Berita

Ilustrasi. (Foto: Istimewa)

Publika

Setelah Iran Paksa AS Menyerah, sepertinya Rusia Dipaksa Tunduk oleh Ukraina

SENIN, 22 JUNI 2026 | 12:34 WIB

DUA negara bertetangga Ukraina vs Rusia masih perang. Sementara Iran dan Amerika sudah damai. 

Iran ini muncul seperti karakter “kuda hitam” di game strategi global, tidak banyak bicara, tapi begitu bergerak langsung bikin lawan kena mental damage. 

Hasilnya? Amerika Serikat dibuat ngos-ngosan dalam perang 109 hari sampai akhirnya duduk manis tanda tangan perjanjian. 


Presiden Trump yang dari awal gaya “penyerahan tanpa syarat” akhirnya seperti habis debat tapi sadar kalah argumen, tetap ngotot bilang itu kemenangan AS, padahal realitanya lebih mirip “menang versi spin politik”.

Iran dapat 300 miliar dolar. Bukan recehan, wak. Itu angka yang kalau jatuh bisa bikin gempa finansial. Iran bisa jual minyak lagi. Iran buka Selat Hormuz. Bahkan info terbaru, selat itu sempat dibuka, lalu ditutup lagi, gara-gara Israel ngebom Lebanon. 

AS malah kena kritik dari senatornya sendiri. Ini bukan kemenangan versi Hollywood, ini kemenangan versi, “fakta di lapangan tidak bisa dibantah walau dipelintir kamera.”

Lalu kita masuk ke bab berikutnya… dan ini lebih brutal, yakni Rusia. Beruang merah yang biasanya jadi simbol “jangan macam-macam sama saya”, sekarang kelihatan seperti baru bangun tidur tapi alarmnya nggak bunyi.

Ukraina yang dulu sering diremehkan sebagai “anak bawang”sekarang berubah jadi anak bawang yang pegang blender industri militer. Hasilnya? Halus, tapi mematikan.

Nuan bayangkan, kilang minyak Moskow di Kapotnya diserang dua kali dalam seminggu. Lokasinya cuma 15 kilometer dari Kremlin. Iya, 15 kilometer dari pusat kekuasaan Rusia. Itu jarak yang kalau naik motor bisa sambil mikir “ini kalau belok salah bisa masuk sejarah dunia”.

Drone Ukraina datang seperti hantu digital. Terbang jauh, nembus empat lapis pertahanan udara, melewati puluhan bahkan ratusan sistem Pantsir yang katanya super ketat, super canggih, super “anti semua ancaman” ternyata masih bisa ditembus juga. Boom, kilang terbakar. Asap hitam naik ke langit Moskow seperti tanda “ini perang sudah masuk halaman rumah”.

Warga melapor hujan minyak. Hujan, wak. Bukan hujan air, hujan minyak. Baju jadi motif abstrak. Mobil berubah jadi lukisan kontemporer. Menteri mungkin cuma bisa duduk diam sambil mikir: “ini manual book pertahanan kita ketinggalan update apa gimana?”

Lalu datang momen legendaris, 16 Juni. Ini bukan serangan biasa. Ini sudah level “orkestra drone”. Ada 555 drone Ukraina diluncurkan serentak. Angka ini bukan typo. Lima ratus lima puluh lima. Seperti undian, tapi yang keluar bukan hadiah, melainkan kekacauan strategis.

Ada 200 di antaranya langsung mengarah ke Moskow. Lagi-lagi, targetnya cuma 15 kilometer dari jantung pemerintahan. Ini bukan lagi perang di front, ini sudah “ketukan pintu rumah sambil bawa masalah”.

Kilang minyak yang menyuplai 50 persen kebutuhan diesel ibu kota ikut terbakar. Separuh. Separuh bahan bakar kota. Truk tangki meledak di jalan. Jembatan kereta api di Kanal Krimea Utara ikut dihajar.

Staf umum Ukraina bilang semua target strategis disikat. Ini bukan perang lagi, ini operasi “hapus infrastruktur penting secara sistematis”.

Di Moskow, suasana mulai absurd. Sopir-sopir panik bukan karena macet, tapi karena bensin mulai jadi barang “edisi langka”. Tank-tank di medan perang mulai mogok. Bukan karena kalah tembak, tapi karena kalah logistik. Ini ironi tingkat tinggi, mesin perang besar, tapi kehabisan darahnya sendiri.

Ini puncak absurditasnya, prajurit Rusia mulai nego sama tukang ojek pangkalan. “Bang, nitip pertalite lima liter.” Ini bukan adegan komedi. Ini realita perang modern yang terlalu absurd untuk dijelaskan dengan logika lama.

