Berita

Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa. (Foto: RMOL/Alifia)

Bisnis

Purbaya Klaim Pelemahan Rupiah Belum Berdampak ke Ekonomi

SENIN, 01 JUNI 2026 | 18:37 WIB | LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA

Pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) dipastikan belum mengganggu kondisi fiskal nasional. 

Hal tersebut disampaikan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Bendahara negara itu mengklaim pergerakan kurs yang terjadi saat ini telah diperhitungkan dalam penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

“Dari sisi anggaran, kami sudah memperhitungkan depresiasi Rupiah hingga mendekati level saat ini. Jadi, anggaran saya masih oke meskipun Rupiah melemah ke level saat ini,” ujar Purbaya di Wisma Danantara, dikutip Senin 1 Juni 2026.


Menurutnya, pemerintah saat ini tidak hanya fokus pada pergerakan nilai tukar Rupiah, melainkan menjaga momentum pertumbuhan ekonomi agar tetap kuat dalam jangka pendek, menengah, maupun panjang.

Purbaya mengatakan, fundamental ekonomi yang solid akan menjadi faktor utama yang menopang penguatan Rupiah ke depan.

“Itu pada akhirnya akan memperkuat mata uang hampir secara otomatis karena saya percaya investor, terutama FDI dan investor asing, akan suka berinvestasi di negara yang menawarkan pertumbuhan paling menjanjikan di kawasan ini," jelas Purbaya.

Ia menambahkan, laju pertumbuhan ekonomi Indonesia masih tergolong tinggi dibandingkan banyak negara lain. Bahkan di antara negara-negara anggota G20, Indonesia disebut berada di posisi kedua setelah India.

“Prospek ekonomi Indonesia kuat dan pelemahan Rupiah sejauh ini belum menimbulkan dampak yang menghambat aktivitas ekonomi,” katanya.

"Dan jika kita melihat Bloomberg dan Al Jazeera, berita mengatakan bahwa AS, Iran, dan Israel sangat dekat untuk mencapai kesepakatan, bukan? Jadi prospek perdamaian, kondisi global yang lebih baik ada di sana. Dan saya percaya dalam dua atau tiga bulan ke depan akan jauh lebih baik daripada sekarang," pungkasnya.

Untuk diketahui selama dua bulan terakhir Rupiah terus tertekan hingga mendekati level Rp18.000 per Dolar AS. Mengutip data Bloomberg, Rupiah sore ini ditutup di Rp17.805 per Dolar AS, menguat 76 poin dari perdagangan sebelumnya. 

Sejak awal tahun (ytd) hingga akhir Mei 2026, Rupiah sendiri sudah melemah 6,7 persen, sementara dalam satu bulan terakhir, depresiasi mencapai 3,1 persen.


Populer

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

UPDATE

Tak Hanya Mobil Listrik, Hybrid Juga Diusulkan Bebas Ganjil-Genap

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:31

Kabinet Watch Penting untuk Ruang Dialog Menteri dan Kelompok Kritis

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:25

Dumai Transshipment Hub: Ujian Geopolitik Maritim Indonesia

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:17

Laba Emiten Naik 15 Persen, Danantara Minta Investor Tak Terpaku Sentimen Pasar

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:16

Apple Siap Gelar Acara Pro and Tell Akhir Oktober 2026

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:09

12.000 Lowongan Kerja Dibuka di Jakarta untuk Semua Kalangan

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:08

BAZNAS dan Ruang Amal Indonesia Antarkan 47 Mustahik ke Dunia Kerja

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:06

KPK Bakal Secepatnya Kembali Panggil Nusron Wahid

Kamis, 22 Oktober 2026 | 11:48

Wacana Dumai Transshipment Hub Perlu Dukungan, Pelindo Harus Lebih Bertaring di Selat Malaka

Kamis, 22 Oktober 2026 | 11:47

Terancam Turun Kelas, Danantara Akui Sentimen MSCI Tak Bisa Dianggap Enteng

Kamis, 22 Oktober 2026 | 11:33

Selengkapnya