Berita

Presiden Prabowo Subianto (Foto: YouTube Sekretariat Presiden)

Politik

Pernyataan Prabowo soal Indonesia Salah Arah Bukan Retorika Politik

SABTU, 13 JUNI 2026 | 02:27 WIB | LAPORAN: WIDODO BOGIARTO

Pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang mengaku telah melihat Indonesia bergerak ke arah yang salah sejak dekade 1990-an memunculkan berbagai tafsir politik, ekonomi, dan geopolitik. 

Bagi sebagian kalangan, pernyataan tersebut bukan sekadar penjelasan mengapa dirinya berkali-kali maju dalam pemilihan presiden, melainkan refleksi dari kegelisahan strategis terhadap perjalanan bangsa selama lebih dari tiga dekade.

Dalam pembukaan Munas HIPMI XVIII di Bandar Lampung, Prabowo mengungkapkan bahwa dirinya telah berupaya menjadi presiden sejak 2004 dan mengalami empat kali kekalahan sebelum akhirnya memenangkan Pilpres 2024.


Pengamat intelijen dan geopolitik, Amir Hamzah menilai pernyataan Prabowo perlu dibaca lebih dalam daripada sekadar ambisi politik pribadi.

“Pernyataan Prabowo itu adalah pandangan strategis yang lahir dari pengalaman panjangnya di lingkungan militer, keamanan, dan pengamatan terhadap perubahan geopolitik dunia,” kata Amir, dikutip Sabtu 13 Juni 2026.

Menurut Amir, istilah “salah arah” yang diungkap Presiden Prabowo dalam perspektif intelijen tidak selalu berarti kegagalan total pembangunan nasional. Istilah tersebut bisa merujuk pada melemahnya kemampuan negara dalam menjaga kemandirian ekonomi, kedaulatan sumber daya alam, dan ketahanan nasional.

Dalam kajian intelijen strategis, terdapat beberapa indikator yang sering digunakan untuk mengukur arah sebuah negara, antara lain: Kemandirian pangan, kemandirian energi, penguasaan teknologi strategis, ketahanan industri nasional, kemampuan pertahanan negara, dan pengendalian terhadap sumber daya alam.

Amir menilai, sejak era globalisasi pada 1990-an, banyak negara berkembang menghadapi tekanan besar dari arus liberalisasi ekonomi internasional.

“Globalisasi memang membawa pertumbuhan ekonomi, tetapi di sisi lain juga membuat banyak negara kehilangan sebagian kontrol terhadap sektor-sektor strategisnya. Ini yang mungkin dimaksud Prabowo sebagai arah yang perlu dikoreksi,” kata Amir.

Populer

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon sebagai Tersangka

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

UPDATE

Anies dan KDM Bisa Wassalam Jika Wacana Dua Fraksi untuk Capres Diterapkan

Senin, 21 September 2026 | 16:22

Keluarga Ikhlas Namun Masih Berharap Lima Wartawan yang Hilang Bisa Pulang

Senin, 21 September 2026 | 16:01

Begini Respons Nusron Ditanya Alasan Mundur dari Kepengurusan Golkar

Senin, 21 September 2026 | 15:53

Turki Siap Kirim Bantuan Militer ke Arab Saudi Jika Terdesak

Senin, 21 September 2026 | 15:47

Bupati Bolmut Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Senin, 21 September 2026 | 15:41

Menkop Dorong Koperasi Sawit Miliki Pabrik CPO Sendiri

Senin, 21 September 2026 | 15:15

Lima Wartawan Hilang saat Liput Anak Krakatau Jadi Pahlawan Pers

Senin, 21 September 2026 | 15:07

Arab Saudi Gempur Yaman 760 Kali, Houthi Ancam Balas Lebih Keras

Senin, 21 September 2026 | 14:56

Dukung Prabowo Kuatkan Sanksi Pelaku Karhutla

Senin, 21 September 2026 | 14:50

Jangan Ukur Keberhasilan Pariwisata Hanya dari Jumlah Wisatawan

Senin, 21 September 2026 | 14:40

Selengkapnya