LELAH! Informasi beredar tanpa henti, paparan berbagai berita buruk
menciptakan kelelahan emosional. Sentuhan layar dan
scrolling di media sosial, melihat berita korupsi,
pelemahan nilai tukar Rupiah, yang menyesakkan dada. Kecemasan mental
individu, tereksploitasi sistematis.
Dalam neurosains, otak
manusia secara evolusioner dilengkapi insting bertahan hidup yang
disebut bias negativitas (negativity bias). Insting
ini memprogram untuk selalu lebih peka dan merespons ancaman, jauh lebih
cepat daripada kabar baik (Knutson et al., 2024). Di abad modern,
insting purba tersebut dikomodifikasi secara agresif oleh algoritma.
Teknologi
sejenis platform digital tidak mempedulikan kewarasan publik, melainkan
berusaha untuk menahan atensi selama mungkin. Karena otak secara alami
terpancing stimulus ketakutan dan kemarahan, algoritma sengaja
menyodorkan konten negatif berintensitas tinggi (high arousal
negative) agar kita terus berinteraksi (Rathje et al., 2024).
Proses pembajakan kognitif berskala masif, melahirkan penyakit psikologis massal.
Sindrom Dunia KejamDampak
paparan konten negatif tanpa henti, adalah kemunculan sindrom dunia
kejam (
mean world syndrome). Dicetuskan George
Gerbner (1981), sindrom yang menjelaskan bahwa intensitas tinggi suguhan
berita kekerasan, mengembangkan bias bahwa dunia jauh lebih berbahaya
dan sinis pada fakta statistik.
Tetapi situasinya terbilang
kompleks, ketika konteks realitas sosialnya memang dirasakan memburuk.
Ketidakpercayaan pada institusi kekuasaan, adalah hasil sintesis dari
kinerja buruk kelembagaan dan kerusakan sistemik birokrasi. Pemberitaan
mengamplifikasi kondisi tersebut, termanifestasi menjadi fenomena
peradilan jalanan.
Publik lantas merasa dikepung oleh
ketidakadilan, kemudian berhenti mempercayai prosedur hukum formal.
Hukum dipersepsikan hanya tajam ke bawah dan tumpul ke atas, kecuali
jika didukung populasi besar, dan keadilan ditentukan melalui besaran
kerumunan.
Kelelahan EmpatiDimensi yang tak kalah
merusak adalah kelelahan empati (
compassion fatigue).
Kapasitas otak dirancang untuk bersimpati pada penderitaan komunitas
terdekat. Tidak mampu menampung problem yang terjadi dalam jangkauan
lebih luas, secara berkelanjutan.
Survei Pew Research Center
(2024), menemukan lebih separuh audiens yang mengikuti berita krisis
merasa kehabisan tenaga secara mental. Sebagai mekanisme pertahanan
diri, terjadi seleksi bobot pikiran yang pada akhirnya memutuskan tombol
empati.
Terjadi efek mati rasa (desensitisasi). Tragedi
kemanusiaan awalnya membuat menangis, terdegradasi menjadi tontonan
visual atau kebisingan (
noise) digital yang dilewati
begitu saja.
Ketidakberdayaan DemokrasiStadium
puncak patologi publik adalah ketidakberdayaan yang dipelajari
(
learned helplessness). Manakala publik dibombardir
krisis sistemik, seolah tidak berujung, seperti rangkaian korupsi,
hilangnya keadilan, merosotnya ekonomi, konsekuensi akhirnya bermuara
pada kesadaran bahwa aksi perlawanan apa pun tidak mengubah keadaan
(Meng & Berezina, 2020).
Tercipta nuansa publik, bahwa semua
politisi sama saja, atau sistem sudah terlalu busuk untuk diperbaiki,
menyedot habis motivasi untuk berpartisipasi dalam menjaga demokrasi,
bak layu sebelum berkembang.
Paradoks melanda, melorotnya Indeks
Persepsi Korupsi (IPK) pada skor buruk (TI, 2025), justru disertai
survei kepuasan publik terhadap kepemimpinan figur sentral justru
meroket tinggi (IPI, 2025). Dalam perspektif psikologis, membuktikan
terjadinya kepasrahan absolut.
Publik terlalu lelah secara
mental (
cognitive fatigue), hingga menitipkan sisa
harapan secara membabi buta pada pesona figur penguasa yang dianggap
kuat, sembari mundur perlahan dari kewajiban mengawal jalannya
demokrasi.
Merebut KewarasanDiperlukan upaya untuk
merawat kewarasan publik, dan menghindari penyakit psikologis publik,
agar menjadi subjek dan aktor penentu dari kehidupan bersama, bukan
hanya objek penderita.
Pada tingkat individu, perlu kritis atas
informasi yang mendera. Memiliki literasi untuk memilah representasi
realitas, sehingga menjaga kapasitas empati. Disamping itu dibutuhkan
kolaborasi bersama, dalam mengoreksi arah melenceng kekuasaan. Sementara
di level struktural, diperlukan kemauan dan komitmen untuk
mengembalikan kepercayaan publik.
Jangan sampai kemerdekaan
individu dirampas, atau bahkan kehilangan sisi paling manusiawi yang
dimiliki, yakni kepedulian tulus serta harapan bila hidup ini masih
layak diperjuangkan.
Penulis sedang Menempuh Program Doktoral Ilmu Hukum Universitas Islam Sultan Agung