan, dan semangat emak-emak menjadi satu paket hiburan nasional.

Kalau Shakespeare hidup di Indonesia, dia mungkin pensiun jadi penulis drama. Karena negeri ini sudah menulis naskahnya sendiri.

Kita semua, suka tidak suka, hanyalah penonton yang kebagian kursi paling depan sambil menyeruput kopi malam minggu.

Selamat datang di republik yang tidak pernah kekurangan bahan tertawaan. Besok mungkin ada lagi.

Siapa tahu gelar berikutnya adalah Baginda Pemuka Semesta, tetapi tetap ditanya, "Pak, ijazah pramukanya masih ada, kan?"

Begitulah negeri +62. Selalu berhasil membuktikan, politik kita bukan sekadar kontestasi kekuasaan. Tetapi juga festival komedi terbesar di Asia Tenggara.

"Bang, siapa sih yang gerakkan emak-emak demo Jokowi tu?"

"Saya sih tahu, wak. Cuma pura-pura tak tahu aja." Ups

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Pengusaha Keberatan Masa Kerja Karyawan Kontrak Dipangkas jadi Empat Tahun

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

UPDATE

Mantan Menpora Dito Ariotedjo Hadir Bersama Habib Jindan di Safari Sholawat Lombok

Senin, 12 Oktober 2026 | 22:08

PLN Siapkan Integrasi EBT PLTP Wayang Windu Unit 3 ke Sistem Kelistrikan Jabar

Senin, 12 Oktober 2026 | 21:54

Gaduh Dugaan Aturan Selundupan, Doli Sentil Hasyim: Jabatan Komisaris Hadiah dari Siapa?

Senin, 12 Oktober 2026 | 21:44

Sertijab Menlu, Arrmanatha Tegaskan Arah Polugri Indonesia Tidak Berubah

Senin, 12 Oktober 2026 | 21:28

Kades Ciangsana Bakal Mediasi Polemik Bangunan 480 Meter Persegi di Coatesville

Senin, 12 Oktober 2026 | 21:07

Bank Jakarta dan PAM Jaya akan Melantai di Bursa, Ini Respons Senator Fahira

Senin, 12 Oktober 2026 | 20:37

Berat Langkah IHSG Kembali ke 9.000, Saham Konglo Tak Akan Bangkit?

Senin, 12 Oktober 2026 | 20:28

Danantara Diandalkan Pacu Pertumbuhan Ekonomi 7 Persen

Senin, 12 Oktober 2026 | 20:22

AMDK dan Komoditas Mamin Harus Dikecualikan dalam Pelarangan Truk Sumbu 3

Senin, 12 Oktober 2026 | 20:21

Komisi II Buka Peluang RDP Bahas Putusan MK pada Gibran

Senin, 12 Oktober 2026 | 20:02

Selengkapnya