Berita

Ketua Tim Pemeriksaan BPK Perwakilan Sumsel Titin Rita Lestari, dan Augus Dwianggara alias Angga. (RMOL/Jamaludin Akmal)

Publika

Titin Rita Lestari, Air Mata yang Tak Sempat Jatuh

SABTU, 13 JUNI 2026 | 05:09 WIB

NAMANYA Titin Rita Lestari. Bukan seorang kuli bangunan, melainkan pejabat elit di BPK. Berpendidikan tinggi, selalu dikesankan jujur, tak bisa disogok, kredibilitas tinggi. Semua sifat malaikat disematkan padanya. Siapa sangka, semua berakhir di jeruji. 

Nama Titin terdengar seperti doa seorang ibu. Nama yang mungkin dulu ditulis dengan tangan gemetar di secarik kertas kelahiran, lalu dipandangi dengan harapan besar, semoga anak ini hidup baik, sekolah tinggi, bekerja terhormat, dan menjadi kebanggaan keluarga.

Siapa yang menyangka perjalanan panjang itu berakhir di depan kamera, dengan rompi oranye menutupi dada.


Saat keluar dari ruang pemeriksaan KPK, Titin mengenakan jilbab krem dan kacamata tebal. Tidak ada kemewahan. Tidak ada tas bermerek. Tidak ada senyum yang dipaksakan. Yang terlihat hanya seorang perempuan yang wajahnya seperti menyimpan ribuan kalimat yang tidak sanggup diucapkan.

Di dadanya terpasang angka 126. Di sekeliling tubuhnya melingkar tulisan yang lebih berat daripada besi penjara, “Tahanan KPK.”

Ada sesuatu yang menyayat dalam pemandangan itu. Sebab rompi oranye selalu memiliki kekuatan aneh. Ia mampu menghapus gelar, jabatan, prestasi, dan puluhan tahun pengabdian hanya dalam hitungan detik. 

Seketika orang tidak lagi melihat siapa dirimu kemarin. Yang mereka lihat hanya siapa dirimu hari ini.

Padahal Titin bukan pegawai biasa. Ia adalah Ketua Tim Pemeriksaan Badan Pemeriksa Keuangan Perwakilan Sumatera Selatan. 

Seorang auditor negara. Orang yang pekerjaannya memeriksa penggunaan uang rakyat. Jabatan yang tidak lahir dari keberuntungan, melainkan dari pendidikan, pengalaman, dan tahun-tahun panjang dalam birokrasi.

Namun kini, semua itu berdiri berhadapan dengan tuduhan suap dalam kasus pengaturan hasil audit di Kabupaten Muara Enim.

Publik tentu berhak marah. Negeri ini sudah terlalu sering dikecewakan. Terlalu banyak orang bersumpah menjaga uang negara, lalu tersandung karena uang negara. 

Terlalu banyak lembaga yang dibangun atas nama integritas, tetapi berkali-kali dipermalukan oleh orang-orang di dalamnya.

Namun ketika Titin berjalan menuju mobil tahanan, ada sesuatu yang membuat suasana menjadi lebih rumit. Ia berbicara. Bukan dengan nada seorang pemenang. Bukan pula dengan gaya seorang pejabat yang sedang berpidato.

Melainkan seperti seseorang yang merasa sedang membawa beban yang bukan sepenuhnya miliknya. "Saya nggak terima uang ya. Ini nggak adil. Saya cuma pelaksana."

Lalu ia mengulang lagi, "Saya hanya melaksanakan." Ketika ditanya siapa yang menerima uang, jawabannya pendek namun menghantam, "Pimpinan saya berjenjang."

Kalimat itu menggantung seperti kabut. Membuat orang bingung harus percaya kepada siapa. Apakah ini suara kejujuran dari seseorang yang sedang menjadi tumbal sistem? Ataukah ini sekadar pembelaan terakhir dari orang yang tertangkap di tengah badai?

Tidak ada yang tahu. Bahkan mungkin Titin sendiri sadar, pada saat rompi oranye dikenakan, penjelasan apa pun akan terdengar terlambat.

KPK menduga ia ikut menerima bagian suap bersama sejumlah ASN BPK lainnya. Titin membantah. Penyidik memiliki dugaan. Titin memiliki bantahan. Di antara keduanya, publik hanya memiliki pertanyaan.

Justru di situlah letak tragedinya. Karena untuk pertama kalinya, banyak orang melihat seorang tersangka yang tidak tampak seperti tokoh jahat dalam cerita. 

Yang terlihat hanyalah seorang perempuan berkacamata tebal, wajah lelah, dan sorot mata yang seolah bertanya kepada dunia, apakah semua ini benar-benar akhir dari perjalanan hidupnya?

Mungkin ia bersalah. Mungkin ia tidak. Biarlah pengadilan yang menjawabnya.

Tetapi hari itu, ketika Titin Rita Lestari melangkah menuju mobil tahanan dengan rompi oranye di tubuhnya, yang terlihat bukan hanya kisah tentang dugaan korupsi. 

Yang terlihat adalah runtuhnya sebuah nama, sebuah karier, dan mungkin juga harapan sebuah keluarga yang puluhan tahun dibangun dengan susah payah. Nasibmu Bu Titin.

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Desakan Pecat Nusron Mencuat, Ahmad Doli Memungkinkan jadi Pengganti

Minggu, 20 September 2026 | 05:26

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon sebagai Tersangka

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

UPDATE

Komisi XIII DPR Segera Panggil Pejabat Terkait soal Fasilitas Mewah Lapas Cibinong

Kamis, 24 September 2026 | 14:25

Ajukan Kasasi, Nadiem Tak Akan Menerima Hasil Apapun di Luar Bebas

Kamis, 24 September 2026 | 14:25

Respons Demo Buruh, Dasco: RUU Pelindungan Ketenagakerjaan Rampung Oktober 2026

Kamis, 24 September 2026 | 14:15

PAN: Ambang Batas Parlemen Perlu Hati-hati, Jangan Lebih dari 4 Persen

Kamis, 24 September 2026 | 14:03

Usai Antar Giuseppe Garibaldi, Perwakilan Angkatan Laut Italia Temui Prabowo

Kamis, 24 September 2026 | 14:03

Dasco Pastikan DPR Dalami Temuan Fasilitas Mewah di Lapas Cibinong

Kamis, 24 September 2026 | 13:58

MGLV Kantongi Fasilitas BNI, Ekspansi Data Center Jababeka dan Batang Digenjot

Kamis, 24 September 2026 | 13:51

Demo Buruh di Depan UOB Plaza: Jalur Utama Jakarta Pusat Dialihkan!

Kamis, 24 September 2026 | 13:40

Hakim Banding Pangkas Vonis Nadiem

Kamis, 24 September 2026 | 13:39

UU Pengaturan Reforma Agraria jadi Kado Manis Petani untuk Berdaulat

Kamis, 24 September 2026 | 13:32

Selengkapnya