Berita

Aparat keamanan Korea Selatan berusaha menyingkirkan demonstran yang memblokade TPS di Seoul (Foto: X)

Global

Aksi Protes Pemilu Korsel Ricuh, TPS Dikepung Hingga 35 Jam

JUMAT, 05 JUNI 2026 | 23:04 WIB | LAPORAN: HANI FATUNNISA

Kericuhan mewarnai pelaksanaan pemilu daerah di Korea Selatan setelah ribuan warga memblokade sebuah tempat pemungutan suara (TPS) di Seoul selama hampir 35 jam. 

Polisi antihuru-hara akhirnya dikerahkan pada Jumat pagi, 5 Juni 2026, untuk membubarkan massa dan mengamankan kotak suara yang tertahan akibat aksi tersebut.

Gelombang protes dipicu oleh kekurangan surat suara di sejumlah TPS saat pemungutan suara berlangsung pada Rabu, 3 Juni 2026. 


Pemilu tersebut merupakan pemungutan suara nasional pertama sejak Presiden Korea Selatan, Lee Jae Myung, menjabat menggantikan Yoon Suk Yeol yang dimakzulkan setelah kontroversi pemberlakuan darurat militer.

Komisi Pemilihan Nasional (NEC) Korea Selatan telah menyampaikan permintaan maaf atas insiden tersebut. 

Lembaga itu mengakui sebanyak 14 TPS di Seoul mengalami kekurangan surat suara akibat kesalahan dalam memperkirakan jumlah pemilih yang hadir. 

Akibatnya, beberapa TPS terpaksa memperpanjang waktu pencoblosan hingga pukul 22.00 waktu setempat.

Kemarahan publik memuncak di kawasan Jamsil 7-dong, Seoul, ketika para demonstran menghalangi petugas membawa dua kotak suara yang berisi sekitar 2.000 surat suara. 

Laporan Yonhap menyebutkan massa membawa spanduk bertuliskan "Hentikan penghitungan suara" dan "Batalkan pemilu", sembari menuntut proses penghitungan suara dihentikan dan pemilu dinyatakan tidak sah.

Jumlah peserta aksi yang semula hanya puluhan orang pada malam pemilu meningkat menjadi lebih dari 1.000 demonstran pada Kamis, 4 Mei 2026. 

Situasi tersebut membuat petugas TPS terjebak di dalam gedung hingga Jumat pagi. Setelah polisi turun tangan, kotak suara akhirnya berhasil diamankan dan dibawa ke pusat penghitungan suara.

Rekaman siaran langsung KBS TV menunjukkan aparat secara paksa menyingkirkan demonstran yang memblokade pintu masuk TPS. Sejumlah pengunjuk rasa berusaha bertahan sambil berteriak kepada aparat. 

"Apakah ini benar-benar negara yang diperintah oleh supremasi hukum?" ucap salah satu demonstran.

Menanggapi kontroversi tersebut, Presiden Lee memerintahkan investigasi menyeluruh dan mengecam insiden kekurangan surat suara tersebut.  

Sementara itu, Ketua Partai People Power Party (PPP) Jang Dong-hyeok mendesak agar pemilu diulang.

Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

UPDATE

Sopir BYD Penyebab Tabrakan Beruntun di Jaksel jadi Tersangka

Senin, 26 Oktober 2026 | 05:52

Asuransi Tugu Pratama Indonesia Digugat Rp3,51 Miliar ke PN Jaksel

Senin, 26 Oktober 2026 | 05:27

Sukseskan Kemandirian Pangan, Petani Adat Wanam Butuh Pendampingan

Senin, 26 Oktober 2026 | 05:10

DPO Illegal Tapping Pertamina EP Jambi Sukses Diringkus Berkat Sinergitas

Senin, 26 Oktober 2026 | 04:50

TNI Kirim 4,6 Ton Dry Ice ke Banjarmasin dan Palembang Sukseskan OMC Akhiri Karhutla

Senin, 26 Oktober 2026 | 04:25

Refleksi Kisah Nabi Musa AS dan Fir'aun dalam 2 Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran

Senin, 26 Oktober 2026 | 03:34

Walkot Bandung Kedepankan Koordinasi Sikapi Bentrokan Berdarah Pasar Caringin

Senin, 26 Oktober 2026 | 03:14

Startup Binaan IPB Raih Potensi Kerja Sama Rp1 Miliar Tembus Pasar Oman

Senin, 26 Oktober 2026 | 02:47

Dari Nasionalisme ke Tata Kelola dan Reformasi Pasar Modal Indonesia

Senin, 26 Oktober 2026 | 02:17

Boris Tampubolon Beri Tiga Alasan Pasal Kerugian Negara Harus Direvisi

Senin, 26 Oktober 2026 | 01:43

Selengkapnya