Berita

Wamen Imipas, Silmy Karim saat digelandang ke KPK (Foto: RMOL/Jamaludin Akmal)

Publika

Alumni Harvard Silmy Karim Akhirnya Berompi Oranye

JUMAT, 05 JUNI 2026 | 04:00 WIB

SETELAH diuber-uber, kemarin malam Wamen Imipas Silmy Karim menyerahkan diri, dan pagi tadi resmi berompi oranye. Kedua tangan diborgol, dijebloskan ke penjara. 

Kalau Republik Indonesia membuka kompetisi "Manusia Paling Berpendidikan yang Pernah Duduk di Kursi Kekuasaan", nama Silmy Karim. Ia mungkin masuk final tanpa babak penyisihan.

Lulusan Universitas Trisakti. Magister Universitas Indonesia. Belajar di Georgetown University. Masuk Harvard University. NATO School. George C. Marshall Center. Naval Postgraduate School. Daftar kampusnya panjang seperti antrean proyek pemerintah.


Kalau ijazah-ijazah itu disusun berjajar, mungkin bisa dipakai menutup lubang jalan nasional. Kalau sertifikatnya ditumpuk, tingginya mungkin setara harapan rakyat saat pejabat baru dilantik.

Pendek kata, si Silmy adalah paket lengkap. Akademis. Intelektual. Elit. Global. Internasional. Multinasional. Antarplanet kalau perlu. Sayangnya, sejarah negeri ini selalu punya bakat luar biasa mengubah tokoh inspiratif menjadi episode baru serial "Koruptor Indonesia Raya".

Kamis pagi, 4 Juni 2026, rakyat akhirnya menyaksikan wisuda paling fenomenal dalam karier Silmy. Bukan wisuda Harvard, NATO, Georgetown, melainkan wisuda Universitas Rompi Oranye KPK. Lengkap dengan borgol sebagai medali kelulusan. Sungguh pemandangan yang mengharukan.

Kalau dulu beliau belajar Global Leadership and Strategy, kini publik penasaran apakah salah satu materi kuliahnya adalah "Strategi Aliran Setoran Berkelanjutan Menuju Puncak Organisasi".

Karena menurut penyidikan KPK, dugaan praktik yang terjadi bukan kelas ecek-ecek. Ini bukan cerita maling sandal masjid atau pencuri jemuran tetangga.

Ini dugaan pemerasan dan gratifikasi dalam pengurusan dokumen keimigrasian dengan nilai yang ditaksir mencapai ratusan miliar rupiah. Ratusan miliar. Ulangi pelan-pelan. Ratusan. Miliar. Angka yang bagi rakyat biasa terdengar seperti jumlah bintang di langit atau janji politik saat kampanye.

KPK mengungkap pola yang disebut sistematis dan berjenjang. Ada alur komando dari atas ke bawah. Ada alur uang dari bawah ke atas. Indah sekali. Sangat terorganisasi.

Kalau benar terbukti di pengadilan, disiplin organisasinya mungkin lebih rapi dari sebagian program pemerintah yang belum selesai setelah lima kali ganti slogan.

Yang membuat rakyat makin mual adalah dugaan adanya setoran rutin Rp100 juta per bulan. Seratus juta. Sebagian rakyat menghitung diskon minyak goreng sampai tiga digit di belakang koma. Sebagian lagi berburu promo mi instan agar bisa bertahan sampai tanggal gajian. 

Sementara di dunia lain, ada dugaan uang mengalir rutin seperti layanan streaming premium.  Inilah keajaiban politik Indonesia. Negeri di mana pejabat sering tampil seperti malaikat administrasi di siang hari, lalu berubah menjadi vacuum cleaner anggaran saat lampu kantor mulai redup.

Lucunya lagi, setiap kali kasus korupsi meledak, selalu muncul kalimat sakti. "Kami menghormati proses hukum." Kalimat yang sudah begitu sering dipakai sampai layak menjadi lagu kebangsaan kedua.

Padahal rakyat sudah kenyang, bosan, dan sudah muak. Muak melihat pejabat yang saat dilantik berpidato tentang pengabdian, lalu saat ditangkap mendadak bicara soal fitnah. 

Muak melihat orang-orang yang mengaku melayani negara tetapi tangannya lebih cekatan melayani rekening. Muak melihat jabatan yang seharusnya amanah berubah menjadi ATM berjalan.

Kalau benar tuduhan ini terbukti, maka tragedinya bukan sekadar soal uang. Ini adalah kisah tentang betapa rakusnya sebagian elite negeri ini. Sudah punya jabatan, masih ingin setoran. 

Sudah punya kekuasaan, masih ingin pungutan. Sudah punya gaji, masih ingin menyedot sampai tetes terakhir. Seolah-olah mereka takut masuk surga dalam keadaan saldo kurang tebal.

Di tengah semua itu, rakyat hanya bisa menatap layar ponsel sambil menahan rasa mual. Sekali lagi mereka menyaksikan babak baru sinetron nasional paling panjang di dunia, koruptor berganti pemain. Rompi oranye tetap jadi kostum utama.

“Bang, Pak Wamen inikan sempat kabur, lalu nyerahkan diri. Seandainya ia belajar sama Harun Masiku dan Silpester Matutina, aman sentosa.”

“Hus, jangan gitu, wak. Itu sama saja dengan merendahkan kemampuan KPK.” Ups

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Populer

Jumlah Personel TNI Tidak Masuk Akal

Sabtu, 30 Mei 2026 | 03:36

Penutupan Alfamart dan Indomaret Jangan Salahkan KDKMP

Kamis, 28 Mei 2026 | 06:00

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

UPDATE

Purbaya Siapkan Sanksi bagi Importir Buntut Kontainer Menumpuk

Minggu, 07 Juni 2026 | 00:21

Kebakaran Rumah di Palmerah, 17 Unit dan 85 Personel Damkar Dikerahkan

Minggu, 07 Juni 2026 | 00:05

Kasus MBG Melebar, Tersangka Sebut 30 Tokoh Besar Terlibat

Sabtu, 06 Juni 2026 | 23:39

Widiyanti Putri Wardhana dan Nusron Wahid Layak Direshuffle

Sabtu, 06 Juni 2026 | 23:38

Kompetisi Ketapel Antar ASN

Sabtu, 06 Juni 2026 | 23:19

Buzzer Jokowi Jangan Dulu Pesta, P21 Bukan Vonis Pengadilan

Sabtu, 06 Juni 2026 | 23:00

Investor Asing Laporkan Dugaan Penyalahgunaan Dana Proyek Marina Bay City ke Polda Bali

Sabtu, 06 Juni 2026 | 22:48

Kritik Rocky Gerung, Gumarang: Menteri Keuangan Bukan Sekadar Kasir

Sabtu, 06 Juni 2026 | 22:27

State-Driven Economy untuk Hentikan Ketimpangan dan Ketergantungan

Sabtu, 06 Juni 2026 | 21:57

Puluhan Miliar Dana Investasi Dipersoalkan, Siapa Bertanggung Jawab di Marina Bay City?

Sabtu, 06 Juni 2026 | 21:33

Selengkapnya