Berita

Ilustrasi Fenomena Bediding (Sumber: Gemini Generated Image)

Nusantara

Apa Itu Fenomena Bediding? Ini Penyebab, dan Perkiraan Terjadinya pada 2026

RABU, 10 JUNI 2026 | 19:07 WIB | OLEH: TIFANI

Sejumlah wilayah di Indonesia mulai merasakan suhu udara yang lebih dingin, terutama pada malam hingga pagi hari. Di beberapa daerah dataran tinggi, suhu bahkan dapat turun hingga belasan derajat Celsius meski sedang berada di musim kemarau.

Fenomena ini dikenal dengan istilah bediding atau bedhidhing, sebuah kondisi cuaca yang umum terjadi saat musim kemarau dan menyebabkan udara terasa lebih dingin dibandingkan biasanya. Fenomena ini kerap dirasakan masyarakat di Pulau Jawa dan sejumlah wilayah lain yang mengalami musim kemarau dengan kondisi langit cerah.

Lantas, apa itu fenomena bediding, apa penyebabnya, dan kapan diperkirakan terjadi pada 2026? Berikut penjelasannya.


Apa Itu Fenomena Bediding?

Mengutip penjelasan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), bediding adalah kondisi ketika panas yang tersimpan di permukaan bumi pada siang hari lebih mudah terlepas ke atmosfer saat malam hari. Akibatnya, suhu udara pada malam hingga pagi hari menjadi lebih rendah dan terasa lebih dingin dari biasanya.

Istilah bediding berasal dari Bahasa Jawa yang merujuk pada udara dingin yang muncul di tengah musim kemarau. Meski sering dianggap sebagai fenomena cuaca yang tidak biasa, bediding sebenarnya merupakan proses alamiah yang lazim terjadi setiap tahun saat musim kemarau berlangsung.

Fenomena ini bukan cuaca ekstrem dan tidak terjadi secara tiba-tiba. Bediding muncul secara bertahap ketika sejumlah kondisi atmosfer mendukung terjadinya penurunan suhu di permukaan bumi.

Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan fenomena bediding terjad salah satu faktor utama penyebab bediding adalah kondisi langit yang cerah pada malam hari. Ketika tutupan awan sangat sedikit, panas yang tersimpan di permukaan bumi pada siang hari dapat langsung terpancar ke atmosfer tanpa hambatan.

Akibatnya, permukaan bumi kehilangan panas lebih cepat sehingga suhu udara di sekitar permukaan ikut menurun. Musim kemarau identik dengan berkurangnya curah hujan. 

Kondisi ini membuat kelembapan udara menjadi lebih rendah dan kandungan uap air di atmosfer berkurang. Padahal, uap air berfungsi membantu menahan panas di atmosfer. 

Ketika jumlahnya sedikit, udara menjadi lebih kering dan lebih cepat kehilangan panas sehingga suhu udara turun lebih signifikan. Proses pelepasan panas dari permukaan bumi berlangsung terus-menerus sejak malam hingga menjelang matahari terbit. 

Karena itu, suhu udara biasanya mencapai titik terendah pada dini hari atau sesaat sebelum matahari terbit. Inilah yang menyebabkan udara terasa sangat dingin saat subuh, terutama di wilayah dataran tinggi.

Wilayah yang Berpotensi Mengalami Bediding

Fenomena bediding biasanya muncul saat puncak musim kemarau. Berdasarkan Prediksi Musim Kemarau 2026 dari BMKG, proses menuju puncak kemarau berlangsung secara bertahap sejak Mei 2026.

Pada Mei 2026, sebanyak 184 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 26,3 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau. Wilayah tersebut meliputi Aceh bagian utara, sebagian Sumatera Utara, sebagian Riau, sebagian besar Pulau Jawa, hingga sebagian Papua Selatan.

Memasuki Juni 2026, sebanyak 163 ZOM lainnya mulai mengalami musim kemarau. Kemudian sekitar 63 ZOM diperkirakan memasuki musim kemarau pada Juli 2026.

Sementara itu, puncak musim kemarau mulai terjadi pada Juli 2026 di sekitar 88 ZOM. Mayoritas wilayah Indonesia diperkirakan mencapai puncak musim kemarau pada Agustus 2026, yakni sekitar 61,4 persen atau 429 ZOM.

Pada periode Juli hingga Agustus 2026 tersebut, fenomena bediding diperkirakan akan terasa semakin kuat, terutama pada malam hari hingga menjelang pagi. Masyarakat di wilayah dataran tinggi berpotensi merasakan suhu yang lebih dingin dibandingkan hari-hari biasanya.

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Fenomena Embun Upas Dieng Muncul Lagi, Ini Perkiraan Waktu Puncaknya

Rabu, 10 Juni 2026 | 18:13

Pidato Bahlil di Depan Prabowo: Kekuasaan Itu Harus Direbut!

Rabu, 10 Juni 2026 | 18:10

Kejagung Pelajari Pengajuan Justice Collaborator Sony Sonjaya

Rabu, 10 Juni 2026 | 18:10

Ranking FIFA Indonesia Naik Lagi Usai Kalahkan Mozambik 1-0, Kini di Posisi 118 Dunia

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:57

Prabowo Dorong HIPMI Cetak Pengusaha Patriotik yang Peduli Rakyat

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:51

Bupati Muara Enim Suap ASN BPK untuk Tutup Temuan Audit

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:41

Kelas Menengah Paling Terdampak Kenaikan Pertamax

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:21

Bedah Rumah Warga, Wujud Nyata Pemasyarakatan Berdampak untuk Masyarakat

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:21

Prabowo Sering ke Luar Negeri karena Indonesia Disukai Banyak Negara

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:11

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Selengkapnya