Berita

Ilustrasi

Politik

Target Pendapatan Dipatok Naik, DPR Restui Minuman Manis Kena Cukai

KAMIS, 11 JUNI 2026 | 21:36 WIB | LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA

Pemerintah sepakat menaikkan batas bawah penerimaan negara menjadi 12,01 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) pada 2027.

Kesepakatan tersebut disampaikan dalam laporan Panja Penerimaan Komisi XI DPR yang dibacakan dalam rapat pembahasan Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) 2027 pada Kamis 11 Juni 2026.

Dengan keputusan itu, maka target pendapatan negara dipatok lebih tinggi dibanding usulan awal KEM-PPKF sebesar 11,82 persen.


Wakil Ketua Komisi XI DPR, Fauzi Amro mengatakan batas bawah target pendapatan negara dinaikkan 0,19 persen dari PDB, sementara batas atas tetap dipertahankan di 12,40 persen.

"Pendapatan negara, batas bawah KEM-PPKF itu 11,82 persen dari PDB, batas atasnya 12,40 persen. Kesepakatan Panja batas bawahnya menjadi 12,01 persen, kurang lebih kenaikan 0,19 persen dan batas atas 12,40 persen," kata Fauzi saat membacakan hasil Panja Penerimaan.

Untuk mendukung pencapaian target tersebut, DPR merestui Kementerian Keuangan untuk mengoptimalkan berbagai sumber penerimaan. Salah satunya menerapkan cukai minuman berpemanis dalam kemasan (MBDK).

"Kementerian Keuangan dapat mengoptimalkan pendapatan dari cukai minuman berpemanis dalam kemasan. Ini dalam rangka untuk menutupi kira-kira kekurangan dari Ditjen Bea Cukai," kata Fauzi Amro.

Selain cukai minuman berpemanis, Panja juga mendorong penguatan penerimaan melalui penyesuaian tarif cukai hasil tembakau (CHT), optimalisasi tarif bea masuk pada sejumlah komoditas, perluasan objek barang kena cukai (BKC), serta pengembangan basis penerimaan dari bea keluar komoditas tertentu.

Namun demikian, penerapan kebijakan itu disebut tetap harus mempertimbangkan kondisi ekonomi dan kemampuan konsumsi masyarakat.

"Ekstensifikasi BKC dan perluasan basis penerimaan bea keluar komoditas tertentu sesuai dengan perkembangan perekonomian terkini dan daya beli masyarakat," tuturnya.

Sementara itu di bidang perpajakan, strategi yang disepakati antara lain memperluas basis pajak melalui pemanfaatan data dan teknologi untuk menjangkau aktivitas ekonomi digital, shadow economy, serta berbagai sektor informal yang selama ini belum tergarap optimal.

Pemerintah juga didorong memperkuat administrasi perpajakan dengan meningkatkan kualitas pengumpulan data guna mendukung implementasi Coretax dan penggunaan Compliance Risk Management Integrated Risk Engine (CRM-IRE) dalam rangka meningkatkan kepatuhan wajib pajak dan penerimaan negara.

Pengawasan kepatuhan juga akan diperketat, terutama terhadap kelompok wajib pajak korporasi, wajib pajak yang memiliki transaksi afiliasi, serta wajib pajak orang pribadi prominen.

Pada saat yang sama, fungsi penegakan hukum akan diperkuat melalui pendekatan multidoor approach untuk meningkatkan efek jera bagi pelanggar ketentuan perpajakan.

Selain itu, Panja meminta pemerintah mengevaluasi efektivitas berbagai insentif perpajakan agar tetap mampu mendorong pertumbuhan ekonomi.

"Optimalisasi insentif pajak melalui evaluasi pemanfaatan insentif pajak guna mendukung pertumbuhan ekonomi, daya saing dan iklim usaha. Kementerian Keuangan menyusun dan menetapkan roadmap pelaksanaan pajak karbon," lanjut Fauzi Amro.

Merespon keputusan tersebut, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan akan menindaklanjuti masukan untuk meningkatkan penerimaan negara.

"Seluruh pandangan tersebut akan menjadi perhatian serius dan akan ditindaklanjuti untuk penyempurnaan kebijakan,” tandasnya.

Populer

KPK Bakal Dalami Data Intelijen soal Dugaan Suap ke Purbaya dan Anggota Komisi XI DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 02:24

Dakwaan Lemah, Perkara Chromebook Murni Rekayasa

Kamis, 27 Agustus 2026 | 14:31

Profil Akhmad Sodiq, Rektor Unsoed yang Terjaring OTT KPK

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:02

Tidak Benar Menag Nasaruddin Umar Mundur

Rabu, 26 Agustus 2026 | 18:06

KPK Sebut Iptu Dias Tak Bisa Dijerat Dewas, Penanganan Etik Diserahkan ke Polri

Senin, 24 Agustus 2026 | 11:47

Belasan Teman Jokowi Bagusnya Batal Jadi Saksi Sidang soal Ijazah

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 03:14

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

UPDATE

Elite NU Harus Setop Jadikan Warga Nahdliyin Objek Politik Praktis

Rabu, 02 September 2026 | 01:48

Gus Alex Pernah Setor Pansus Haji DPR Lewat Teman Nusron Wahid, Segini Besarnya

Rabu, 02 September 2026 | 01:21

Raja Juli: Presiden Prabowo Pemimpin Tegas dalam Atasi Karhutla

Rabu, 02 September 2026 | 01:02

Setoran ke Ditjen Imigrasi Didalami KPK Lewat Pemeriksaan Staf KJRI Kuching

Rabu, 02 September 2026 | 00:47

Skema BLU Berisiko Tambah Beban Birokrasi Tata Kelola Sektor Energi

Rabu, 02 September 2026 | 00:23

Harga Pertamax Green 95 Disesuaikan dan Mulai Berlaku 2 September 2026

Rabu, 02 September 2026 | 00:01

Menko Polkam Ajak Seluruh Sektor Serius Tangkal DFK di Medsos

Selasa, 01 September 2026 | 23:40

BP Batam Pilih Tak Bergantung dengan APBN

Selasa, 01 September 2026 | 23:18

Lobi Fuad Hasan Masyhur Berujung Persetujuan Jokowi soal Tambahan Kuota Haji 2022

Selasa, 01 September 2026 | 23:15

Dua Tahun Kabinet Merah Putih, Sandiaga Uno Dinilai Layak Masuk Kabinet

Selasa, 01 September 2026 | 22:29

Selengkapnya