Berita

Ilustrasi (RMOL/Reni Erina)

Bisnis

IHSG Nyaris Setara Era Pandemi, Pasar Kirim Sinyal Keras ke Pemerintah

SABTU, 06 JUNI 2026 | 14:53 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Penurunan tajam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga sempat menyentuh level 5.644 memunculkan kekhawatiran baru di pasar keuangan domestik. 

Kepala Riset Fraus Kapital, Alfred Nainggolan, menilai koreksi yang terjadi lebih mencerminkan menurunnya kepercayaan investor terhadap kondisi makroekonomi dibandingkan persoalan fundamental emiten.

Menurut Alfred, posisi IHSG tersebut berarti pasar saham Indonesia sempat terkoreksi sekitar 35 persen sejak awal tahun. Besarnya penurunan itu menjadikan Indonesia sebagai salah satu pasar saham dengan performa terburuk dibandingkan negara-negara lain.


Sebagai perbandingan, indeks saham India hanya terkoreksi sekitar 12 persen pada periode yang sama. Bahkan jika dibandingkan dengan masa pandemi Covid-19, ketika IHSG sempat turun sekitar 38 persen, kondisi saat ini sudah mendekati tekanan yang terjadi saat krisis kesehatan global tersebut.

"Yang menjadi pertanyaan investor adalah mengapa koreksi bisa sedalam ini ketika pemerintah terus menyampaikan bahwa fundamental ekonomi Indonesia kuat dan prospeknya tetap baik," kata Alfred, dalam wawancara di stasiun televisi baru-baru ini, dikutip Sabtu 6 Juni 2026.

Ia menyoroti derasnya arus keluar dana asing yang telah mencapai sekitar Rp52 triliun, salah satu yang terbesar dalam sejarah pasar modal Indonesia. Kondisi tersebut menunjukkan investor global memilih mengurangi eksposur mereka terhadap aset-aset Indonesia.

Padahal, lanjut Alfred, kinerja perusahaan-perusahaan tercatat pada kuartal pertama 2026 secara umum masih cukup solid. Artinya, pelemahan harga saham yang terjadi tidak sepenuhnya disebabkan oleh memburuknya kinerja emiten.

Menurutnya, faktor utama yang menekan pasar lebih berkaitan dengan kondisi makroekonomi dan berbagai isu domestik yang memengaruhi persepsi investor terhadap arah kebijakan pemerintah.

Alfred menilai apabila penyebab utama berasal dari faktor eksternal, maka pasar negara lain seharusnya mengalami tekanan yang setara. Namun kenyataannya, Indonesia mengalami koreksi yang jauh lebih dalam dibandingkan banyak negara berkembang lainnya.

Ia menyimpulkan bahwa pasar saat ini memiliki pandangan berbeda dengan narasi optimistis yang disampaikan pemerintah. Ketidakpastian terkait sejumlah kebijakan yang dianggap kontroversial serta dinilai kurang konsisten turut memengaruhi keyakinan investor.

Karena itu, menurut Alfred, pemulihan pasar saham tidak cukup hanya mengandalkan pernyataan optimistis dari pemerintah. Yang dibutuhkan investor adalah kepastian arah kebijakan serta solusi terhadap berbagai persoalan fundamental yang menjadi perhatian pasar.

"Selama pertanyaan-pertanyaan mendasar itu belum terjawab, pasar akan tetap memberikan respons negatif," ujarnya.

Populer

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Jusuf Hamka Siapkan Rp5 Triliun untuk Borong Saham

Minggu, 18 Oktober 2026 | 11:21

Mantan Kadivhubinter Polri Napoleon Bonaparte Meninggal Dunia

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:30

UPDATE

Sambut Wacana Revisi UU Tipikor, Komisi III DPR: Perlu Dikaji Lebih Mendalam

Rabu, 28 Oktober 2026 | 18:32

Mahasiswa Bentangkan Poster Raksasa Tolak Karhutla

Rabu, 28 Oktober 2026 | 18:27

Asta Cita Sulit Berjalan Tanpa Stabilitas Keuangan dan Pemerintahan Bersih

Rabu, 28 Oktober 2026 | 18:22

Sahroni Minta Polisi Jaga Adik-adik Mahasiswa

Rabu, 28 Oktober 2026 | 18:11

Mahasiswa Demo Mabes Polri, Jangan Kriminalisasi Pegawai PLN

Rabu, 28 Oktober 2026 | 17:57

Nasdem Bedah Pemikiran Bung Hatta untuk Perkuat Etika Politik

Rabu, 28 Oktober 2026 | 17:51

Koperasi Sawit Didorong Bangun Pabrik CPO hingga Kilang Minyak Goreng

Rabu, 28 Oktober 2026 | 17:45

Massa Tertahan di Depan Gedung UOB, Desak Polisi Buka Jalan

Rabu, 28 Oktober 2026 | 17:41

IHSG Menguat Tipis Usai RUPSLB BEI Setujui Dividen Rp1,56 T

Rabu, 28 Oktober 2026 | 17:24

Massa Berbaju Hitam Lewat Kantor KPU RI Menuju Bundaran HI

Rabu, 28 Oktober 2026 | 17:14

Selengkapnya