Berita

Ilustrasi. (Foto: Dokumentasi RMOL/Istimewa)

Politik

Sikapi Putusan PN Jakpus, Kuasa Hukum PPP Maluku Siap Tempuh Kasasi

SABTU, 20 JUNI 2026 | 04:27 WIB | LAPORAN: ADITYO NUGROHO

Kuasa Hukum PPP Maluku Wahyu Ingratubun menyikapi penggiringan opini yang dilakukan oleh Syarifus Syifaus Syarif selaku Kuasa Hukum Tergugat DPP PPP terhadap Putusan Perkara Nomor 186/Pdt.Sus-Parpol/2026/PN Jakarta Pusat. 

Wahyu menyebut adanya penggiringan opini yang menyesatkan, di mana seakan-akan Majelis Hakim mengesahkan SK Plt. DPW Maluku yang ditandatangani oleh Ketua Umum dan Wakil Sekretaris Jenderal.

“Pertama; Kuasa Hukum Tergugat terlalu gegabah dalam menafsirkan Amar Putusan Pengadilan tanpa memahami lebih jauh terhadap isi pertimbangan hukum Majelis Hakim. Padahal Mejelis Hakim Hanya menilai dari sudut prosedur formil terhadap gugatan bukan dari substansi gugatan. Majelis Hakim dalam amar putusannya tidak menilai tentang keabsahan SK Plt. DPW PPP Maluku yang ditandatangani oleh Ketua Umum dan Wakil Sekretaris Jenderal,” kata Wahyu dalam keterangan yang diterima redaksi di Jakarta, Jumat malam, 19 Juni 2026.
 

 
“Menurut hemat kami Kuasa Hukum tergugat (DPP PPP) perlu belajar mencermati apa itu pertimbangan Majelis Hakim dan tidak perlu perlu membuat narasi yang menyesatkan dengan membuat penafsiran sendiri di luar substansi isi putusan. Padahal Hakim hanya menilai prosedur formil terhadap proses pengajuan gugatan perselisihan internal partai,” tambahnya.
 
Lanjut dia, perbedaan makna gugatan tidak dapat diterima dengan gugatan ditolak. 

“Gugatan Tidak Dapat Diterima (Niet Ontvankelijke Verklaard/NO) dalam hal ini disebabkan karena kurang syarat formil sehingga pokok perkara tidak dijadikan pertimbangan oleh Hakim. Dalam hal ini penggugat masih bisa mengajukan kembali gugatan kembali dengan melengkapi syarat formil tersebut. Berbeda makna apabila gugatan ditolak yang mengandung konsekunsi gugatan tidak dapat diajukan kembali untuk objek dan pihak yang sama,” jelasnya.

“Menimbang bahwa oleh karena Penggugat tidak dapat membuktikan telah menempuh mekanisme penyelesaian sengketa internal partai sebagaimana diwajibkan oleh UU Partai Politik maupun AD ART PPP maka gugatan yang diajukan Penggugat Prematur, sehingga gugatan penggugat tidak dapat diterima,” sambung Wahyu menegaskan.  

Lebih lanjut ia menyarakan bahwa Mahkamah PPP belum terbentuk oleh DPP PPP justru dalam hal ini tergugat sejatinya telah melakukan pelanggaran AD/ART dengan membentuk Tim Penyelesaian Sengketa Internal yang tidak ada satu pasal pun diperintahkan oleh AD/ART PPP.
 
“Bahwa sudah 6 bulan lebih DPP PPP tidak ada Mahkamah Partai, Anggaran Dasar Pasal 58 ayat 2 menjelaskan bahwa susunan Pimpinan dan Anggota Mahkamah Partai itu dibentuk oleh Formatur yang ditetapkan oleh forum Muktamar. Mahkamah Partai atau sebutan lainnya tidak bisa dibentuk oleh DPP PPP,” ungkap dia.

“Kami menilai ada kekurangcermatan Majelis Hakim dalam mengambil keputusan. Terlepas dengan itu, kami tetap menghormati keputusan Majelis Hakim. Namun sebagai warga negara yang taat dan diberikan hak hukum, maka kami akan melakukan upaya hukum lanjutan yaitu dengan mengajukan Kasasi ke Mahkamah Agung,” terang Wahyu.

Berikutnya ia mengimbau kepada kader PPP di seluruh Indonesia secara khusus di Provinsi Maluku agar tidak terpengaruh terhadap penggiringan opini yang menyesatkan atas penafsiran gegabah yang disampaikan oleh Kuasa Hukum tergugat (DPP PPP) Syifaus Syarif. 

“Kami sedang mengkaji konsekuensi hukum terhadap penyebaran opini yang menyesatkan tersebut terhadap dugaan pelanggaran UU ITE. Dengan demikian perlu kami sampaikan bahwa dalam Gugatan pada SK Plt. DPW PPP Maluku ini tidak ada kalah dan menang. Jadi masih ada upaya hukum lanjutan, tunggu saja hingga putusan hukum akhir,” tandas Wahyu.


Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

UPDATE

Jawab Tantangan Digital, Bawaslu Jadikan Kampus Laboratorium Demokrasi

Kamis, 01 Oktober 2026 | 05:54

DPD Ungkap Pola Investor ‘Berjudi’ Properti di Bali, Beli Aset Lalu Jual Lagi

Kamis, 01 Oktober 2026 | 05:24

Denny Indrayana Cs Debat Sengit dengan KPU soal Verifikasi Data Calon

Kamis, 01 Oktober 2026 | 04:50

Nakhoda KM Virgo Transport 8 Langsung Ditahan Penyidik

Kamis, 01 Oktober 2026 | 04:20

Digagas di Era Purbaya, Wacana Insentif Motor Listrik Masih Belum Jelas

Kamis, 01 Oktober 2026 | 03:59

Saksi Denny Indrayana Ungkap Tak Ada Bahasa Verifikasi Faktual Dokumen Capres-cawapres

Kamis, 01 Oktober 2026 | 03:34

Sjafrie Sematkan Tanda Kehormatan ke Tentara Jepang yang Bantu Atasi Karhutla

Kamis, 01 Oktober 2026 | 03:09

Kader PDIP Berpotensi Jabat Wapres Jika Gibran Didiskualifikasi

Kamis, 01 Oktober 2026 | 02:55

TNI Hormati Kejagung Imbas Penetapan Kolonel Budi Tersangka Korupsi MBG

Kamis, 01 Oktober 2026 | 02:42

Kemenperin Dukung Impor KRL Bekas dari Jepang, Ini Alasannya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 02:18

Selengkapnya