Ilustrasi (RMOL/Reni Erina)
Penurunan tajam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga sempat menyentuh level 5.644 memunculkan kekhawatiran baru di pasar keuangan domestik.
Kepala Riset Fraus Kapital, Alfred Nainggolan, menilai koreksi yang terjadi lebih mencerminkan menurunnya kepercayaan investor terhadap kondisi makroekonomi dibandingkan persoalan fundamental emiten.
Menurut Alfred, posisi IHSG tersebut berarti pasar saham Indonesia sempat terkoreksi sekitar 35 persen sejak awal tahun. Besarnya penurunan itu menjadikan Indonesia sebagai salah satu pasar saham dengan performa terburuk dibandingkan negara-negara lain.
Sebagai perbandingan, indeks saham India hanya terkoreksi sekitar 12 persen pada periode yang sama. Bahkan jika dibandingkan dengan masa pandemi Covid-19, ketika IHSG sempat turun sekitar 38 persen, kondisi saat ini sudah mendekati tekanan yang terjadi saat krisis kesehatan global tersebut.
"Yang menjadi pertanyaan investor adalah mengapa koreksi bisa sedalam ini ketika pemerintah terus menyampaikan bahwa fundamental ekonomi Indonesia kuat dan prospeknya tetap baik," kata Alfred, dalam wawancara di stasiun televisi baru-baru ini, dikutip Sabtu 6 Juni 2026.
Ia menyoroti derasnya arus keluar dana asing yang telah mencapai sekitar Rp52 triliun, salah satu yang terbesar dalam sejarah pasar modal Indonesia. Kondisi tersebut menunjukkan investor global memilih mengurangi eksposur mereka terhadap aset-aset Indonesia.
Padahal, lanjut Alfred, kinerja perusahaan-perusahaan tercatat pada kuartal pertama 2026 secara umum masih cukup solid. Artinya, pelemahan harga saham yang terjadi tidak sepenuhnya disebabkan oleh memburuknya kinerja emiten.
Menurutnya, faktor utama yang menekan pasar lebih berkaitan dengan kondisi makroekonomi dan berbagai isu domestik yang memengaruhi persepsi investor terhadap arah kebijakan pemerintah.
Alfred menilai apabila penyebab utama berasal dari faktor eksternal, maka pasar negara lain seharusnya mengalami tekanan yang setara. Namun kenyataannya, Indonesia mengalami koreksi yang jauh lebih dalam dibandingkan banyak negara berkembang lainnya.
Ia menyimpulkan bahwa pasar saat ini memiliki pandangan berbeda dengan narasi optimistis yang disampaikan pemerintah. Ketidakpastian terkait sejumlah kebijakan yang dianggap kontroversial serta dinilai kurang konsisten turut memengaruhi keyakinan investor.
Karena itu, menurut Alfred, pemulihan pasar saham tidak cukup hanya mengandalkan pernyataan optimistis dari pemerintah. Yang dibutuhkan investor adalah kepastian arah kebijakan serta solusi terhadap berbagai persoalan fundamental yang menjadi perhatian pasar.
"Selama pertanyaan-pertanyaan mendasar itu belum terjawab, pasar akan tetap memberikan respons negatif," ujarnya.