Berita

Heri Herdiawanto. (Foto: Dokumentasi Penulis)

Publika

Refleksi 1 Juni, Demokrasi dan Core Values Pancasila

SENIN, 01 JUNI 2026 | 20:20 WIB

BANGSA Indonesia bersyukur dan beruntung memiliki Pancasila sebagai pedoman hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Pancasila memiliki nilai-nilai inti, praktis dan strategis (core Values). 

Oleh karena itu bangsa Indonesia sejatinya menjadikan tolok ukur Pancasila dalam berbagai bidang, atau aspek pembangunan. Di dalam momentum hari lahir Pancasila, yang kita peringati setiap 1 Juni, relevan jika dikaitkan dengan situasi sekarang yang terjadi degradasi nilai akibat over informasi yang cenderung pesimis dan menyalahkan program-program pemerintah dan dipersepsikan berakhir gagal. 

Padahal idealnya dalam konteks pembangunan untuk kemajuan bangsa sejatinya mendapat dukungan seluruh lapisan rakyat Indonesia. Kemudian bagaimana Pancasila bisa menjadi titik temu dan menjadikan Pancasila sebagai tolok ukur atau indikatornya. 


Maka dalam posisi Pancasila sebagai sumber nilai  sistem politik {Demokrasi), maka tepat kita merefleksikan ulang dalam momentum hari kelahirannya. Refleksi dalam pengertian kritik obyektif dan bijaksana serta introspeksi bersama sebagai bangsa ber-Bhineka Tunggal Ika dalam bingkai NKRI.

Demokrasi Pancasila dikritik karena ada gap antara idealitas dan realitas, misalnya seperti musyawarah untuk mufakat faktanya jauh panggang daripada api. Kemudian keadilan sosial masih jauh dari kenyataannya. Hal lainnya implementasi dari kebebasan berpikir, berpendapat dan berekspresi malah berhadapan dengan dominasi kekuasaan. 

Sehingga masyarakat merasa ada pengekangan kebebasan berpendapat dengan dalih stabilitas sehingga berujung pada pudarnya semangat musyawarah.

Berikut adalah beberapa harapan terhadap praktik Demokrasi Pancasila:

Pertama, Menghindari penafsiran sepihak terhadap Pancasila sebagaimana dipraktikkan pada masa Orde Baru, melalui P-4 dan BP-7. Demokrasi Pancasila ditafsirkan rezim Orde Baru secara tunggal oleh penguasa untuk melanggengkan kekuasaan dan membungkam oposisi. Oleh karena itu pada era reformasi saat ini, kebebasan individu dan hak untuk mengkritik pemerintah yang obyektif tidak dibatasi dengan dalih menjaga stabilitas nasional. Kritik yang subyektif mengkhawatirkan akan hilangnya batas yang jelas antara kritik yang sehat dan ancaman bagi kelangsungan pembangunan. 

Kedua, mendahulukan musyawarah mufakat dan menghindari fenomena demokrasi transaksional melalui dominasi oligarki. Hal demikian terjadi, karena dalam penerapannya, prinsip "musyawarah mufakat" sering kali terdistorsi menjadi transaksi politik elit dan partai politik di balik layar. Aspirasi rakyat sering kali dikesampingkan demi mengakomodasi kepentingan oligarki dalam koalisi partai, sehingga menjauhkan sistem ini dari kedaulatan rakyat. 

Ketiga, terwujudnya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia melalui konsistensi penegakan hukum dan Hak Asasi Manusia (HAM). Cita-cita kelima sila Pancasila dinilai belum terwujud sepenuhnya, tergambar dalam fakta ketimpangan ekonomi, masalah korupsi, mafia hukum  masih menjadi tantangan utama yang mencerminkan lemahnya keadilan sosial. Praktik penegakan hukum dan perlindungan HAM dinilai masih tebang pilih, dan Masyarakat/kebebasan sipil sering kali menghadapi intimidasi atau kriminalisasi saat memperjuangkannya dalam bingkai hak-hak ruang hidup rakyat. 

