Berita

Ilustrasi. (Ahmadie Thaha)

Publika

Koboi Kalah Perang

KAMIS, 18 JUNI 2026 | 23:03 WIB | OLEH: AHMADIE THAHA

KONON, di film-film koboi Hollywood, pahlawan selalu masuk kota dengan menunggang kuda sambil menggigit cerutu. Ia menembak lebih cepat daripada bayangannya sendiri. Musuh tumbang. Debu beterbangan. Musik kemenangan diputar. Lalu layar ditutup dengan tulisan,”The End”.

Masalahnya, geopolitik bukan film koboi. Di Timur Tengah, sering kali yang pulang bukan pahlawan, melainkan akuntan yang sibuk menghitung tagihan.

Tajuk rencana The New York Times pekan ini terdengar seperti bunyi palu hakim di ruang sidang, “President Trump Lost This War”.


Kalimat itu tidak ditulis aktivis anti-Amerika di sudut jalan. Ia lahir dari ruang redaksi koran paling berpengaruh di Amerika Serikat. Dewan Redaksinya menyimpulkan bahwa Donald Trump gagal memperoleh hampir semua barang yang dijanjikannya kepada rakyat Amerika sebelum perang dimulai.

Padahal etalase kampanyenya dulu begitu mewah. Ada “penyerahan tanpa syarat”. Ada “kemenangan total”. Ada “nol pengayaan uranium”. Ada pula diskon besar-besaran berupa pergantian rezim di Teheran.

Bahasa Trump memang sering seperti spanduk obral toko: semua tampak mudah, cepat, dan menguntungkan. Tinggal gesek kartu, masalah selesai.

Tetapi perang ternyata bukan marketplace. Barang yang dipajang di etalase belum tentu tersedia di gudang.

Kini, jika kesepakatan damai ditandatangani di Jenewa, dunia menyaksikan sebuah ironi yang bahkan para penulis satir pun mungkin malu mengarangnya.

Setelah empat bulan perang, miliaran dolar biaya militer, puluhan ribu rudal dan ancaman kiamat, Amerika justru kembali ke meja perundingan dengan menu yang mirip seperti perjanjian nuklir 2015.

Itulah perjanjian yang dulu dibuat oleh Barack Obama tapi kemudian dibuang oleh Trump seperti orang membuang payung karena merasa matahari akan bersinar selamanya.

Ternyata cuaca politik memang suka bercanda. Lalu siapa yang menang?

Pertanyaan itu mirip menanyakan siapa pemenang ketika dua tetangga bertengkar memakai parang lalu akhirnya bertemu di puskesmas yang sama. Yang satu kehilangan gigi. Yang lain kehilangan telinga. Keduanya pulang membawa resep obat.

Iran, dalam ukuran tertentu, memperoleh apa yang tak dimilikinya awal tahun ini: daya tawar.

Rezim yang diperkirakan ambruk ternyata masih berdiri. Program nuklirnya belum benar-benar dikubur. Selat Hormuz terbukti bukan sekadar jalur pelayaran, melainkan keran oksigen ekonomi dunia.

Iran seperti pemilik warung kopi kecil yang ternyata menguasai sakelar listrik satu kampung. Ketika lampu dipadamkan, semua orang baru sadar bahwa selama ini mereka terlalu meremehkan posisi meja kasir.

Tetapi jangan pula tergoda mengarak Iran sebagai juara. Negeri para penyair itu tetap membawa luka. Infrastruktur militernya porak-poranda. Ekonominya compang-camping. Generasi mudanya masih dibebani represi politik.

Menang dalam diplomasi tidak otomatis berarti hidup rakyat menjadi lebih murah. Sejarah penuh dengan negara yang menang perang tetapi kalah menghadapi harga beras.

Amerika sendiri tidak pulang dengan tangan kosong. Selat Hormuz dibuka kembali. Harga energi mungkin mereda. Trump dapat menjual kisah bahwa Iran berhasil dipaksa berunding. Namun, barang paling mahal yang hilang justru tak bisa dibeli di toko mana pun: wibawa.

Dunia melihat negara adidaya itu seperti petinju kelas berat yang naik ring dengan lampu sorot, musik menggelegar, dan iklan sponsor bertebaran. Lawannya petinju kelas menengah.

Penonton mengira pertandingan selesai dalam dua ronde. Ternyata ronde demi ronde berlalu. Nafas mulai tersengal. Pelatih mulai panik. Sampai akhirnya pertandingan dihentikan wasit melalui keputusan angka.

Petinjunya memang tidak kalah KO. Tetapi penonton pulang sambil berbisik, “Katanya Mike Tyson. Kok jadinya Tyson ayam?”

Yang menarik justru Pakistan. Selama ini Pakistan sering dipandang dunia seperti sepupu jauh yang diundang ke pesta hanya karena sungkan.

