Guncangan menghantam pasar keuangan domestik pada perdagangan Rabu 3 Juni 2026. Nilai tukar Rupiah terus tertekan hingga mendekati level Rp18.000 per Dolar Amerika Serikat (AS), sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ikut anjlok lebih dari 5 persen ke level 5.800-an.
Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, menilai tekanan terhadap Rupiah dan IHSG hari ini masih didominasi oleh kekhawatiran pasar terhadap kondisi fiskal RI yang mengkhawatirkan, karena besarnya anggaran program prioritas pemerintah dan defisit yang terus melebar.
"Tren pelemahan Rupiah akibat isu fiskal yang tidak sustainable masih dominan, apalagi pemerintah belum menunjukkan rencana konkret untuk memperbaikinya," kata Wijayanto kepada RMOL.
Selain itu, pencopotan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana dan penggeledahan Kejaksaan Agung (Kejagung) di kantor BGN disebut turut memperparah sentimen negatif di masyarakat.
"Isu di MBG ikut memperparah situasi, apalagi banyak pihak menilai bahwa permasalahan yang sama juga muncul di program-program unggulan lainnya (Koperasi Merah Putih, Sekolah Rakyat dan lain-lain)," jelasnya.
Ia menilai berbagai persoalan dalam pelaksanaan program pemerintah perlu diusut secara menyeluruh, termasuk kemungkinan keterlibatan berbagai pihak di lapangan.
"Kalau ditelusuri pasti banyak yang terlibat, hingga di SPPG-SPPG. Bagaimana dengan KDMP, Sekolah Rakyat, dan lainnya? Harus diusut, tetapi jangan bikin blunder lagi ke depan. Api harus dipadamkan, tapi jangan bikin kebakaran-kebakaran baru," ujarnya.
Mengutip data Bloomberg hingga pukul 13.30 WIB, Rupiah melemah 111 poin atau 0,53 persen ke posisi Rp17.950 per Dolar AS. Level tersebut menjadi salah satu titik terlemah mata uang Garuda sepanjang sejarah.
Pada saat yang sama, pasar saham domestik juga mengalami tekanan berat. Berdasarkan data RTI Business, IHSG merosot 334,8 poin atau 5,41 persen ke level 5.860.
Nilai transaksi di Bursa Efek Indonesia tercatat mencapai Rp15,9 triliun dengan volume perdagangan sebanyak 27 miliar saham dan frekuensi transaksi mencapai 1,9 juta kali.
Tekanan jual terjadi hampir merata di seluruh sektor. Dari total saham yang diperdagangkan, sebanyak 721 saham terkoreksi, hanya 35 saham yang menguat, sementara 57 saham lainnya bergerak stagnan.