Berita

Salah satu individu orang utan kalimantan tampak sigap memeluk dan memanjat pohon sesaat setelah pintu kandang transportasinya dibuka di kawasan Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat, Kutai Timur. (Foto: Istimewa)

Nusantara

Dari Kandang ke Kanopi Hutan: Tiga Orangutan Hasil Rehabilitasi Kembali ke Alam Liar

LAPORAN: AWALUDDIN JALIL*
SABTU, 27 JUNI 2026 | 18:45 WIB

Pintu kandang besi itu terbuka perlahan. Eboni, orang utan betina, sempat berhenti sejenak di ambangnya sebelum akhirnya meraih batang pohon terdekat dan memanjat naik. 

Tak jauh dari sana, sekitar satu kilometer menyusuri lebatnya hutan, giliran Ruby yang dilepaskan dari kandangnya. 

Sementara Bagus, satu-satunya orangutan jantan di antara ketiganya, mendapat wilayahnya sendiri di seberang sungai, terpisah daratan sekitar 500 meter dari kedua rekannya.


Selasa, 23 Juni 2026, menjadi hari yang ditunggu lama bagi ketiga orang utan kalimantan (Pongo pygmaeus morio) ini. 

Di kawasan Sungai Hagar, anak Sungai Menyuq yang mengalir di dalam Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat, Kecamatan Busang, Kabupaten Kutai Timur, Eboni, Bagus, dan Ruby resmi kembali ke habitat yang selama bertahun-tahun tidak pernah mereka kenal.

Pelepasliaran ini digagas oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur bersama KPHP Kelinjau dan Centre for Orangutan Protection (COP), sekaligus menjadi bagian dari rangkaian kegiatan menjelang Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) yang jatuh setiap 10 Agustus.

Kembalinya ketiganya ke alam liar bukan perkara mudah. Saat pertama diselamatkan dari tangan warga, Bagus, Eboni, dan Ruby sama sekali tidak tahu cara hidup sebagai orangutan. 

Terlalu lama dipelihara manusia membuat mereka asing dengan habitatnya sendiri. Mereka takut memanjat, tidak mengenali sumber pakan di hutan, bahkan tidak bisa membangun sarang untuk tidur.

Bagus adalah yang pertama dievakuasi, pada September 2020 dari Desa Merabu, Berau. Disusul Eboni yang diselamatkan dari Desa Long Beliu pada April 2022, lalu Ruby pada April 2024 dari Desa Persiapan Sekurau Atas, Kutai Timur.

Ketiganya kemudian menjalani rehabilitasi di pusat Borneo Orangutan Rescue Alliance (BORA) di Berau. Di sanalah mereka diajarkan kembali menjadi orangutan. Mulai dari pemeriksaan kesehatan, latihan memanjat dan mencari pakan di Sekolah Hutan, hingga diuji selama empat bulan di pulau pra-pelepasliaran tanpa bantuan manusia. 

Proses ini tidak sebentar, tergantung masing-masing individu, dibutuhkan waktu dua hingga enam tahun sebelum mereka dinyatakan siap. 

Setelah ketiganya dinyatakan lolos dokumen kesiapan satwa, penilaian formal atas kondisi perilaku dan kesehatan mereka, barulah jadwal pelepasliaran bisa ditetapkan.

Kepala Balai KSDA Kaltim, M. Ari Wibawanto, mengatakan proses memulihkan insting satwa eks-peliharaan membutuhkan kesabaran dan waktu yang tidak singkat.

"Proses rehabilitasi ini adalah jalan yang sangat panjang. Dulu mereka kehilangan naluri liarnya karena lama berinteraksi dengan manusia," kata Ari dikutip Sabtu 27 Juni 2026.

Keberhasilan ini, lanjutnya, tidak lepas dari kerja sama antara BKSDA Kaltim, BP2SDM Wilayah V Samarinda, Dinas Kehutanan Provinsi Kaltim melalui KPHP Kelinjau, COP, serta masyarakat lokal di sekitar kawasan hutan.

Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat sendiri bukan lokasi baru bagi kegiatan semacam ini. Kawasan yang dikelola bersama KPHP Kelinjau dan dinilai aman dengan ketersediaan pakan yang melimpah ini sudah menjadi wilayah rujukan pelepasliaran selama empat tahun terakhir. Total 18 individu orang utan telah dilepas di kawasan yang sama.

Meski ketiga orang utan itu kini sudah jauh di atas kanopi, tugas tim di lapangan belum selesai. Widi Nursanti, Manager Pusat Rehabilitasi Orangutan COP, mengatakan timnya langsung mendirikan kamp di dalam hutan untuk mengawal hari-hari awal Bagus, Eboni, dan Ruby.

"Tim monitoring COP akan langsung tinggal di hutan untuk melakukan pemantauan melekat selama tiga bulan ke depan. Kami akan catat pergerakannya, apa saja yang mereka makan, bagaimana mereka membuat sarang, untuk memastikan mereka benar-benar aman dan bisa bertahan hidup dalam jangka panjang," ujar Widi.

Pelepasliaran Bagus, Eboni, dan Ruby ini menjadi yang ke-18 dalam empat tahun terakhir di kawasan Gunung Batu Mesangat. Bagi Ari, momen ini juga punya makna tersendiri menjelang peringatan tahunan yang tinggal beberapa pekan lagi.

"Ini juga menjadi salah satu kado kita menuju Hari Konservasi Alam Nasional pada Agustus nanti," pungkasnya..

*Kontributor Kalimantan Selatan

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Tiket Jakarta Fair Tidak Ramah Kantong Rakyat Berpenghasilan Rendah

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:21

UPDATE

Penumpang Melonjak di Libur Sekolah, Whoosh Hadirkan Promo Wisata

Sabtu, 27 Juni 2026 | 19:57

Razman Dieksekusi

Sabtu, 27 Juni 2026 | 19:29

Purbaya Bantah Restitusi Pajak Ditahan, Tuding Ada Permainan Oknum DJP

Sabtu, 27 Juni 2026 | 18:51

Dari Kandang ke Kanopi Hutan: Tiga Orangutan Hasil Rehabilitasi Kembali ke Alam Liar

Sabtu, 27 Juni 2026 | 18:45

Perjalanan Tengkar KH Miftachul Akhyar

Sabtu, 27 Juni 2026 | 17:52

Punya Integritas, Zulhas Lantik Uya Kuya Pimpin PAN Jakarta

Sabtu, 27 Juni 2026 | 17:34

Terus Meningkat, Mayoritas Publik Tak Puas Kinerja Wapres Gibran

Sabtu, 27 Juni 2026 | 17:22

Dikuasai Gaya Hidup, Pasar Indonesia Diincar Asing

Sabtu, 27 Juni 2026 | 16:41

Polisi Tangkap Perantara Jual Beli Sabu 1 Kg di Pasar Baru

Sabtu, 27 Juni 2026 | 16:29

JK Resmikan Pembangunan Masjid Hajjah Yuliana Bekas Kantor Polisi di Melbourne

Sabtu, 27 Juni 2026 | 16:00

Selengkapnya