Berita

Angka kemiskinan di DKI Jakarta mengalami peningkatan pada Maret 2025. (Foto: Istimewa)

Nusantara

BPS: Angka Kemiskinan di Jakarta Kembali Meningkat

RABU, 03 JUNI 2026 | 06:37 WIB | LAPORAN: WIDODO BOGIARTO

Angka kemiskinan di DKI Jakarta kembali mengalami peningkatan pada Maret 2025 setelah sebelumnya menunjukkan tren penurunan hingga September 2024. 

Kenaikan tersebut menjadi sinyal adanya tekanan ekonomi jangka pendek yang memengaruhi tingkat kesejahteraan masyarakat di Jakarta.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi DKI Jakarta, Kadarmanto mengatakan meski Pemprov DKI Jakarta telah menggulirkan berbagai program bantuan sosial, upaya tersebut belum sepenuhnya mampu mengangkat seluruh penduduk miskin keluar dari jerat kemiskinan.


Perkembangan terbaru menunjukkan bahwa setelah mengalami penurunan hingga September 2024, angka kemiskinan kembali mengalami sedikit peningkatan pada Maret 2025. 

"Ini mengindikasikan adanya tekanan ekonomi jangka pendek yang memengaruhi kondisi kesejahteraan masyarakat," ujar Kadarmanto seperti dilansir dari laman resmi BPS DKI Jakarta, Rabu 3 Juni 2026.

Berdasarkan data BPS Provinsi DKI Jakarta, Kota Jakarta Selatan menjadi wilayah dengan Garis Kemiskinan (GK) tertinggi dibandingkan kabupaten/kota lainnya di DKI Jakarta. Secara umum, seluruh wilayah menunjukkan tren yang sama, namun besaran garis kemiskinan di Jakarta Selatan tercatat jauh lebih tinggi.

Fenomena tersebut sejalan dengan karakteristik kemiskinan perkotaan yang ditandai tingginya biaya hidup, keterbatasan akses terhadap hunian yang terjangkau, serta belum meratanya layanan dasar. Kondisi ini kemudian memicu kesenjangan antarwilayah di kawasan perkotaan.

Selain itu, ketimpangan akses terhadap pendidikan, layanan kesehatan, dan kesempatan kerja juga menjadi faktor yang memperlebar jurang kesejahteraan antarwilayah di Jakarta.

Untuk mengukur jumlah penduduk miskin, BPS menggunakan pendekatan Garis Kemiskinan yang terdiri atas Garis Kemiskinan Makanan (GKM) dan Garis Kemiskinan Non-Makanan (GKNM).

GKM dihitung berdasarkan nilai kebutuhan konsumsi makanan dan minuman setara 2.100 kilokalori per kapita per hari. Komponen ini mencakup 52 jenis komoditas, mulai dari padi-padian, umbi-umbian, ikan, daging, telur, susu, sayuran, hingga buah-buahan dan minyak.

Sementara itu, GKNM mencerminkan kebutuhan minimum untuk perumahan, sandang, pendidikan, dan kesehatan yang diwakili oleh 51 jenis komoditas di wilayah perkotaan.

Pada Maret 2025, Garis Kemiskinan DKI Jakarta tercatat sebesar Rp852.768 per kapita per bulan. Artinya, penduduk dengan tingkat pengeluaran di bawah angka tersebut dikategorikan sebagai penduduk miskin.

Dengan rata-rata jumlah anggota rumah tangga miskin mencapai 4,90 orang, maka kebutuhan minimum yang harus dipenuhi setiap rumah tangga miskin untuk hidup selama satu bulan mencapai Rp4.178.563.

Kadarmanto mengatakan, tren Garis Kemiskinan di Jakarta terus mengalami kenaikan dari tahun ke tahun. Salah satu faktor utama yang mendorong peningkatan tersebut adalah inflasi yang menyebabkan kenaikan harga berbagai kebutuhan pokok.

Tercatat, Garis Kemiskinan pada Maret 2025 naik menjadi Rp852.768 per kapita per bulan dibandingkan Maret 2024 yang sebesar Rp825.288.

Kenaikan itu didorong oleh meningkatnya Garis Kemiskinan Makanan dari Rp571.647 pada Maret 2024 menjadi Rp591.933 pada Maret 2025. Adapun Garis Kemiskinan Non-Makanan juga naik dari Rp253.641 menjadi Rp260.835 pada periode yang sama.

Meski kenaikan Garis Kemiskinan menunjukkan meningkatnya biaya hidup masyarakat, BPS menilai kondisi tersebut menjadi indikator penting bagi pemerintah untuk memperkuat efektivitas program perlindungan sosial dan memperluas akses masyarakat terhadap layanan dasar guna menekan laju kemiskinan di DKI Jakarta.

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

UPDATE

Denny Indrayana Optimistis MK Diskualifikasi Gibran

Senin, 05 Oktober 2026 | 10:05

Harga Minyak Dunia Membara, Rupiah Kembali Dekati Rp18.000 per Dolar AS

Senin, 05 Oktober 2026 | 10:03

Prabowo Pimpin Upacara HUT ke-81 TNI di Cilangkap

Senin, 05 Oktober 2026 | 09:55

Nonton Film ‘Istimewa’ Bareng Penyandang Disabilitas, Legislator PKS Dorong Kesetaraan

Senin, 05 Oktober 2026 | 09:49

Masuknya RG Jadi Wantimpres Pelajaran untuk Tak Terlalu Anti Kekuasaan

Senin, 05 Oktober 2026 | 09:43

Ribuan Prajurit Dikerahkan Dalam HUT ke-81 TNI di Cilangkap

Senin, 05 Oktober 2026 | 09:34

SBY dan Jokowi Kompak Hadir di Upacara HUT Ke-81 TNI

Senin, 05 Oktober 2026 | 09:33

IHSG Positif di Awal Perdagangan

Senin, 05 Oktober 2026 | 09:32

Profil Komandan Upacara HUT Ke-81 TNI Letjen TNI Lucky Avianto

Senin, 05 Oktober 2026 | 09:18

KPK Telusuri Dugaan Setoran dari Wajib Pajak Sektor Pertambangan di Banjarmasin

Senin, 05 Oktober 2026 | 09:17

Selengkapnya