Berita

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengklaim bahwa Israel dan Hizbullah telah menyepakati penghentian pertempuran (Akun Truth Social @realDonaldTrump)

Dunia

Trump Umumkan Gencatan Senjata Israel-Hizbullah

SELASA, 02 JUNI 2026 | 07:24 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengklaim bahwa Israel dan Hizbullah telah menyepakati penghentian pertempuran.

Lewat unggahan di media sosial Truth Social, Trump mengatakan bahwa ia telah berbicara langsung dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Menurutnya, Netanyahu berjanji tidak akan melanjutkan ancaman invasi ke pinggiran selatan Beirut dan tidak akan mengirim pasukan ke wilayah tersebut.

“Saya melakukan percakapan yang sangat produktif dengan Perdana Menteri Bibi Netanyahu dari Israel, dan tidak akan ada pasukan yang dikirim ke Beirut. Pasukan yang sedang dalam perjalanan juga telah dipulangkan,” tulis Trump, dikutip Selasa, 2 Juni 2026.


Ia juga mengaku telah berkomunikasi dengan perwakilan Hizbullah yang disebutnya menyetujui penghentian seluruh aksi penembakan.

“Melalui perwakilan tingkat tinggi, saya juga melakukan percakapan yang sangat baik dengan Hizbullah. Mereka setuju untuk menghentikan semua penembakan. Israel tidak akan menyerang mereka, dan mereka juga tidak akan menyerang Israel," lanjut Trump.

Tak lama setelah pernyataan Trump, kantor Presiden Lebanon Joseph Aoun menyatakan bahwa proposal tersebut mencakup penghentian serangan Israel ke pinggiran selatan Beirut sebagai imbalan atas dihentikannya serangan Hizbullah ke wilayah Israel. Beirut juga mengaku telah menerima konfirmasi bahwa Hizbullah menyetujui rencana penghentian serangan bersama tersebut. Gencatan senjata itu disebut akan diperluas ke seluruh wilayah Lebanon.

Namun, beberapa jam setelah pengumuman itu, kantor berita resmi Lebanon melaporkan bahwa serangan udara Israel masih berlangsung di sejumlah wilayah Lebanon selatan. Laporan tersebut belum dapat diverifikasi secara independen, sehingga efektivitas kesepakatan yang diumumkan Trump masih dipertanyakan.

Sebelumnya pada hari yang sama, ribuan warga meninggalkan kawasan Dahiyeh di selatan Beirut setelah pemerintah Israel memerintahkan serangan terhadap wilayah yang dikenal sebagai basis dukungan Hizbullah tersebut. Perintah itu keluar sehari setelah pasukan Israel mencapai titik penetrasi terdalam mereka ke Lebanon dalam lebih dari 25 tahun. 

Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, bahkan menegaskan bahwa “tidak akan ada ketenangan di Beirut” jika serangan Hizbullah terus berlanjut. Ia juga berjanji akan membentuk zona keamanan yang dikendalikan militer Israel di sekitar Sungai Litani, Lebanon selatan.

Sementara itu, Netanyahu menegaskan bahwa operasi militer Israel di Lebanon akan terus diperluas. Setelah pasukan Israel merebut Kastil Beaufort di Lebanon selatan, ia menyebut operasi tersebut sebagai “perubahan dramatis” dalam kampanye melawan Hizbullah.

“Sekarang arahan saya adalah memperdalam dan memperluas cengkeraman kita di wilayah yang berada di bawah kendali Hizbullah. Perebutan Beaufort merupakan tahapan dan perubahan yang dramatis dalam kebijakan yang kami jalankan,” kata Netanyahu.

Konflik yang meningkat sejak 2 Maret telah menyebabkan lebih dari satu juta warga Lebanon mengungsi. Data terbaru Kementerian Kesehatan Lebanon menunjukkan sedikitnya 3.412 orang tewas dan 10.269 lainnya terluka akibat serangan Israel. 

Meski gencatan senjata pernah diumumkan pada 17 April, kedua pihak terus saling menuduh melanggar kesepakatan tersebut.

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

UPDATE

Jawab Tantangan Digital, Bawaslu Jadikan Kampus Laboratorium Demokrasi

Kamis, 01 Oktober 2026 | 05:54

DPD Ungkap Pola Investor ‘Berjudi’ Properti di Bali, Beli Aset Lalu Jual Lagi

Kamis, 01 Oktober 2026 | 05:24

Denny Indrayana Cs Debat Sengit dengan KPU soal Verifikasi Data Calon

Kamis, 01 Oktober 2026 | 04:50

Nakhoda KM Virgo Transport 8 Langsung Ditahan Penyidik

Kamis, 01 Oktober 2026 | 04:20

Digagas di Era Purbaya, Wacana Insentif Motor Listrik Masih Belum Jelas

Kamis, 01 Oktober 2026 | 03:59

Saksi Denny Indrayana Ungkap Tak Ada Bahasa Verifikasi Faktual Dokumen Capres-cawapres

Kamis, 01 Oktober 2026 | 03:34

Sjafrie Sematkan Tanda Kehormatan ke Tentara Jepang yang Bantu Atasi Karhutla

Kamis, 01 Oktober 2026 | 03:09

Kader PDIP Berpotensi Jabat Wapres Jika Gibran Didiskualifikasi

Kamis, 01 Oktober 2026 | 02:55

TNI Hormati Kejagung Imbas Penetapan Kolonel Budi Tersangka Korupsi MBG

Kamis, 01 Oktober 2026 | 02:42

Kemenperin Dukung Impor KRL Bekas dari Jepang, Ini Alasannya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 02:18

Selengkapnya