Kadang diabaikan, kadang dicurigai, kadang baru dicari ketika keadaan darurat. Tetapi kali ini, Perdana Menteri Shehbaz Sharif justru tampil seperti mak comblang paling sabar di kampung.

Ia mondar-mandir membawa pesan. Menenangkan ego. Membujuk pihak yang ngotot. Menyambung telepon yang tak kunjung berhenti berdering.

Dalam politik internasional yang dipenuhi lelaki-lelaki tua berwajah serius sambil memamerkan rudal, Pakistan datang membawa barang yang tampak kuno: kesabaran.

Barangkali memang ada saat ketika diplomasi lebih mirip pekerjaan ibu-ibu RT ketimbang jenderal berbintang empat. Yang satu membagi ancaman. Yang lain membagi teh hangat agar orang berhenti saling lempar kursi.

Lalu bagaimana nasib Israel? Inilah bagian yang membuat Benjamin Netanyahu sulit tidur nyenyak. Israel memperoleh kerusakan nyata terhadap musuh bebuyutannya. Namun ia tidak memperoleh kepastian bahwa ancaman itu benar-benar berakhir. Iran masih ada. Ambisi regional Iran belum sepenuhnya padam.

Kesepakatan damai ini bagi Tel Aviv mungkin seperti mencabut taring ular tanpa pernah yakin apakah bisa tumbuh kembali.

Karena itu, Israel akan terus menyimpan satu tangan di atas tombol darurat. Perdamaian boleh diumumkan. Tetapi rasa curiga tetap dipelihara seperti kaktus dalam pot: tidak indah dipandang, tetapi dianggap perlu untuk berjaga-jaga.

Pada akhirnya, perang ini mengajarkan satu hal yang sering dilupakan para pemimpin yang terlalu lama percaya pada tepuk tangan pendukungnya.

Pidato memang bisa menggelegar seperti toa masjid menjelang subuh. Tetapi kenyataan punya kebiasaan buruk: ia tidak pernah takut pada mikrofon.

Trump menjanjikan kemenangan mutlak. Iran menjanjikan perlawanan abadi. Israel menjanjikan keamanan total.

Keduanya, atau mungkin ketiganya, akhirnya bertemu di meja yang sama untuk mempelajari seni paling kuno dalam politik: bagaimana menjual kompromi kepada publik sebagai kemenangan.

Dan begitulah dunia bekerja. Para pemimpin berpidato tentang kejayaan peradaban. Para analis menggambar panah-panah di peta. Para jenderal memamerkan senjata mutakhir.

Lalu, setelah asap perang menipis, rakyat biasa kembali bertanya dengan polos: harga bensin jadi turun atau tidak?

Pertanyaan sederhana itu kadang lebih jujur daripada seluruh pidato kenegaraan.

Populer

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Jubir IKN Troy Pantouw Sempat Telepon Keluarga Sehari Sebelum Ditemukan Meninggal

Minggu, 26 Juli 2026 | 20:58

Selembar Ijazah Keliling Republik

Rabu, 22 Juli 2026 | 12:00

15 Jeriken Bensin yang Menenggelamkan Jabatan Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 01:03

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

Ahli Waris Laporkan Dugaan Aset Tak Wajar Mantan Pejabat Negara ke KPK

Rabu, 22 Juli 2026 | 16:58

Kiprah Yadyn, Jaksa yang Antar Febrie Adriansyah ke KPK

Sabtu, 25 Juli 2026 | 21:55

UPDATE

Prabowo Bikin Lomba Kota Terbersih, Lima Terbaik Dapat Rp20 Miliar

Kamis, 30 Juli 2026 | 18:26

Oknum Brimob di KPK Diduga Bocorkan Dokumen Perkara, Dipakai Peras Bupati Pemalang

Kamis, 30 Juli 2026 | 18:18

ST Burhanuddin Mutasi 176 Jaksa, 90 Kajari Bergeser

Kamis, 30 Juli 2026 | 18:17

Prabowo Wanti-wanti Konflik Timteng Bisa Meluas dan Semakin Memburuk

Kamis, 30 Juli 2026 | 17:51

Deddy Sitorus Bantah Hina Wartawan dan Tantang Balik KWP

Kamis, 30 Juli 2026 | 17:35

Lokataru: Kopdes Merah Putih Rawan Dimobilisasi Jadi Mesin Politik Bawah Tanah

Kamis, 30 Juli 2026 | 17:26

Prabowo Tertarik Belajar Cara India Bangun 3 Juta Rumah dalam Setahun

Kamis, 30 Juli 2026 | 17:21

Terima Aspirasi Guru TK, DPR Siap Agendakan Penguatan PAUD

Kamis, 30 Juli 2026 | 17:19

MK: Anggaran MBG Tak Boleh Lagi Masuk Pos Pendidikan

Kamis, 30 Juli 2026 | 17:12

Pembahasan RUU HAM, Perlindungan Harus Menyesuaikan Perkembangan Zaman

Kamis, 30 Juli 2026 | 17:12

Selengkapnya