Berita

Business and Human Rights Specialist Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (United Nations Development Programm/UNDP) Indonesia, Sagita Adesywi, dalam Lokakarya dan Konsultasi Publik Bersama Media, di Bandung, Jawa Barat. (Foto: RMOL/Ahmad Satryo)

Politik

PBB Dorong Implementasi Segera Prinsip Bisnis Berbasis HAM di Indonesia

KAMIS, 04 JUNI 2026 | 02:05 WIB | LAPORAN: AHMAD SATRYO

Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (United Nations Development Programm/UNDP), mendorong implementasi prinsip-prinsip bisnis yang berbasis penegakan hak asasi manusia (HAM), oleh para pelaku usaha di Indonesia.  

Hal itu disampaikan Business and Human Rights Specialist UNDP Indonesia, Sagita Adesywi, dalam Lokakarya dan Konsultasi Publik Bersama Media, di Bandung, Jawa Barat, Rabu 3 Juni 2026.

Dalam Lokakarya yang diselenggarakan UNDP bekerjasama dengan Kementerian HAM ini, prinsip bisnis berbasis HAM menjadi salah satu yang mempengaruhi potensi ekonomi bagi korporasi-korporasi di Indonesia.


“Contoh isu bisnis dan HAM teman-teman bisa perhatikan dari isu di sektor pertambangan misalnya. Dimana, aktivitas pertambangan berdampak negatif pada lingkungan dan kesehatan, serta menimbulkan konflik dengan komunitas lokal,” ujar Sagita.

Belum lagi, Sagita memerhatikan, tren bisnis global saat ini yang menunjukkan 2/3 dari entitas terkaya di dunia saat ini adalar perusahaan multinational bukan pemerintah.

“Ada perusahaan minyak yang lebih kaya daripada banyak pemerintah di Asia, seperti Walmart dan McDonald’s yang termasuk lima besar pemberi kerja swasta terbesar di dunia, dan pendapatan perusahaan besar seperti Apple bahkan melebihi negara-negara besar,” kata Sagita.

Isu bisnis dalam HAM yang paling nyata dan dirasakan masyarakat, dipaparkan Sagita, bahkan dapat ditelaah pada banyak produk yang digunakan sehari-hari, seperti elektronik, pakaian, hingga makanan, karena memiliki ranta pasok yang panjang dan beresiko.

“Negara wajib melindungi rakyat dari pelanggaran HAM oleh bisnis," kata Sagita.

Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

UPDATE

Sopir BYD Penyebab Tabrakan Beruntun di Jaksel jadi Tersangka

Senin, 26 Oktober 2026 | 05:52

Asuransi Tugu Pratama Indonesia Digugat Rp3,51 Miliar ke PN Jaksel

Senin, 26 Oktober 2026 | 05:27

Sukseskan Kemandirian Pangan, Petani Adat Wanam Butuh Pendampingan

Senin, 26 Oktober 2026 | 05:10

DPO Illegal Tapping Pertamina EP Jambi Sukses Diringkus Berkat Sinergitas

Senin, 26 Oktober 2026 | 04:50

TNI Kirim 4,6 Ton Dry Ice ke Banjarmasin dan Palembang Sukseskan OMC Akhiri Karhutla

Senin, 26 Oktober 2026 | 04:25

Refleksi Kisah Nabi Musa AS dan Fir'aun dalam 2 Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran

Senin, 26 Oktober 2026 | 03:34

Walkot Bandung Kedepankan Koordinasi Sikapi Bentrokan Berdarah Pasar Caringin

Senin, 26 Oktober 2026 | 03:14

Startup Binaan IPB Raih Potensi Kerja Sama Rp1 Miliar Tembus Pasar Oman

Senin, 26 Oktober 2026 | 02:47

Dari Nasionalisme ke Tata Kelola dan Reformasi Pasar Modal Indonesia

Senin, 26 Oktober 2026 | 02:17

Boris Tampubolon Beri Tiga Alasan Pasal Kerugian Negara Harus Direvisi

Senin, 26 Oktober 2026 | 01:43

Selengkapnya