Berita

Yudhie Haryono memegang buku 'Konsolidasi Kebangsaan'. (Foto: Dokumentasi Penulis)

Resensi

Merekonstruksi Ulang Konsolidasi Kebangsaan

SELASA, 23 JUNI 2026 | 05:18 WIB

JUDUL buku: Konsolidasi Kebangsaan.
Penulis: Mochtar Pabottingi.
Editor/Penyusun: Riwanto Tirtosudarmo.
Penerbit: LP3ES, Jakarta.
Tahun terbit: 2025 (cet.1).
Tebal: xv + 213 halaman.

Tebal: xv + 213 halaman.
ISBN: 978-634-7080-10-3.
Harga: Rp. 99.000,-

Mencandra pikiran dan projek Prabowo. Inilah riset utama Nusantara Centre selama satu tahun (Mei 2025-Mei 2026). Riset yang disusun dengan membandingkan semua buku karya Prabowo dengan lima buku utama terpilih: (1) The Great Delusion: Liberal Dreams and International Realities, karya John J. Mearsheimer; (2) Konsolidasi Kebangsaan, karya Mochtar Pabottingi; (3) The End of The Free Market, karya Ian Bremmer; (4) Ekonomi Politik Oligarki dan Pengorganisasian Kembali Kekuasaan di Indonesia, karya Vedi R Hadiz dan Richard Robison; (5) Ekonomi Politik Pancasila, karya Yudhie Haryono, dkk. Perbandingan isi buku-buku ini juga menjadi sumber utama lahirnya rancangan undang-undang sistem perekonomian nasional yang sedang bergulir di masyarakat.

Artikel ini merupakan resensi dari buku kedua. Buku yang kami bedah untuk melihat bagaimana kebangsaan kita menikam mati kolonialisme purba dan neoliberalisme modern. Buku yang merekomendasikan fungsi substantif kenegaraan untuk pemerintahan presiden Prabowo dkk.

Tentu saja ini sangat penting, sebab kita sedang merumuskan ulang langkah-langkah strategis untuk mengkonsolidasikan kembali kenusantaraan (kebangsaan) dan kenegaraan (keindonesiaan) serta pemahaman tentang modern nation-state (negara-bangsa modern) belandaskan Pancasila, demi derajat substantif di semesta.

Dalam konteks itu, tema-tema yang diangkat dalam buku ini adalah soal Pancasila, kebudayaan, bahasa, politik, demokrasi, KKN dan kepemimpinan nasional. Ini menunjukkan luasnya horizon pemikiran dan dalamnya cinta Mochtar Pabottingi kepada negeri ini. Satu perasaan memiliki dan merawat republik sebagai ciri patriot dan negarawan-pemikir serta pemikir-negarawan. Satu spesies langka di zaman kalabendu.

Lebih dari pada itu, Mochtar Pabottingi tidak hanya berhasil membedah masalah-masalah penting dan luka yang kian kompleks, menganga bahkan busuk menggunakan pisau analisis yang tajam, tapi sekaligus menawarkan obatnya: konsolidasi kebangsaan. Tanpa konsolidasi, bangsa ini akan punah; negara kita akan remuk; pemerintahan kita binasa; rakyat kembali paria.

Secara garis besar, buku ini cukup jenius saat menganalisa fenomena merosotnya lima hal: (1) kualitas kepemimpinan nasional; (2) meluasnya politik transaksional; (3) memudarnya komitmen moral terhadap cita-cita luhur kemerdekaan; (4) KKN yang merajalela; (5) mewabahnya demokrasi pasar liberal. Lima yang datang bersamaan tanpa diundang dan tak sudi pergi.

Dengan tekun, Mochtar Pabottingi menggunakan metoda hibrida, pikiran yang luas dan kedalaman hati untuk membedah problem kebangsaan melalui beberapa kluster tema utama guna menjawab lima hal di atas.

Pertama, ia mengajukan gagasan revitalisasi Pancasila dan kebudayaan Indonesia. Caranya, dengan mengembalikan Pancasila bukan sekadar jargon politik, melainkan sebagai fondasi etis bermasyarakat, ideologi negara dan alat pemersatu. Menurutnya, "negara yang berideologi adalah negara yang memutuskan untuk menghabisi warisan keburukan masa lalu dengan gagasan baru yang dikandung oleh ideologinya" (hlm. 3).

