Berita

Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa. (Foto: RMOL/Alifia)

Bisnis

Menkeu Purbaya Bantah Omzet Warteg Turun Jadi Bukti Daya Beli Lesu

SABTU, 06 JUNI 2026 | 12:47 WIB | LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa merespons keluhan pelaku usaha warung tegal (warteg) terkait penurunan omzet di tengah kenaikan harga kebutuhan pokok dan perubahan pola konsumsi masyarakat.

Menurut Purbaya, penurunan omzet yang dialami sejumlah warteg tidak serta-merta dapat dijadikan indikator melemahnya daya beli masyarakat secara keseluruhan. Ia menilai kondisi tersebut belum tentu mencerminkan situasi yang dialami seluruh pelaku usaha warteg.

"Itu (penurunan omzet) mungkin terjadi, tetapi sampelnya berapa warteg? Saya bisa saja menemukan lima warteg yang omzetnya turun. Namun, bisa juga karena kalah bersaing, sementara warteg lain lebih bagus sehingga konsumennya berpindah ke sana," ujar Purbaya dalam konferensi pers APBN Kita di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, dikutip Sabtu 6 Juni 2026.


Pernyataan tersebut menanggapi keluhan yang sebelumnya disampaikan Ketua Komunitas Warteg Nusantara (Kowantara), Mukroni. Ia mengungkapkan bahwa pelaku usaha warteg tengah menghadapi tekanan akibat perubahan perilaku konsumen yang semakin berhati-hati dalam membelanjakan uangnya.

Menurut Mukroni, pelanggan masih datang ke warteg, namun nilai transaksi yang mereka keluarkan cenderung lebih rendah dibandingkan sebelumnya. Banyak konsumen mulai mengurangi pembelian lauk yang lebih mahal dan beralih ke pilihan yang lebih terjangkau.

"Banyak pelanggan yang biasanya makan dengan lauk protein hewani kini beralih ke protein nabati seperti tempe, tahu, atau sekadar telur. Porsi hemat, istilahnya downgrading. Pelanggan lebih teliti menghitung pengeluaran agar tetap kenyang dengan anggaran di bawah Rp15.000," kata Mukroni.

Ia menilai tekanan terhadap daya beli masyarakat sebenarnya sudah terasa sejak awal tahun, seiring kenaikan harga pangan. Dalam beberapa bulan terakhir, kondisi tersebut semakin berat karena masyarakat juga harus menyesuaikan pengeluaran untuk berbagai kebutuhan pokok lainnya.

Meski demikian, Purbaya mengingatkan agar kondisi yang terjadi di sejumlah warteg tidak langsung digeneralisasi sebagai gambaran ekonomi nasional. Menurutnya, data pemerintah menunjukkan konsumsi rumah tangga dan aktivitas belanja masyarakat masih tumbuh positif.

"Harus hati-hati. Kalau asosiasi kan memang mewakili pedagang yang tentu memiliki kepentingan tertentu. Tapi kalau melihat data agregat, pertumbuhannya masih cukup kuat dan belanja masyarakat juga masih tumbuh," ujarnya.

Meski meragukan bahwa penurunan omzet warteg mencerminkan pelemahan daya beli secara luas, Purbaya memastikan pemerintah akan menelusuri lebih lanjut keluhan tersebut. 

Bahkan, pemerintah membuka peluang untuk menambah stimulus ekonomi apabila ditemukan kelompok masyarakat yang belum merasakan dampak kebijakan secara optimal.

"Saya akan periksa. Jangan sampai kesimpulan dari satu atau dua tempat kemudian dianggap mewakili semuanya. Akan saya investigasi. Kalau memang diperlukan, kami akan menambah stimulus perekonomian," pungkasnya.

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Profil Akhmad Sodiq, Rektor Unsoed yang Terjaring OTT KPK

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:02

TNI Kuasai Wilayah OPM di Intan Jaya dan Sita Sejumlah Senjata

Minggu, 16 Agustus 2026 | 01:24

Belasan Teman Jokowi Bagusnya Batal Jadi Saksi Sidang soal Ijazah

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 03:14

KPK Sebut Iptu Dias Tak Bisa Dijerat Dewas, Penanganan Etik Diserahkan ke Polri

Senin, 24 Agustus 2026 | 11:47

UPDATE

Protelindo Masuk BTEL, Kuasai 10,86 Persen Saham Bakrie Telecom

Rabu, 26 Agustus 2026 | 10:26

Prabowo ke NTT Hari Ini, Pastikan Penanganan Korban Gempa Berjalan Baik

Rabu, 26 Agustus 2026 | 10:17

Pengamat: Rekam Jejak Mumpuni Bikin KH Marsudi Syuhud Unggul di Bursa Ketum PBNU

Rabu, 26 Agustus 2026 | 10:13

Presiden Prabowo Dijadwalkan Buka Muktamar ke-35 NU Besok

Rabu, 26 Agustus 2026 | 10:12

Emas Antam Merosot Rp18.000, Satu Gram Jadi Segini

Rabu, 26 Agustus 2026 | 10:03

DEEP Ingatkan Percepatan Pemilu Harus Punya Alasan Konstitusional

Rabu, 26 Agustus 2026 | 09:55

IHSG Balik Arah ke Zona Merah, Rupiah Menguat ke Rp17.690 per Dolar AS

Rabu, 26 Agustus 2026 | 09:44

SHOW Token Dorong Transformasi Industri Hiburan Global lewat Teknologi AI dan Blockchain

Rabu, 26 Agustus 2026 | 09:21

Bursa Asia Variatif, Investor Pantau Pergerakan Timur Tengah

Rabu, 26 Agustus 2026 | 09:06

THMP Bantah Pertemuan Jokowi-Relawan Bahas Pemilu 2029

Rabu, 26 Agustus 2026 | 09:03

Selengkapnya