Berita

Pengamat intelijen dan geopolitik Amir Hamzah. (Foto: Istimewa)

Politik

Perang Modern Menargetkan Jantung Birokrasi

JUMAT, 05 JUNI 2026 | 02:28 WIB | LAPORAN: WIDODO BOGIARTO

Pernyataan Menteri Pertahanan (Menhan) Sjafrie Sjamsoeddin mengenai adanya pihak-pihak yang disebut sebagai deep state yang tidak menginginkan birokrasi Indonesia kuat memantik diskusi luas di kalangan pengamat keamanan, intelijen, dan geopolitik.

Dalam arahannya kepada Komponen Cadangan (Komcad) Aparatur Sipil Negara (ASN) di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Menhan menegaskan bahwa ASN harus waspada terhadap berbagai upaya yang dapat melemahkan birokrasi negara. Ia bahkan menyebut keberadaan “musuh dalam selimut” yang berpotensi mengganggu penguatan institusi pemerintahan.

Pengamat intelijen dan geopolitik Amir Hamzah menilai pernyataan tersebut bukan sekadar pesan internal kepada peserta Komcad ASN, melainkan refleksi atas tantangan strategis yang sedang dihadapi Indonesia di tengah kompetisi geopolitik global yang semakin kompleks.


Menurut Amir, dalam kajian intelijen modern, ancaman terhadap sebuah negara tidak lagi hanya berbentuk invasi militer atau serangan fisik, tetapi juga penetrasi terhadap institusi negara, pengambilan pengaruh terhadap kebijakan publik, hingga pelemahan kapasitas birokrasi.

“Di era perang generasi kelima atau fifth generation warfare, sasaran utama bukan lagi wilayah teritorial semata, tetapi pusat pengambilan keputusan negara. Birokrasi menjadi salah satu target yang paling strategis karena dari sanalah kebijakan negara dijalankan,” kata Amir, dikutip Jumat 5 Juni 2026.

Amir mengatakan, birokrasi merupakan mesin utama yang memastikan negara tetap berjalan, terlepas dari pergantian pemimpin politik. Karena itu, apabila birokrasi dilemahkan, maka kemampuan negara dalam menjalankan pembangunan, pelayanan publik, dan menjaga stabilitas nasional akan ikut terganggu.

Menurutnya, banyak negara berkembang menghadapi tantangan serupa, yaitu upaya-upaya sistematis yang membuat birokrasi tidak efektif, terpecah, atau kehilangan orientasi terhadap kepentingan nasional.

“Birokrasi yang kuat akan menghasilkan negara yang kuat. Sebaliknya, birokrasi yang rapuh akan membuka ruang bagi berbagai kepentingan untuk masuk dan memengaruhi arah kebijakan negara,” kata Amir.

Amir menilai pesan Menhan harus dipahami dalam konteks penguatan ketahanan nasional. ASN tidak hanya berfungsi sebagai pelaksana administrasi pemerintahan, tetapi juga sebagai penjaga kesinambungan negara.

Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

UPDATE

Dino Patti Djalal Endus Tim Siluman Mulai Bergerak

Minggu, 25 Oktober 2026 | 19:51

Trump Ancam Serang Iran Besok

Minggu, 25 Oktober 2026 | 19:50

Wajah Indonesia di WCCE 2026, Mulai Film Jumbo hingga Komedi Pandji

Minggu, 25 Oktober 2026 | 19:34

Survei: 64 Persen Publik Tidak Puas dengan Program MBG

Minggu, 25 Oktober 2026 | 19:21

Dino Patti Djalal Buka Suara soal Kabar Ketemu Dubes Singapura dan Saiful Mujani

Minggu, 25 Oktober 2026 | 18:46

Istiqomah Bela Palestina, Syahrul Aidi Dukung MUI Tolak Konser Andrea Bocelli

Minggu, 25 Oktober 2026 | 18:28

Zurich Topas Life Digugat ke PN Jaksel

Minggu, 25 Oktober 2026 | 18:06

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Anak-anak Korban Karhutla Diminta Tetap Semangat Belajar

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:37

Kedubes Singapura Tegaskan Kabar Pertemuan Saiful Mujani dan Dino Patti Djalal Hoaks

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:19

Selengkapnya