Rusia tentu tidak diam. Balasan datang dengan gaya klasik, api dibalas api. Sumy dihantam bom dan rudal. Dua orang tewas, dua luka-luka. Kharkiv kena serangan, sembilan orang butuh bantuan medis, empat di antaranya anak-anak. Ini sisi paling gelap, di balik strategi dan angka, selalu ada tubuh jatuh di tanah yang sama.

Tapi Ukraina tidak berhenti. Serangan ke fasilitas logistik Rusia terus jalan. Truk tangki meledak. Kereta api macet. Stasiun bahan bakar terbakar. Tank-tank mulai mogok. Sistem logistik Rusia seperti dipukul satu per satu, bukan sekaligus, tapi konsisten, seperti cicilan tekanan tanpa bunga.

Lalu datang babak ekonomi perang, Uni Eropa. Paket sanksi ke-21. Ini bukan sekadar sanksi, ini sudah seperti menu restoran yang tidak ada ujungnya.

Ada 30 kapal tanker masuk daftar hitam. Total 632 kapal kena sanksi. Ada 31 bank Rusia dibekukan, 20 bank dan pedagang minyak di negara ketiga ikut kena imbas. Transaksi kripto dilarang total. Ekspor komponen drone dipotong. Impor logam dan suku cadang mobil dilarang. Sektor perikanan kena juga, ikan kod pun ikut jadi korban geopolitik. Igor bayangkan ikan saja sudah kena embargo.

Rusia sekarang seperti beruang yang dipaksa diet ekstrem. Mau makan susah, mau lari berat, mau marah tapi tenaga sudah habis duluan.

China masih beli minyak Rusia, tapi barang yang balik sering kualitas “versi ekonomis ekstrem” jalan tapi sering ngelag. India juga mulai berhitung. Semua negara mulai berpikir dingin, lebih aman ikut siapa, yang terlihat kuat, atau yang terbukti bertahan?

Di Kremlin, suasana mungkin tidak seramai itu, tapi terasa berat. Putin duduk dengan teh di tangan. Tapi tehnya dingin. Bukan karena lupa diminum, tapi karena terlalu banyak yang dipikirkan. Drone, kilang terbakar, sanksi, logistik runtuh, sekutu mulai ragu.

Perang ini sudah bukan soal nuklir, bukan soal jumlah tank, bukan soal parade militer. Ini soal siapa paling adaptif di medan yang berubah setiap hari.

Sampai hari ini, Ukraina masih berdiri, belum ada tanda-tanda menyerah walau ibukotanya terus dibombardir Rusia. Moskow masih sesekali terbakar. Dunia masih menonton sambil geleng kepala.

Ini bukan perang biasa. Ini drama geopolitik abad 21 yang absurd, brutal, kreatif, dan kadang terlalu nyeleneh untuk dipercaya… tapi nyata.

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

UPDATE

KPK Sita Dokumen dan BBE Usai Geledah Rumah Mewah Anggota Polri Yayat Sudrajat

Kamis, 10 September 2026 | 20:17

Pendalaman Fakta dan Penegakan Hukum Transparan Diperlukan di Kasus DJKA

Kamis, 10 September 2026 | 20:12

Tim 9 Kejagung Temukan Bukti Pemerasan Febrie di Kasus Jiwasraya

Kamis, 10 September 2026 | 20:05

Konsisten Perkuat Investasi Berkelanjutan, DPLK BRI Raih Kehati ESG Award 2026

Kamis, 10 September 2026 | 19:58

Waketum Golkar: Prabowo Konsisten Satukan Berbagai Warna Politik untuk Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 19:50

Rombak Ratusan Pejabat, Purbaya Minta Kemenkeu Bergerak Lebih Cepat

Kamis, 10 September 2026 | 19:40

Iwakum Dorong Pengerahan Maksimal Cari Lima Jurnalis Hilang di Selat Sunda

Kamis, 10 September 2026 | 19:31

Menyoal Kasus Dadan Cs, JMI: Jangan Ramai di Awal, Lalu Hilang di Tengah Jalan

Kamis, 10 September 2026 | 19:14

Polisi Siap Sikat Penimbun Masker di Tengah Erupsi Gunung Anak Krakatau

Kamis, 10 September 2026 | 19:01

Pembagian 50:50 Kuota Haji Tambahan Ternyata Kebijakan Gus Yaqut

Kamis, 10 September 2026 | 18:45

Selengkapnya