Berita

Ketua Harian DPP PSI Ahmad Ali (kiri) dan Ketua Umum Kaesang Pangarep. (Foto: Instagram pribadi Ahmad Ali)

Politik

Bajak Kader Partai Lain, PSI Dinilai Tetap Berpotensi Jadi Partai Gurem

SENIN, 22 JUNI 2026 | 09:43 WIB | LAPORAN: FAISAL ARISTAMA

Langkah Partai Solidaritas Indonesia (PSI) merekrut lebih dari 10 kader dari berbagai partai politik dinilai tidak serta-merta mampu meningkatkan kekuatan elektoral partai tersebut pada Pemilu Legislatif (Pileg) 2029.

Pengamat komunikasi politik dari Universitas Esa Unggul, M. Jamiluddin Ritonga, menilai pernyataan Ketua Harian DPP PSI, Ahmad Ali, mengenai bergabungnya kader dari partai lain justru menunjukkan adanya persoalan kaderisasi di internal PSI.

"Pengakuan Ahmad Ali itu menunjukkan rasa bangganya PSI mampu membajak kader partai lain. Ahmad Ali ingin menampilkan PSI sebagai partai yang lebih menarik, lebih terbuka, dan memiliki masa depan yang lebih baik," kata Jamiluddin kepada wartawan, Senin 22 Juni 2026. 


Namun, menurut Jamiluddin, di balik kebanggaan tersebut tersimpan persoalan yang lebih mendasar.

"Padahal, di balik kebanggaan itu sesungguhnya terdapat kegagalan kaderisasi di PSI. Bahkan, kondisi tersebut mengindikasikan bahwa PSI sedang mengalami krisis figur," ujarnya.

Ia menilai krisis figur tersebut bahkan menyentuh posisi ketua umum. Menurutnya, hal itu menjadi salah satu alasan penunjukan Ahmad Ali sebagai Ketua Harian DPP PSI.

"Biasanya ketua harian ditunjuk ketika ketua umum memiliki kesibukan yang sangat tinggi. Namun, Kaesang Pangarep tidak termasuk dalam kategori tersebut," katanya.

Jamiluddin berpandangan, dengan komposisi kepemimpinan dan kader yang dimiliki saat ini, PSI belum cukup percaya diri untuk meningkatkan perolehan suara secara signifikan hingga mampu lolos ke DPR RI pada Pileg 2029.

Karena itu, kata dia, PSI memilih langkah yang lebih pragmatis dengan merekrut kader dari partai lain yang dinilai telah memiliki modal sosial, tingkat popularitas, dan basis pendukung.

"PSI tidak perlu mengeluarkan sumber daya besar dan waktu yang panjang untuk membentuk kader dari nol. Dalam waktu singkat, PSI bisa mendapatkan kader yang siap bertarung demi memenangkan partai pada Pileg 2029," jelasnya.

Meski demikian, Jamiluddin meragukan efektivitas strategi tersebut. Ia menilai sebagian besar tokoh yang bergabung ke PSI bukan figur dengan daya pengaruh elektoral yang kuat.

"Faktanya, nama-nama yang eksodus ke PSI umumnya merupakan sosok biasa. Hanya satu atau dua orang yang berada pada level menengah, seperti Rusdi Masse. Selebihnya adalah mantan bupati, mantan anggota DPR RI, dan mantan pejabat lainnya. Di Indonesia, status mantan, termasuk mantan presiden seperti Joko Widodo, cenderung diikuti penurunan dukungan secara signifikan," paparnya.

Ia menambahkan, karakter pemilih Indonesia yang didominasi kelompok massa mengambang membuat peluang para kader baru membawa dukungan besar ke PSI relatif kecil.

"Jadi, jika PSI mengandalkan kader hasil bajakan untuk bisa masuk Senayan pada Pileg 2029, tampaknya akan gigit jari. PSI akan tetap menjadi partai gurem dan hanya bisa bermimpi seolah-olah sudah berada di Senayan," pungkasnya.


Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

UPDATE

September 2026, Industri Kayu Tertekan Karhutla

Rabu, 30 September 2026 | 20:27

Komisaris Asuransi Tokio Marine Indonesia Dicecar KPK Soal Pencairan Komisi Fiktif Asuransi Pelni

Rabu, 30 September 2026 | 20:26

Prabowo Minta Efisiensi APBN Tetap Terukur demi Kesejahteraan Rakyat

Rabu, 30 September 2026 | 20:26

Insentif Pajak Gaji Karyawan di Bawah Rp10 Juta Berlanjut Hingga 2027

Rabu, 30 September 2026 | 19:51

Bulu Tangkis Sumbang 6 Medali Asian Games, BNI Apresiasi Pembinaan PBSI

Rabu, 30 September 2026 | 19:36

Pancasila, Persatuan, dan Ujian Geopolitik

Rabu, 30 September 2026 | 19:23

33,2 Juta Keluarga Akan Terima Bantuan Beras 10 Kg selama Oktober-Desember

Rabu, 30 September 2026 | 19:12

Pemerintah Siapkan Stimulus Ekonomi Rp31 Triliun di Kuartal IV 2026

Rabu, 30 September 2026 | 19:01

Dakwah Ekonomi Syarikat Islam Sejalan dengan Visi Prabowo

Rabu, 30 September 2026 | 18:34

Pengelolaan Gambut di Riau Jadi Rujukan Badan Baru Bentukan Prabowo

Rabu, 30 September 2026 | 18:28

Selengkapnya