Berita

Wapres Gibran Rakabuming Raka meninjau pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMP Negeri 1 Ndona, Kabupaten Ende. NTT. (Foto: Setwapres)

Politik

Ajak Mahasiswa Kunker Wajar Jika Gibran Dituding Pencitraan

JUMAT, 19 JUNI 2026 | 12:41 WIB | LAPORAN: AHMAD ALFIAN

Langkah Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka menerima mahasiswa yang menggelar demonstrasi dan mengajak perwakilan kampus mengikuti kunjungan kerja ke sejumlah daerah dinilai sebagai manuver politik yang wajar dilakukan seorang pejabat publik.

Direktur Parameter Politik Indonesia, Adi Prayitno, menilai setiap langkah politik yang dilakukan elite negara, terlebih oleh seorang wakil presiden, pasti akan menjadi perhatian publik dan memunculkan beragam penilaian.

"Yang dilakukan elite, apalagi wakil presiden, pasti dibicarakan. Kedua, pasti memunculkan perdebatan. Ketiga, tentu menimbulkan pro dan kontra," kata Adi lewat kanal Youtube miliknya, Jumat, 19 Juni 2026.


Belakangan, Gibran menjadi sorotan setelah menerima sejumlah aktivis Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) yang menggelar aksi unjuk rasa.

Dalam pertemuan tersebut, Gibran berdialog langsung dengan mahasiswa dan berjanji pemerintah akan membuka ruang komunikasi politik, menerima berbagai masukan, serta berupaya merealisasikan tuntutan yang disampaikan.

Langkah itu menjadi perhatian karena sebelumnya terdapat kelompok mahasiswa lain yang juga melakukan demonstrasi namun tidak mendapat kesempatan bertemu langsung dengan Gibran.

Tak lama berselang, putra sulung Presiden ke-7 RI itu juga mengajak sejumlah mahasiswa dari berbagai kampus mengikuti kunjungan kerja ke sejumlah daerah, mulai dari Papua hingga Nusa Tenggara Timur. 

Dalam kunjungan tersebut, para mahasiswa diajak meninjau berbagai program strategis pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih.

Menurut Adi, sebagian kalangan mengapresiasi langkah Gibran sebagai bentuk keterbukaan pemerintah terhadap kritik dan aspirasi publik. Namun, ada pula pihak yang menilai langkah tersebut sebagai bagian dari upaya membangun citra politik menjelang kontestasi politik masa depan.

"Ada yang mendukung dan mengapresiasi apa yang dilakukan wapres sebagai bentuk komunikasi dan keterbukaan terhadap kritik publik. Meski pada saat yang sama ada yang menuding ini sebagai upaya membangun citra sebagai wakil presiden yang peduli, bahkan dikaitkan dengan agenda menuju 2029," ujarnya.

Meski demikian, Adi menegaskan kritik dan perbedaan pandangan dalam politik merupakan hal yang alamiah dalam demokrasi.

Ia berharap perdebatan politik tetap berada dalam koridor yang sehat dan tidak diwarnai penyebaran informasi bohong maupun saling menyerang secara personal.

"Yang paling penting dalam suasana kebangsaan, tidak boleh ada hoaks, tidak boleh ada fitnah, tidak boleh saling menghujat, dan tidak boleh saling mencaci maki," tegasnya.

Adi pun mengajak seluruh elemen masyarakat memaknai politik secara lebih dewasa sebagai sarana memperkuat persahabatan, kebangsaan, sekaligus ruang perbedaan yang sehat dalam demokrasi.

"Maknai politik sebagai biasa-biasa saja, yaitu politik kebangsaan, politik persahabatan, dan politik perlawanan," pungkasnya.

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Keluarga Eks Pangkostrad Kemal Idris Akhirnya Raih Keadilan

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:00

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

Febrie Bisa Diamuk Koruptor Lain Jika Ditahan di Rutan Kejaksaan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:18

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

Jokowi Masih Berperilaku seperti Penguasa RI

Senin, 10 Agustus 2026 | 03:00

UPDATE

Istana Merdeka Menjelma jadi Pusat Pesta Rakyat dan Surga Kuliner UMKM

Jumat, 21 Agustus 2026 | 00:09

Mirza Fakhrul Islam Alamgir Terpilih Jadi Presiden Baru Bangladesh

Kamis, 20 Agustus 2026 | 23:52

Penanganan Bencana NTT Tidak Boleh Ada Kendala Anggaran!

Kamis, 20 Agustus 2026 | 23:38

Penumpang Bus NPM Pembawa Ratusan Vape Etomidate Diringkus Polisi

Kamis, 20 Agustus 2026 | 23:18

PDIP Lepas Kapal RS Apung Laksamana Malahayati ke Lokasi Gempa NTT

Kamis, 20 Agustus 2026 | 22:26

Purbaya Siapkan Rp3 Triliun Insentif untuk Satu Juta Motor Listrik

Kamis, 20 Agustus 2026 | 22:15

DPO Narkoba Club Malam Batam Diringkus saat Mau Kabur ke Malaysia

Kamis, 20 Agustus 2026 | 22:01

Dewan Adat Bamus Betawi Minta Warga Pati Tak Demo di Jakarta

Kamis, 20 Agustus 2026 | 21:30

Gibran Minta Maaf ke Pengungsi Gempa NTT

Kamis, 20 Agustus 2026 | 21:06

Sayembara Ijazah SMA Gibran Tak Mengubah Standar Pembuktian Hukum

Kamis, 20 Agustus 2026 | 21:02

Selengkapnya