Berita

Program Desa Sehat Bebas Stunting BNI (Foto:RMOLAceh)

Bisnis

Lewat Program Desa Sehat, BNI Berkontribusi Tekan Angka Stunting di Pangalengan

SABTU, 20 JUNI 2026 | 12:20 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) terus menunjukkan kepeduliannya terhadap peningkatan derajat kesehatan masyarakat. 

Komitmen ini diwujudkan melalui peluncuran Program Desa Sehat Bebas Stunting yang berfokus di empat desa di Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, yaitu Desa Sukamanah, Banjarsari, Wanasuka, dan Margamukti.

Aksi sosial yang bernaung di bawah payung "BNI Berbagi" ini dijalankan lewat kolaborasi bersama Puskesmas Sukamanah dan Pemerintah Kecamatan Pangalengan. Target utamanya adalah kelompok masyarakat rentan, meliputi anak-anak yang berisiko stunting, ibu hamil dengan Kurang Energi Kronis (KEK), hingga para remaja putri, melalui penyaluran bantuan pemenuhan gizi serta edukasi kesehatan.


Corporate Secretary BNI, Okki Rushartomo, menegaskan bahwa inisiatif ini merupakan langkah konkret bank pelat merah tersebut dalam mengawal peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia melalui intervensi gizi yang tepat.

“Program Desa Sehat Bebas Stunting ini merupakan wujud kontribusi BNI dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat, khususnya kelompok yang rentan mengalami masalah gizi. Program ini menjadi bagian dari komitmen BNI untuk hadir memberikan manfaat yang nyata dan berkelanjutan bagi masyarakat,” ujar Okki dalam keterangan tertulis, dikutip redaksi di Jakarta, Sabtu 20 Juni 2026.

Dalam implementasinya di lapangan, BNI memberikan dukungan nyata berupa paket pemberian makanan tambahan (PMT) pemulihan yang  disalurkan kepada 65 anak yang berisiko mengalami stunting selama 52 hari nonstop.

Kemudian, paket nutrisi khusus yang diberikan kepada 12 ibu hamil dengan kondisi KEK untuk konsumsi selama 60 hari berturut-turut.

Lalu, tablet tambah darah dan suplemen nutrisi diberikan kepada 50 remaja putri sebagai langkah preventif memutus rantai stunting dari hulu.

Seluruh program intervensi ini didesain berjalan selama tiga bulan, lengkap dengan proses pemantauan dan pendampingan secara berkala demi memastikan hasil yang optimal dan terukur.

Menurut Okki, penanggulangan stunting adalah agenda krusial dalam pembangunan nasional yang tidak boleh ditunda. 

Upaya pencegahan harus dilakukan sedini mungkin agar tidak mengganggu fase tumbuh kembang anak, yang pada akhirnya dapat memengaruhi kualitas SDM masa depan secara jangka panjang.

Pemilihan Kabupaten Bandung sebagai lokus program didasarkan pada data capaian yang masih memerlukan perhatian khusus. Merujuk pada data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024, angka prevalensi stunting di wilayah Kabupaten Bandung berada di angka 24,1 persen, sebuah angka yang masih berada di atas rata-rata Provinsi Jawa Barat.

Tidak sekadar membagikan makanan bernutrisi, Program Desa Sehat Bebas Stunting ini juga diintegrasikan dengan berbagai kegiatan edukatif. Tujuannya adalah memperluas wawasan warga terkait kesehatan keluarga, mengoptimalkan kembali fungsi posyandu, serta membangun ekosistem lingkungan yang suportif bagi tumbuh kembang anak.

BNI menyadari bahwa isu stunting tidak bisa diselesaikan sendirian. Diperlukan kerja sama yang solid antara lini pemerintah, tim medis, sektor swasta, dan partisipasi aktif warga. Oleh sebab itu, program ini mengedepankan pola integrasi yang memadukan edukasi, pendampingan, dan monitoring berkala.

“Sinergi antara dunia usaha, pemerintah, tenaga kesehatan, dan masyarakat menjadi kunci penting dalam menciptakan generasi yang sehat dan berkualitas. Berlandaskan semangat melayani sepenuh hati, BNI akan terus memperluas kontribusinya dalam mendukung pencegahan stunting dan peningkatan kualitas kesehatan masyarakat sebagai bagian dari investasi jangka panjang untuk menyiapkan generasi penerus bangsa yang unggul,” kata Okki.

Melalui konsistensi program BNI Berbagi ini, BNI menegaskan kembali komitmennya bahwa penyiapan SDM unggul harus dimulai sejak dini. Langkah ini diharapkan mampu memberikan dampak positif yang nyata secara langsung sekaligus menyokong visi besar pemerintah menuju Indonesia Emas 2045.

Populer

Keluarga Eks Pangkostrad Kemal Idris Akhirnya Raih Keadilan

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:00

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

Febrie Bisa Diamuk Koruptor Lain Jika Ditahan di Rutan Kejaksaan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:18

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

Jokowi Masih Berperilaku seperti Penguasa RI

Senin, 10 Agustus 2026 | 03:00

UPDATE

Istana Merdeka Menjelma jadi Pusat Pesta Rakyat dan Surga Kuliner UMKM

Jumat, 21 Agustus 2026 | 00:09

Mirza Fakhrul Islam Alamgir Terpilih Jadi Presiden Baru Bangladesh

Kamis, 20 Agustus 2026 | 23:52

Penanganan Bencana NTT Tidak Boleh Ada Kendala Anggaran!

Kamis, 20 Agustus 2026 | 23:38

Penumpang Bus NPM Pembawa Ratusan Vape Etomidate Diringkus Polisi

Kamis, 20 Agustus 2026 | 23:18

PDIP Lepas Kapal RS Apung Laksamana Malahayati ke Lokasi Gempa NTT

Kamis, 20 Agustus 2026 | 22:26

Purbaya Siapkan Rp3 Triliun Insentif untuk Satu Juta Motor Listrik

Kamis, 20 Agustus 2026 | 22:15

DPO Narkoba Club Malam Batam Diringkus saat Mau Kabur ke Malaysia

Kamis, 20 Agustus 2026 | 22:01

Dewan Adat Bamus Betawi Minta Warga Pati Tak Demo di Jakarta

Kamis, 20 Agustus 2026 | 21:30

Gibran Minta Maaf ke Pengungsi Gempa NTT

Kamis, 20 Agustus 2026 | 21:06

Sayembara Ijazah SMA Gibran Tak Mengubah Standar Pembuktian Hukum

Kamis, 20 Agustus 2026 | 21:02

Selengkapnya