Berita

Gedung Kementerian Perindustrian (Kemenperin) (Foto: Istimewa)

Bisnis

Pemerintah Tepis Isu Relokasi Industri Otomotif Jatim

RABU, 24 JUNI 2026 | 14:34 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) memastikan kabar mengenai relokasi fasilitas produksi dua perusahaan komponen otomotif di Jawa Timur ke Vietnam tidak sesuai dengan kondisi saat ini. 

Hasil penelusuran pemerintah menunjukkan kedua perusahaan masih menjalankan operasional secara normal di Indonesia dan belum memiliki rencana memindahkan kegiatan produksinya ke luar negeri.

Juru Bicara Kemenperin, Febri Hendri Antoni Arif, mengatakan Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita telah memerintahkan Direktorat Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) untuk menelusuri informasi yang beredar terkait dugaan relokasi PT JAI dan PT SAI, termasuk isu pemutusan hubungan kerja (PHK).


“Pada Ahad sore (21/6/2026), Bapak Menteri Perindustrian telah memerintahkan Dirjen ILMATE untuk menelusuri kebenaran informasi relokasi perusahaan industri komponen otomotif dari Indonesia ke Vietnam. Mempertimbangkan kehati-hatian dan sensitivitas isu ini bagi industri dan investasi asing pada sektor industri otomotif Indonesia, maka pada hari ini kami menyampaikan temuan lapangannya kepada publik,” ujar Febri di Jakarta, dikutip Rabu 24 Juni 2026. 

PT JAI diketahui beroperasi di Kabupaten Pasuruan, sedangkan PT SAI berada di Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Kedua perusahaan juga tercatat aktif menyampaikan laporan kegiatan industri melalui Sistem Informasi Industri Nasional (SIINas) sesuai ketentuan yang berlaku.

Berdasarkan konfirmasi yang diperoleh Kemenperin dari pihak perusahaan, fasilitas produksi PT JAI dan PT SAI masih beroperasi seperti biasa. Perusahaan juga menegaskan tidak terdapat rencana pemindahan fasilitas produksi ke Vietnam maupun pengurangan tenaga kerja.

“Berdasarkan hasil penelusuran kebenaran informasi ini, kami dari Kementerian Perindustrian sementara menyimpulkan bahwa pertama, belum ada rencana relokasi fasilitas produksi PT JAI dan PT SAI dari Indonesia ke Vietnam. Kedua, tidak ada pengurangan tenaga kerja atau PHK pada dua perusahaan industri tersebut,” ungkap Febri.

Kemenperin menilai isu relokasi yang berkembang telah berdampak terhadap aktivitas bisnis kedua perusahaan. Sejumlah pembeli (buyer) dan pemasok (supplier) disebut mempertanyakan kebenaran informasi tersebut serta komitmen perusahaan dalam memenuhi kontrak kerja sama ke depan.

“Pemberitaan masif terhadap relokasi dan PHK pada dua industri di Jatim ini telah berdampak terhadap rantai pasok industri otomotif dan iklim investasi manufaktur Indonesia, terutama pada dua perusahaan industri komponen otomotif ini,” kata Febri.

Dari sisi investasi, PT JAI dan PT SAI telah merealisasikan investasi lebih dari Rp1,9 triliun. Nilai investasi tersebut dinilai mencerminkan komitmen jangka panjang perusahaan dalam mendukung penguatan industri manufaktur nasional dan rantai pasok otomotif domestik.

“Nilai investasi yang telah direalisasikan menunjukkan kepercayaan dan komitmen perusahaan untuk terus mengembangkan usaha dan investasinya di Indonesia,” ujar Febri.

Kinerja produksi kedua perusahaan juga masih menunjukkan tren positif. Pada kuartal I 2026, PT SAI memproduksi sekitar 1,2 juta unit komponen, sedangkan PT JAI menghasilkan sekitar 1,6 juta unit komponen. Seluruh produksi tersebut ditujukan untuk pasar ekspor, menjadikan keduanya bagian dari rantai pasok global industri otomotif.

Kemenperin menegaskan akan terus memantau perkembangan industri nasional, termasuk menyiapkan langkah mitigasi cepat terhadap perusahaan yang mengalami gangguan permintaan maupun hambatan rantai pasok agar penutupan pabrik dan PHK dapat dicegah.

“Menteri Perindustrian telah memerintahkan jajarannya untuk terus memonitor kinerja seluruh industri dan melakukan langkah mitigasi cepat dan terukur terhadap industri yang mengalami gangguan pada rantai pasok dan permintaan,” ujar Febri.


Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Dua Tahun Cukup bagi Prabowo Mengasuh Geng Solo

Selasa, 13 Oktober 2026 | 13:43

UPDATE

Bursa Asia Tertekan, Kospi Anjlok Lebih 2 Persen

Jumat, 23 Oktober 2026 | 08:33

Ekonom Sentil Menteri Prabowo: Jangan Jadi Beban Presiden!

Jumat, 23 Oktober 2026 | 08:21

Wall Street Tertekan Aksi Jual Saham Teknologi

Jumat, 23 Oktober 2026 | 07:56

Lonjakan Minyak Tekan Logam Dunia: Emas Anjlok ke Level Terendah

Jumat, 23 Oktober 2026 | 07:45

Saham BYAN Tancap Gas, Naik 3,16 Persen ke Rp10.600

Jumat, 23 Oktober 2026 | 07:22

Penguatan IHSG Sinyal Kepercayaan ke Pemerintah Mulai Pulih

Jumat, 23 Oktober 2026 | 07:10

Pasar Eropa Merah Gara-gara Minyak

Jumat, 23 Oktober 2026 | 07:06

Terbuka Peluang Bangun Museum Haji Indonesia

Jumat, 23 Oktober 2026 | 06:58

Pujian Prabowo Jangan Jadi Obat Tidur Menteri

Jumat, 23 Oktober 2026 | 06:57

Pemerintah Harus Berlakukan Wajib Halal pada Oktober 2026

Jumat, 23 Oktober 2026 | 06:19

Selengkapnya