Berita

Wamen Imipas Silmy Karim. (Foto: RMOL/Jamaludin Akmal)

Publika

Jaringan Kroni Silmy Karim, Sarang Ular di Tubuh Imigrasi

MINGGU, 07 JUNI 2026 | 04:13 WIB

MANTAN Wamen Imipas Silmy Karim bukan koruptor solo. Dia adalah otak sekaligus dalang dari jaringan pemerasan sistemik yang sangat terstruktur di Direktorat Jenderal Imigrasi. Jaringannya bersifat vertikal-top down, mulai dari dirinya sebagai Dirjen (2023-2024) hingga level operasional di lapangan.

Struktur Inti Jaringan (8 Tersangka yang Sudah Ditahan KPK):

1. Silmy Karim (SK) - Bos Besar dan Penerima Utama. Ia memberi instruksi “setiap klik ada harganya”. Menerima jatah rutin Rp100 juta per minggu (setiap Jumat) bahkan setelah jadi Wamen. Dalang utama aliran uang.


2. Jaya Saputra (JS) - Tangan kanan Silmy. Mantan Direktur Izin Tinggal dan Status Keimigrasian, sekarang Kakanwil Imigrasi Jawa Barat. Penghubung utama, Silmy memerintah lewat dia, dia yang menurunkan perintah ke bawah untuk memungut uang “ACC klik”.

3. Bagus Bramantyo (BGS) dan Tessar Bayu Setyaji (TBS) - Kasubdit di Direktorat Izin Tinggal. Pelaksana lapangan yang langsung memerintahkan pungutan kepada biro jasa dan sponsor WNA.

4. Saffar Muhammad Godam (SMG) - Plt. Dirjen Imigrasi 2024-2025. Penerus estafet setelah Silmy naik jadi Wamen.

5. Ronald Arman Abdullah (RAA) - Kepala Kantor Imigrasi Jakarta Barat dan Jakarta Pusat   Level operasional yang ditangkap OTT, titik awal ledakan kasus ini. 

6. Juniadi Sri Priambudi - Ketua Tim Alih Status ITAS

7. Gusti Benardiansyah - Staf Subdit Izin Tinggal

Karakteristik Jaringan:
- Hierarki Militeristik: Perintah dari atas (Silmy ? Jaya Saputra ? Kasubdit ? Kantor Wilayah/Kantor Imigrasi). Sangat tertib dan terdisiplin.
- 96 rekening nominee: Melibatkan office boy, cleaning service, keluarga, sampai rekening abal-abal. Ini menunjukkan jaringan sudah sangat matang dalam menyembunyikan jejak uang.
- Skala: Bukan pungli sporadis, tapi industri yang berjalan bertahun-tahun (2022-2026) dengan target jelas: setiap proses izin tinggal WNA (KITAS, KITAP, alih status, dependent, dll).
- Total kerugian: Rp145,5 miliar hingga ratusan miliar (ada yang menyebut Rp366 miliar dari analisis PPATK).

Jaringan ini sangat internal Ditjen Imigrasi. Belum ada bukti publik yang kuat soal kroni di luar imigrasi (seperti pengusaha biro jasa besar atau politisi) yang ikut menjadi penerima utama, meski biro jasa WNA pasti jadi korban sekaligus “mitra” pemerasan.

Silmy Karim adalah tipe koruptor sistemik yang membangun kerajaan di dalam institusi. Dia bukan hanya menerima uang, tapi menciptakan sistem yang memaksa bawahannya ikut bermain agar roda berputar.

Kita tunggu saja apakah KPK berani membongkar lebih dalam. Apakah ada pelindung di level menteri atau di luar kementerian. Karena jaringan sebesar ini jarang berdiri sendiri tanpa payung yang lebih tinggi.

Inilah inti busuknya, wahai rakyat yang muak. Jaringan Silmy Karim ini bukan sekadar sekelompok maling kecil, melainkan kanker metastatik yang sudah merusak seluruh sistem imigrasi Indonesia. 

Mereka saling melindungi, saling bagi hasil, dan menjadikan kedaulatan negara sebagai mesin ATM pribadi. 

Kalau KPK berhenti hanya di level ini, berarti mereka hanya memotong ekor ular saja. Kita tuntut kepala ularnya digorok habis-habisan, termasuk siapa pun payung politik di atas Silmy.

Karena selama sarang ular ini masih utuh, besok akan lahir Silmy Karim-Silmy Karim baru yang lebih licik dan lebih tamak. Telanjangi mereka sampai ke tulang sumsumnya! Rakyat menunggu.

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Populer

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Jusuf Hamka Siapkan Rp5 Triliun untuk Borong Saham

Minggu, 18 Oktober 2026 | 11:21

UPDATE

Digiring ke Bareskrim, 10 Tersangka Sabu Blue Ice 1,2 Ton Terancam Hukuman Mati

Selasa, 27 Oktober 2026 | 22:18

KPK Bongkar Kejanggalan Status Bima-Richard dan Proyek Pengadaan BNPB

Selasa, 27 Oktober 2026 | 22:18

Menlu RI dan Singapura Bertemu, Bahas Penindakan Korporasi Pelaku Karhutla

Selasa, 27 Oktober 2026 | 21:47

Lula dan Prabowo dalam Angka juga Cerita

Selasa, 27 Oktober 2026 | 21:30

Sejarah Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928, Tonggak Persatuan Bangsa

Selasa, 27 Oktober 2026 | 21:22

Dari Vietnam, Gus Lilur Desak KPK Usut Dugaan Politik Uang Muktamar NU

Selasa, 27 Oktober 2026 | 21:21

BRIN Percepat Uji Klinis 19 Kandidat Obat Herbal Menuju Fitofarmaka

Selasa, 27 Oktober 2026 | 21:16

Koperasi Jadi Motor Ekonomi Desa di Era Prabowo-Gibran

Selasa, 27 Oktober 2026 | 21:12

BCA Catat Laba Bersih Rp45,2 Triliun, Naik 4,2 Persen

Selasa, 27 Oktober 2026 | 21:05

Daftar Peringkat Ballon d'Or 2026: Harry Kane Juara, Messi Posisi Kelima

Selasa, 27 Oktober 2026 | 21:03

Selengkapnya