Berita

Buronan kasus korupsi pengadaan e-KTP, Paulus Tannos alias Thian Po Tjhin (Foto: Istimewa)

Hukum

Langkah Paulus Tannos Kandas di Singapura, Proses Ekstradisi Makin Dekat

JUMAT, 05 JUNI 2026 | 11:09 WIB | LAPORAN: JAMALUDIN AKMAL

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyambut positif putusan Pengadilan Tinggi Singapura yang menolak permohonan tersangka kasus korupsi proyek KTP elektronik (KTP-el), Paulus Tannos.

Juru Bicara KPK, Budi Prasetyo, mengatakan putusan tersebut merupakan perkembangan penting dalam upaya penegakan hukum lintas negara dan semakin membuka jalan bagi percepatan proses ekstradisi Paulus Tannos ke Indonesia.

"Putusan tersebut merupakan perkembangan penting dalam upaya penegakan hukum lintas yurisdiksi dan semakin membuka jalan bagi percepatan proses ekstradisi yang sedang berlangsung," kata Budi kepada wartawan di Jakarta, Jumat 5 Juni 2026. 


KPK berharap proses ekstradisi dapat segera dituntaskan sehingga Paulus Tannos dapat dibawa ke Indonesia untuk menjalani proses hukum atas dugaan korupsi yang menjeratnya.

"KPK menegaskan komitmennya untuk menuntaskan perkara ini secara profesional, transparan, dan sesuai ketentuan hukum yang berlaku. Kehadiran tersangka di Indonesia nantinya sangat penting untuk memastikan proses peradilan dapat berjalan efektif serta memberikan kepastian hukum bagi seluruh pihak," tegas Budi.

Dalam mengawal proses ekstradisi tersebut, KPK terus berkoordinasi dengan Kementerian Hukum, aparat penegak hukum terkait, serta otoritas berwenang di Singapura.

Menurut Budi, sinergi antarotoritas menjadi faktor penting untuk memastikan proses ekstradisi berjalan lancar, efektif, dan sesuai mekanisme hukum yang berlaku.

"Sinergi antarotoritas menjadi faktor penting dalam memastikan proses ekstradisi dapat berjalan lancar, efektif, dan sesuai dengan mekanisme hukum yang berlaku," ujarnya.

KPK juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung proses penanganan perkara tersebut. Lembaga antirasuah itu optimistis kerja sama yang baik antara Indonesia dan Singapura akan semakin memperkuat efektivitas pemberantasan korupsi, terutama dalam upaya membawa buronan korupsi yang melarikan diri ke luar negeri agar mempertanggungjawabkan perbuatannya di hadapan hukum.

Sebelumnya, KPK juga mengapresiasi putusan Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan yang menyatakan tidak dapat menerima permohonan praperadilan yang diajukan Paulus Tannos pada 2 Desember 2025.

Hakim saat itu menilai objek yang dipersoalkan berkaitan dengan surat perintah penangkapan untuk kepentingan *provisional arrest* dan proses ekstradisi di Singapura, sehingga tidak tunduk pada ketentuan hukum acara pidana Indonesia. Selain itu, permohonan tersebut dinyatakan prematur karena belum ada tindakan penangkapan oleh KPK di wilayah Indonesia.

Dalam perkara ini, KPK telah mengajukan permohonan ekstradisi Paulus Tannos kepada Pemerintah Singapura melalui Polri dan Kementerian Hukum pada 20 November 2024.

Menindaklanjuti permintaan tersebut, otoritas antikorupsi Singapura atau Corrupt Practices Investigation Bureau (CPIB) menangkap Paulus Tannos pada 17 Januari 2025 dan menahannya di Changi Prison.

Pemerintah Indonesia kemudian secara resmi mengajukan permintaan ekstradisi pada 22 Februari 2025, yang diterima Pemerintah Singapura dua hari kemudian. Selanjutnya, pada 18 Maret 2025, Menteri Hukum Singapura menerbitkan notifikasi kepada magistrate terkait permohonan ekstradisi tersebut.

Paulus Tannos ditetapkan sebagai tersangka sejak Agustus 2019 bersama tiga orang lainnya, yakni Miryam S. Haryani, Isnu Edhi Wijaya, dan Husni Fahmi. Dalam konstruksi perkara, PT Sandipala Arthaputra yang dipimpinnya diduga memperoleh keuntungan sebesar Rp145,85 miliar dari proyek KTP-el yang merugikan keuangan negara hingga triliunan rupiah.

Sementara itu, dua terdakwa lain dalam perkara tersebut, Husni Fahmi dan Isnu Edhi Wijaya, telah divonis masing-masing empat tahun penjara oleh Pengadilan Tipikor Jakarta Pusat pada 31 Oktober 2022. Adapun Miryam S. Haryani sebelumnya dijatuhi hukuman lima tahun penjara karena memberikan keterangan tidak benar dalam persidangan kasus korupsi KTP-el.

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

UPDATE

Denny Indrayana Optimistis MK Diskualifikasi Gibran

Senin, 05 Oktober 2026 | 10:05

Harga Minyak Dunia Membara, Rupiah Kembali Dekati Rp18.000 per Dolar AS

Senin, 05 Oktober 2026 | 10:03

Prabowo Pimpin Upacara HUT ke-81 TNI di Cilangkap

Senin, 05 Oktober 2026 | 09:55

Nonton Film ‘Istimewa’ Bareng Penyandang Disabilitas, Legislator PKS Dorong Kesetaraan

Senin, 05 Oktober 2026 | 09:49

Masuknya RG Jadi Wantimpres Pelajaran untuk Tak Terlalu Anti Kekuasaan

Senin, 05 Oktober 2026 | 09:43

Ribuan Prajurit Dikerahkan Dalam HUT ke-81 TNI di Cilangkap

Senin, 05 Oktober 2026 | 09:34

SBY dan Jokowi Kompak Hadir di Upacara HUT Ke-81 TNI

Senin, 05 Oktober 2026 | 09:33

IHSG Positif di Awal Perdagangan

Senin, 05 Oktober 2026 | 09:32

Profil Komandan Upacara HUT Ke-81 TNI Letjen TNI Lucky Avianto

Senin, 05 Oktober 2026 | 09:18

KPK Telusuri Dugaan Setoran dari Wajib Pajak Sektor Pertambangan di Banjarmasin

Senin, 05 Oktober 2026 | 09:17

Selengkapnya