Berita

Kasum TNI Letjen Richard Taruli Tampubolon, memeriksa peti kemas berisi minerba Logam Tanah Jarang di Dermaga Kodaeral IV, Batam. (Foto: Dispen Kodaeral IV)

Politik

Kepri Rawan Dimanfaatkan Jaringan Penyelundupan Internasional

KAMIS, 04 JUNI 2026 | 06:02 WIB | LAPORAN: WIDODO BOGIARTO

Secara geopolitik, lokasi pengungkapan kasus dugaan penyelundupan 390 ton mineral yang mengandung Logam Tanah Jarang (LTJ) dan unsur radioaktif ilegal di perairan Kepulauan Riau (Kepri) memiliki arti yang sangat penting.

Kepri berada di jalur perdagangan internasional yang menghubungkan Indonesia dengan Singapura, Malaysia, Laut China Selatan, hingga kawasan Asia Timur.

Wilayah tersebut sejak lama menjadi salah satu titik paling sibuk dalam lalu lintas maritim dunia.


“Karena itu wilayah tersebut juga rawan dimanfaatkan oleh jaringan penyelundupan internasional,” kata pengamat intelijen dan geopolitik, Amir Hamzah, dikutip Kamis 2026.

Menurut Amir, besarnya volume muatan yang mencapai 390 ton menunjukkan bahwa operasi tersebut kemungkinan telah dirancang secara sistematis.

Ia menilai hampir mustahil pengangkutan mineral strategis dalam jumlah sebesar itu dilakukan secara spontan atau oleh kelompok kecil tanpa jaringan yang terorganisasi.

“Untuk mengangkut ratusan ton mineral strategis diperlukan rantai pasok, pendanaan, dokumen, sarana transportasi, hingga tujuan akhir yang jelas. Karena itu aparat perlu mendalami siapa aktor intelektual di belakang operasi ini,” kata Amir.

Dalam perspektif intelijen, Amir melihat penyelundupan sumber daya strategis sering kali berkaitan dengan operasi ekonomi bawah tanah yang melibatkan banyak pihak.

Ia mengatakan, negara-negara di dunia saat ini sedang menghadapi kompetisi yang sangat ketat dalam memperoleh bahan baku industri teknologi tinggi.

Karena itu, keberadaan jaringan ilegal yang berusaha mengeluarkan mineral strategis dari suatu negara tidak bisa dipandang hanya sebagai tindak kriminal biasa.

“Ketika yang diselundupkan adalah komoditas strategis yang dibutuhkan industri global, maka selalu ada kemungkinan keterlibatan jaringan lintas negara. Inilah yang perlu didalami melalui pendekatan intelijen ekonomi dan intelijen strategis,” pungkas Amir.

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

UPDATE

Tumbuhkan Mimpi Puluhan Anak Nelayan Cilincing Lewat Nobar Film

Senin, 14 September 2026 | 03:18

Sejumlah Alutsista TNI Gercep Sisir Korban KM Virgo Transport 8

Senin, 14 September 2026 | 02:55

Kesehatan di Tepi Republik

Senin, 14 September 2026 | 02:29

Ekonomi Batam Tumbuh 7,28 Persen Bukti Kepercayaan Dunia Usaha Terus Menguat

Senin, 14 September 2026 | 01:54

Terpilih jadi Ketum HPK Kosgoro 1957, Eric Hermawan Langsung Tancap Gas Konsolidasi

Senin, 14 September 2026 | 01:24

Abu Vulkanik Berbahaya bagi Air dan Ikan, Begini Penjelasannya

Senin, 14 September 2026 | 00:55

KDM Dinilai Lebih Utamakan Pencitraan Ketimbang Solusi Defisit APBD Jabar

Senin, 14 September 2026 | 00:33

Menuju HUT ke-81, Panglima TNI Buka Rangkaian 72 Lomba Open Turnamen

Senin, 14 September 2026 | 00:11

SOKSI Siap Tempuh Jalur Hukum Gugat 'Bocor Alus Tempo'

Minggu, 13 September 2026 | 23:48

Asta Cita, Zakat, dan Jalan Baru Mengentaskan Kemiskinan

Minggu, 13 September 2026 | 23:24

Selengkapnya