Berita

Mantan Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sony Sonjaya. (Foto: RMOL/Bonfilio)

Publika

Setelah Nyebut “Demi Allah” Sony Sonjaya Siap jadi Justice Collaborator

MINGGU, 07 JUNI 2026 | 02:30 WIB

SONY SONJAYA sebelum ditangkap, mulutnya seperti malaikat. “Demi Allah” sering diucapkannya, tanda ia bersih. 

Nyatanya, Sony dipecat Presiden Prabowo Subianto dan dijebloskan penjara. Hal menarik, ia siap menjadi Justice Collaborator. Wah, bakal kebuka ni dalang besarnya.
 
“Ngerti ora son” jadi ingat sinetron Jin dan Jun. Sony Sonjaya, pensiunan Irjen lulusan Akpol 1991. Satu angkatan dengan Kapolri. Pernah malang melintang di dunia reserse dari Majalengka, Bandung, Jawa Barat, hingga Aceh. 


Kariernya panjang, pangkatnya tinggi, dan pengalaman investigasinya setebal dakwaan jaksa pada Nadiem.

Lalu Sony masuk ke BGN. Awalnya menjadi Direktur Penyediaan dan Penyaluran Wilayah II. Kemudian pada 17 September 2025 dilantik Presiden Prabowo menjadi Wakil Kepala BGN Bidang Operasional Pemenuhan Gizi.

Di sinilah cerita mulai terasa seperti film superhero. Sebelum ditangkap, Sony tampil bak Kapten Amerika versi program MBG. Ke sana ke mari memburu dugaan penipuan jual beli titik SPPG. Berkali-kali menegaskan, pendaftaran SPPG gratis. Tidak ada pungutan. Tidak ada biaya. Tidak ada transaksi gelap.

Sony juga aktif membantu korban phishing, berkoordinasi dengan Bareskrim, dan mendorong penindakan terhadap para oknum. Pokoknya citranya waktu itu seperti malaikat lalu lintas yang mengatur kendaraan integritas di jalan raya birokrasi.

Lalu datanglah malam keramat itu. Tanggal 2 Juni 2026. Dalam wawancara yang sekarang menjadi artefak sejarah internet Indonesia, Sony membantah keras tuduhan jual beli titik SPPG.

Bukan bantahan biasa. Bukan bantahan level kecamatan. Ini bantahan kelas stadion. "Demi Allah, saya tidak pernah menjual titik."

Sony bahkan mengatakan siap membawa Al-Quran dan bersumpah di atasnya. Kalimat itu meluncur gagah seperti roket yang baru lepas landas. Masalahnya, roket tersebut belum sempat meninggalkan atmosfer.

Besoknya meledak. Tanggal 3 Juni 2026, Prabowo mencopot pimpinan BGN. Tidak lama kemudian Kejagung menetapkan Sony sebagai tersangka bersama Dadan Hindayana dan Lodewyk Pusung dalam dugaan korupsi tata kelola program Makan Bergizi Gratis, khususnya terkait pengadaan dan penunjukan titik SPPG.

Netizen langsung mengalami cedera leher massal akibat terlalu cepat menoleh mengikuti alur cerita. Namun bagian paling bikin rakyat memicingkan mata adalah urusan harta. Pada 27 Maret 2025, total kekayaan Sony tercatat sekitar Rp906 juta.

Setahun kemudian, 30 Maret 2026, jumlahnya berubah menjadi Rp12,987 miliar. Naiknya sekitar Rp12 miliar. Dalam waktu kurang lebih satu tahun. Kalau itu tanaman cabai, petaninya sudah dapat Nobel Pertanian. Kalau itu ikan lele, kolamnya mungkin sudah bisa menelan kapal pesiar.

Kenaikan hartanya lebih dari 1.300 persen. Aset tanah dan bangunan yang sebelumnya hanya sekitar Rp76 juta berubah menjadi lebih dari Rp10 miliar dengan sebelas bidang properti di berbagai daerah. Kalkulator yang menghitungnya mungkin sempat berhenti bekerja dan meminta surat cuti tahunan.

Lalu muncullah plot twist berikutnya. Setelah ditahan, Sony menyatakan siap menjadi Justice Collaborator. Dalam bahasa sederhana, siap buka-bukaan. Siap bernyanyi. Siap membocorkan siapa saja yang selama ini ikut menari di panggung megah bernama proyek negara.

Di sinilah publik mulai menyiapkan Koptagul ukuran galon. Karena pengalaman mengajarkan satu hal. Kalau seorang tersangka mulai berkata siap menjadi Justice Collaborator, biasanya cerita yang selama ini terlihat sebesar kambing mendadak berubah ukuran menjadi dinosaurus.

Kasus ini masih berjalan. Kejagung masih mendalami dugaan kerugian negara, aliran uang, hingga asal-usul kekayaan yang tumbuh lebih cepat daripada rumput setelah musim hujan.

Yang jelas, kalimat "Demi Allah saya tidak pernah menjual titik" kini resmi masuk daftar pernyataan paling berumur pendek dalam sejarah politik Indonesia. Rakyat masih menunggu episode berikutnya. Sebab sejauh ini, yang tamat baru jabatan. Filmnya baru mulai.

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Populer

Kafe Diduga terkait Jampidsus Digeledah

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36

Mapolda Metro Dijaga Ketat

Jumat, 10 Juli 2026 | 19:04

Oknum Prajurit di Lokasi Penggeledahan di Luar Mandat TNI

Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29

Beredar Surat Diduga dari Kejagung untuk Konsolidasi Usai Penggeledahan Cafe de' CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53

Presiden Pasti Tahu Dinamika Penggeledahan Cafe de’CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00

KPK Benaran Sakit Jiwa, Gedung Merah Putih Mending untuk Merawat ODGJ

Kamis, 16 Juli 2026 | 19:00

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

UPDATE

Harga Minyak Dunia Menetap di Level 84 Dolar AS

Jumat, 17 Juli 2026 | 10:17

Kejaksaan Agung Casablanca Bebaskan A.M. demi Jaga Objektivitas Proses Hukum

Jumat, 17 Juli 2026 | 10:16

Usulan Nasdem Naikkan Ambang Batas Diduga untuk Jegal PSI

Jumat, 17 Juli 2026 | 10:14

Komisi XII DPR: Kelangkaan BBM di Sumut Bukan Persoalan Biasa

Jumat, 17 Juli 2026 | 09:58

IHSG Balik Arah ke Zona Merah, Dolar AS Melemah ke Rp17.943

Jumat, 17 Juli 2026 | 09:45

Pertarungan Bisnis Adidas-Nike dan Pundi Pundi FIFA di Piala Dunia 2026

Jumat, 17 Juli 2026 | 09:44

Pulau Baai Butuh Solusi Permanen, Bukan Pengerukan Berulang

Jumat, 17 Juli 2026 | 09:39

Emas Antam Anjlok Rp27.000, Satu Gram Jadi Rp2,6 Juta

Jumat, 17 Juli 2026 | 09:31

Bobby Adhityo Dicecar KPK soal Pengaturan Temuan Audit BPK

Jumat, 17 Juli 2026 | 09:26

Terungkap, 307 Ribu QR Code BBM Subsidi Bermasalah Diblokir

Jumat, 17 Juli 2026 | 09:17

Selengkapnya