Berita

Ilustrasi (RMOL via Gemini AI)

Bisnis

Dolar AS Kian Perkasa, Tekan Mata Uang Global Hingga Level Kritis

KAMIS, 04 JUNI 2026 | 08:03 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Kurs Dolar AS atau Greenback kembali menunjukkan taringnya sebagai aset safe-haven utama di tengah memanasnya konflik geopolitik antara AS dan Iran di Timur Tengah. 

Lonjakan kekuatan Dolar AS ini berhasil menekan mata uang global. Terpantau pergerakan Indeks Dolar AS (DXY) di pasat uang New York sebesar 0,22 persen ke posisi 99,516 pada penutupan perdagangan Rabu 3 Juni 2026,

Dampak paling signifikan dari keperkasaan Dolar AS dirasakan oleh Yen Jepang. Dolar AS menguat 0,07 persen, sukses memaksa Yen menembus level psikologis kritis di 160,015 Yen per Dolar AS. Pergerakan agresif Greenback ini otomatis menghapus seluruh dampak intervensi valas masif senilai 73 miliar Dolar AS yang dilakukan pemerintah Jepang bulan lalu.


Meskipun Bank of Japan (BoJ) memberikan peringatan lisan dan memberi sinyal kebijakan hawkish terkait kenaikan suku bunga, kekuatan Dolar masih terlalu tangguh untuk dibendung pelaku pasar. Jepang, sebagai negara importir energi, kian terpojok karena penguatan dolar sejalan dengan kenaikan harga minyak mentah global akibat konflik Teluk.

Kedigdayaan Dolar AS tidak hanya memukul Yen, melainkan turut merontokkan mata uang utama dunia dan mata uang komoditas lainnya

Euro melemah 0,27 persen menjadi 1,15995 Dolar AS. Poundsterling juga merosot 0,34 persen menjadi 1,3419 Dolar AS. 

Pelemahan juga dialami Dolar Selandia Baru yang tumbang 1,02 persen menjadi 0,5865 Dolar AS. Sedangkan Dolar Australia merosot 0,69 persen menjadi 0,713 Dolar AS. 

Ketegangan di Timur Tengah dan tingginya harga energi yang dipicu penguatan Dolar telah mengubah peta ekspektasi kebijakan moneter global. Alih-alih memangkas suku bunga, pasar kini mulai mengantisipasi pengetatan lanjutan demi meredam inflasi.

Kombinasi data lowongan kerja AS yang melonjak tajam, tertinggi dalam lima tahun terakhir, serta rilis data nonfarm payrolls mendatang, diprediksi akan menjadi bahan bakar baru bagi keperkasaan Dolar AS. 

Pasar bahkan telah memperhitungkan sepenuhnya potensi kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin pada Maret tahun depan jika pasar tenaga kerja AS terbukti tetap solid.

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

DPRD DKI Bakal Panggil Dishub Buntut Tarif Valet Tembus Rp250 Ribu

Minggu, 27 September 2026 | 14:20

UPDATE

Penyerahan Aset Hasil Kejahatan ke Negara jadi Benchmark Baru Penegakan Hukum

Rabu, 07 Oktober 2026 | 22:12

Polda Kalteng Berjibaku Lakukan Pembasahan di Area Titik Panas

Rabu, 07 Oktober 2026 | 21:59

Mazhab Tebet dan Pokok-pokok Pikiran Ekonomi Heterodoks

Rabu, 07 Oktober 2026 | 21:51

Peringati Hari Tani, PalmCo Dorong Kemandirian KUD Melalui Tata Kelola Sawit Berkelanjutan

Rabu, 07 Oktober 2026 | 21:44

Melihat Sahara dari Denyut Pembangunan

Rabu, 07 Oktober 2026 | 21:27

3.474 Napi Pindah ke Nusakambangan, 115 dari Rutan Depok

Rabu, 07 Oktober 2026 | 21:04

Bos Danantara Ungkap Hilirisasi Dongkrak Ekspor Nikel RI 10 Kali Lipat

Rabu, 07 Oktober 2026 | 20:55

KPK Geledah Dinkes Pemkot Madiun, Sita Dokumen hingga Uang Tunai

Rabu, 07 Oktober 2026 | 20:32

Titiek Soeharto Diminta Turun Gunung Pimpin FKPPI

Rabu, 07 Oktober 2026 | 20:25

RUU Migas dan BUK Migas Harus Menyalakan Kembali Mesin Eksplorasi Indonesia

Rabu, 07 Oktober 2026 | 20:01

Selengkapnya