Keempat, menolak budaya demokrasi Transaksional/Politik Uang, meskipun spiritnya berasaskan kekeluargaan dan gotong royong namun Pemilu dan Pilkada kerap diwarnai dengan politik uang dan klien-telisme. Hal ini menyebabkan pemimpin yang terpilih sering kali bertanggung jawab kepada penyandang dana daripada konstituennya. Harapan ke depan dinamika politik tidak mengutamakan pencitraan atau gimmick tapi mengadu gagasan dan program kerja yang mengakar pada kepentingan rakyat.

Kelima, penguatan fungsi pengawasan (Checks and Balances), berlatar belakang sejarah politik Indonesia yang mengutamakan konsensus, peran oposisi sering kali dipandang sebagai hambatan. Dampak lemahnya fungsi kontrol maka memicu menguatnya koalisi gemuk di pemerintahan dan membuat pengawasan terhadap kebijakan publik menjadi sangat lemah. Oleh karena itu harapan bagi seluruh komponen bangsa Indonesia marilah dalam melakukan pengawasan obyektif bidang politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan  dan  keamanan memakai tolok ukur keberhasilan secara ideal dengan Pancasila. 

Dalam bidang sistem politik demokrasi sejatinya harus mencerminkan implementasi nilai sila  kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan. Dalam bidang ekonomi harus mencerminkan spirit nilai keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia. Sedangkan dalam bidang sosial harus menjamin nilai sila persatuan Indonesia. Dalam bidang budaya mengandung spirit nilai sila  kemanusiaan  yang adil dan beradab. 

Berdasarkan hal di atas maka kokohnya kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara akan menunjang terwujudnya pertahanan dan keamanan yang sehat dan dinamis. Akhirnya cita-cita nasional bangsa Indonesia menjadi masyarakat yang adil dan makmur insyaAllah optimis terwujud dalam lindungan Tuhan Yang Maha Esa. Wallahu'alam bishawab.

Heri Herdiawanto
Researcher Merah Pusaka Stratejik Institute (MPSI)

 


Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

TNI Kuasai Wilayah OPM di Intan Jaya dan Sita Sejumlah Senjata

Minggu, 16 Agustus 2026 | 01:24

Profil Akhmad Sodiq, Rektor Unsoed yang Terjaring OTT KPK

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:02

Belasan Teman Jokowi Bagusnya Batal Jadi Saksi Sidang soal Ijazah

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 03:14

Praperadilan Dokter Tifa Ditolak, Ini Pertimbangan Hakim

Jumat, 21 Agustus 2026 | 10:25

UPDATE

Jaga Energi dan Cairan, Tantangan 14.000 Pelari Maybank Marathon 2026

Senin, 24 Agustus 2026 | 08:25

Bawa Hasil Riset UGM ke Bursa, SWAP Bidik Dana Segar Rp45 Miliar Lewat IPO\

Senin, 24 Agustus 2026 | 08:14

BEI Agendakan RUPSLB, Catat Syarat Kehadirannya

Senin, 24 Agustus 2026 | 08:00

Iran Anggap Negara Pendukung Perang Ekonomi AS sebagai Musuh

Senin, 24 Agustus 2026 | 07:21

ASBI Laporkan Dugaan Penggelapan ke BEI-OJK, Enam Pihak Jadi Terlapor

Senin, 24 Agustus 2026 | 07:03

Hasil Penelitian Ungkap Air Galon Guna Ulang Tak Berisiko Kanker

Senin, 24 Agustus 2026 | 07:02

Pemuda Katolik NTT Berangkatkan Puluhan Relawan ke Flores

Senin, 24 Agustus 2026 | 06:42

PAN Launching Lapor PAN dan PANsar Murah

Senin, 24 Agustus 2026 | 06:27

Pertina Bawa Polemik Legalitas ke PTUN dan PN Jakpus

Senin, 24 Agustus 2026 | 06:14

TNI AL Berhasil Operasi Patah Tulang Korban Gempa NTT di KRI

Senin, 24 Agustus 2026 | 06:02

Selengkapnya