Kedua, ia mengkritik otoritarianisme dan oligarki serta menelanjangi sisa-sisa watak Orde Baru dan dominasi kekuatan modal yang mengangkangi sistem demokrasi pasca-reformasi. Saat oligarki merubah diri dari sentralitas ke desentralitas, sesungguhnya menurut Mochtar, "menjadi fakta bahwa musuh kita hanya ganti baju saja" (hlm. 15). Tanpa mencandra hal ini, kita rabun sejarah dan amnesia penjajah.

Ketiga, menyucikan bahasa dan politik. Ini lahir karena ia menyoroti bagaimana bahasa politik kerap dimanipulasi untuk mengaburkan kebenaran demi melanggengkan kekuasaan. Banyak isi kampanye hanya "kebohongan yang dilegalkan" sehingga rakyat sulit menagihnya" (hlm. 45). Ini terjadi di setiap zaman dan rezim. Kerja menyucikan bahasa dan politik menjadi kelaziman jika sekitar kita tak mau berkarat.

Keempat, peremajaan etika kepemimpinan. Ia menekankan pentingnya "konsolidasi kebangsaan" yang bertumpu pada nalar sehat dan kepemimpinan yang takut akan kehancuran moral bangsanya sendiri. Tentu ini sesuatu yang belum terjadi di zaman reformasi. Rerata kepemimpinan kita lahir dari tata dan kurikulum transaksi, minus kecakapan kebangsaan, minus etika, defisit moralitas.

Kelima, menghabisi KKN. Ia meyakini bangsa dan negara ini remuk redam oleh bahaya laten korupsi. Maka, cara mengatasi praktik KKN dalam pemerintahan harus komprehensif, termasuk digitalisasi layanan, penguatan sistem pengawasan dan penegakan hukum, pengelolaan konflik kepentingan, serta membangun budaya transparansi melalui edukasi dan peran aktif masyarakat.

Kelima tawaran konsolidasi ini penting segera dikerjakan oleh siapapun dan di manapun. Terlebih jika kita punya program nasional reclaim the markets seperti amanat konstitusi. Karena itu, rekonstruksi ulang program konsolidasi kebangsaan harus segera kita kerjakan. Tanpa itu, jangan harap negara Pancasila ada dan terealisasi.

Tentu, bagi pemerintahan presiden Prabowo-Gibran, buku ini bukan sekadar rekaman kritik ekonomi-politik, melainkan "surat wasiat negarawan" yang mengingatkan kita untuk merawat kewarasan dan merealisasikannya di kehidupan publik.

Yudhie Haryono 
Rektor Universitas Nusantara



Populer

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

Prabowo Diminta Tindak Tegas Kelompok yang Masih Persoalkan Hasil Pilpres 2024

Selasa, 22 September 2026 | 23:16

DPRD DKI Bakal Panggil Dishub Buntut Tarif Valet Tembus Rp250 Ribu

Minggu, 27 September 2026 | 14:20

UPDATE

Jadi Menperin, Sarmuji Tegaskan akan Lanjutkan Rintisan Agus Gumiwang

Jumat, 02 Oktober 2026 | 12:23

Mengenang Warisan Luhur Pesona Batik Tulungagung di Hari Batik Nasional

Jumat, 02 Oktober 2026 | 12:16

Ketua KPK Ucapkan Selamat kepada Kapolri Jenderal Suyudi, Dorong Sinergi Pemberantasan Korupsi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 12:10

MUI: Jangan Sampai Konser “Till The Whole World Knows” Jadi Sarana Propaganda Zionisme

Jumat, 02 Oktober 2026 | 12:10

BEI Awasi Pergerakan Tiga Saham yang Masuk Radar UMA

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:49

KPK Ungkap Besaran Uang Silmy Karim ke Dosen UB Saat Bimbingan Doktoral

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:25

Garuda Tantang Gajah Perang di Final FIFA ASEAN Cup 2026

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:25

Emas Antam Mulai Turun Hari Ini, Intip Daftar Lengkapnya

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:14

Dua Tahun Danantara, Efisiensi BUMN Digenjot untuk Kejar Pertumbuhan

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:02

Harga Minyak Naik Lagi ke Level 102 Dolar AS

Jumat, 02 Oktober 2026 | 10:59

Selengkapnya