Nanik S. Deyang. (Foto: Humas BGN)
Harapan publik terhadap kepemimpinan baru di Badan Gizi Nasional (BGN) tidak hanya terkait pembenahan tata kelola, tetapi juga kemampuan membuktikan efektivitas Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi salah satu program unggulan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Kepala BGN yang baru, Nanik S Deyang, sebelumnya menegaskan komitmennya untuk melakukan pembenahan di internal lembaga.
Salah satu langkah yang akan ditempuh adalah meningkatkan efisiensi program, termasuk mengurangi ketergantungan pembiayaan MBG terhadap APBN. Nanik juga menekankan pentingnya menjaga integritas lembaga agar tidak kembali terseret persoalan hukum.
Menanggapi hal tersebut, analis politik Adi Prayitno menilai publik memang menaruh perhatian besar terhadap aspek efisiensi dan tata kelola Program MBG.
"Kalau mau jujur, yang banyak dikritik selama ini adalah soal efisiensi, termasuk pengelolaan dapur MBG dan kualitas menu yang diberikan kepada penerima manfaat," kata Adi lewat kanal Youtube miliknya, Minggu, 7 Juni 2026.
Menurut Direktur Parameter Politik Indonesia itu, pelibatan sekolah, orang tua siswa, dan masyarakat dalam pelaksanaan program dapat menjadi salah satu solusi untuk memperkuat pengawasan sekaligus meningkatkan kualitas layanan.
"Kalau itu dilakukan, sangat mungkin revolusi tata kelola BGN bisa tercapai dan sesuai dengan ekspektasi masyarakat secara umum," ujarnya.
Selain pembenahan manajemen, Adi menilai tantangan terbesar kepala BGN yang baru adalah membuktikan dampak nyata Program MBG terhadap kualitas sumber daya manusia penerima manfaat.
Ia mendorong BGN melakukan survei dan evaluasi secara berkala terhadap para siswa penerima MBG untuk mengukur efektivitas program tersebut.
"Harus dilakukan survei dan wawancara. Setiap siswa yang mendapat manfaat MBG perlu dilihat korelasinya. Apakah setelah mendapatkan MBG pemenuhan gizinya semakin baik, apakah mereka lebih semangat belajar, dan yang paling penting apakah kemampuan intelektual mereka meningkat secara signifikan," jelasnya.
Menurut Adi, hingga saat ini publik masih belum memperoleh gambaran yang jelas mengenai hubungan langsung antara Program MBG dengan peningkatan kualitas pendidikan maupun kesehatan siswa.
"Sampai hari ini publik masih belum tahu apakah ada korelasi positif dari manfaat Program MBG itu," katanya.
Karena itu, Adi berharap kepemimpinan baru di BGN mampu menghadirkan inovasi sekaligus melakukan evaluasi berbasis data sehingga manfaat program dapat terukur secara objektif.
"Kalau ini dilakukan, saya kira inovasi dan semacam revolusi di tubuh BGN di bawah kepemimpinan yang baru inilah yang sedang dinanti masyarakat," pungkasnya.