Berita

Pengamat intelijen Mayjen TNI (Purn) Achmad Adipati Karna Widjaja. (Foto: Dokumentasi Pribadi)

Politik

Pengamat: DSI Berpotensi Jadi 'Monster Perdagangan'

JUMAT, 12 JUNI 2026 | 05:35 WIB | LAPORAN: ABDUL ROUF ADE SEGUN

Wacana menjadikan PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) sebagai instrumen utama negara dalam mengelola ekspor sumber daya alam dinilai perlu disikapi secara hati-hati. 

Pengamat intelijen Mayjen TNI (Purn) Achmad Adipati Karna Widjaja mengingatkan agar DSI tidak diarahkan menjadi eksportir tunggal yang menguasai sekaligus fungsi perdagangan dan pengawasan.

Menurut Adipati, persoalan utama yang selama ini dihadapi Indonesia bukan terletak pada siapa yang menjual komoditas ke luar negeri, melainkan bagaimana negara mampu mengetahui harga riil, volume riil, kualitas barang, pembeli akhir, hingga aliran devisa dari komoditas strategis yang diekspor.


"Kekeliruan terbesar adalah menganggap seluruh persoalan kebocoran ekspor dapat diselesaikan dengan menjadikan negara sebagai pedagang. Padahal inti masalahnya adalah pengawasan dan penguasaan data," kata Adipati dalam keterangan yang diterima redaksi di Jakarta, Jumat, 12 Juni 2026.

Ia melihat terdapat dua risiko besar apabila DSI diposisikan sebagai eksportir tunggal. Pertama, risiko bisnis dan perdata. Menurutnya, eksportir selama ini tidak hanya memiliki barang dagangan, tetapi juga jaringan pembeli, kontrak jangka panjang, reputasi usaha, fasilitas pembiayaan, hingga sistem pembayaran yang dibangun selama bertahun-tahun.

Negara, kata dia, tidak bisa begitu saja mengambil alih ekosistem tersebut tanpa dasar hukum yang kuat dan perhitungan matang terhadap dampaknya bagi dunia usaha.

Risiko kedua adalah konflik kepentingan. Adipati menilai akan muncul persoalan serius apabila satu lembaga diberi akses terhadap seluruh data strategis perdagangan, mulai dari buyer, kontrak, invoice, harga, kualitas barang, hingga volume ekspor, tetapi pada saat yang sama juga diberi kewenangan untuk berdagang.

"Siapa yang menjamin data itu tidak disalahgunakan? Siapa yang memastikan buyer swasta tidak direbut? Siapa yang bertanggung jawab jika terjadi kebocoran rahasia dagang?" bebernya.

Karena itu, Adipati menolak gagasan yang berpotensi menjadikan DSI sebagai "monster perdagangan" baru. Menurutnya, solusi yang lebih tepat adalah membagi fungsi komersial dan fungsi pengawasan secara tegas.

Dalam konsep tersebut, DSI tetap dapat berjalan sebagai Persero yang bertugas membuka pasar, mendukung hilirisasi, memperluas jaringan perdagangan, serta menjadi instrumen ekonomi negara. Namun DSI tidak boleh memperoleh akses istimewa terhadap data pelaku usaha lain maupun menjadi pengawas tunggal perdagangan nasional.

"DSI boleh berdagang, tetapi tidak boleh menjadi pengawas tunggal atas data eksportir lain. Fungsi pengawasan harus dipisahkan," tegasnya.

Adipati menilai pengawasan perdagangan nasional sebaiknya ditempatkan pada lembaga tersendiri yang tidak memiliki kepentingan bisnis sehingga dapat bekerja lebih objektif dan profesional.

Menurutnya, pemisahan fungsi tersebut akan menciptakan keseimbangan antara kepentingan negara untuk mengawasi ekspor dan kepentingan pelaku usaha untuk memperoleh kepastian perlindungan data serta persaingan yang sehat.

Ia menegaskan negara tidak harus merebut seluruh fungsi pasar untuk menjadi kuat. Sebaliknya, kekuatan negara terletak pada kemampuan menguasai data, memahami pola perdagangan, mendeteksi penyimpangan, dan memastikan kekayaan alam nasional memberikan manfaat maksimal bagi rakyat.

"Negara menjadi kuat ketika memiliki data yang akurat, kemampuan analisis yang unggul, dan sistem pengawasan yang mampu mendeteksi penyimpangan sebelum kerugian terjadi," pungkasnya.


Populer

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon sebagai Tersangka

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

UPDATE

Anies dan KDM Bisa Wassalam Jika Wacana Dua Fraksi untuk Capres Diterapkan

Senin, 21 September 2026 | 16:22

Keluarga Ikhlas Namun Masih Berharap Lima Wartawan yang Hilang Bisa Pulang

Senin, 21 September 2026 | 16:01

Begini Respons Nusron Ditanya Alasan Mundur dari Kepengurusan Golkar

Senin, 21 September 2026 | 15:53

Turki Siap Kirim Bantuan Militer ke Arab Saudi Jika Terdesak

Senin, 21 September 2026 | 15:47

Bupati Bolmut Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Senin, 21 September 2026 | 15:41

Menkop Dorong Koperasi Sawit Miliki Pabrik CPO Sendiri

Senin, 21 September 2026 | 15:15

Lima Wartawan Hilang saat Liput Anak Krakatau Jadi Pahlawan Pers

Senin, 21 September 2026 | 15:07

Arab Saudi Gempur Yaman 760 Kali, Houthi Ancam Balas Lebih Keras

Senin, 21 September 2026 | 14:56

Dukung Prabowo Kuatkan Sanksi Pelaku Karhutla

Senin, 21 September 2026 | 14:50

Jangan Ukur Keberhasilan Pariwisata Hanya dari Jumlah Wisatawan

Senin, 21 September 2026 | 14:40

Selengkapnya