Berita

Ilustrasi ketergantungan gadget. (Foto: artificial intelligence)

Publika

Tersandera Kelelahan Sosial

SENIN, 01 JUNI 2026 | 16:00 WIB | OLEH: YUDHI HERTANTO

LELAH! Informasi beredar tanpa henti, paparan berbagai berita buruk menciptakan kelelahan emosional. Sentuhan layar dan scrolling di media sosial, melihat berita korupsi, pelemahan nilai tukar Rupiah, yang menyesakkan dada. Kecemasan mental individu, tereksploitasi sistematis.

Dalam neurosains, otak manusia secara evolusioner dilengkapi insting bertahan hidup yang disebut bias negativitas (negativity bias). Insting ini memprogram untuk selalu lebih peka dan merespons ancaman, jauh lebih cepat daripada kabar baik (Knutson et al., 2024). Di abad modern, insting purba tersebut dikomodifikasi secara agresif oleh algoritma.

Teknologi sejenis platform digital tidak mempedulikan kewarasan publik, melainkan berusaha untuk menahan atensi selama mungkin. Karena otak secara alami terpancing stimulus ketakutan dan kemarahan, algoritma sengaja menyodorkan konten negatif berintensitas tinggi (high arousal negative) agar kita terus berinteraksi (Rathje et al., 2024).
 

 
Proses pembajakan kognitif berskala masif, melahirkan penyakit psikologis massal.

Sindrom Dunia Kejam

Dampak paparan konten negatif tanpa henti, adalah kemunculan sindrom dunia kejam (mean world syndrome). Dicetuskan George Gerbner (1981), sindrom yang menjelaskan bahwa intensitas tinggi suguhan berita kekerasan, mengembangkan bias bahwa dunia jauh lebih berbahaya dan sinis pada fakta statistik.

Tetapi situasinya terbilang kompleks, ketika konteks realitas sosialnya memang dirasakan memburuk. Ketidakpercayaan pada institusi kekuasaan, adalah hasil sintesis dari kinerja buruk kelembagaan dan kerusakan sistemik birokrasi. Pemberitaan mengamplifikasi kondisi tersebut, termanifestasi menjadi fenomena peradilan jalanan.

Publik lantas merasa dikepung oleh ketidakadilan, kemudian berhenti mempercayai prosedur hukum formal. Hukum dipersepsikan hanya tajam ke bawah dan tumpul ke atas, kecuali jika didukung populasi besar, dan keadilan ditentukan melalui besaran kerumunan.

Kelelahan Empati

Dimensi yang tak kalah merusak adalah kelelahan empati (compassion fatigue). Kapasitas otak dirancang untuk bersimpati pada penderitaan komunitas terdekat. Tidak mampu menampung problem yang terjadi dalam jangkauan lebih luas, secara berkelanjutan.
 
Survei Pew Research Center (2024), menemukan lebih separuh audiens yang mengikuti berita krisis merasa kehabisan tenaga secara mental. Sebagai mekanisme pertahanan diri, terjadi seleksi bobot pikiran yang pada akhirnya memutuskan tombol empati.

Terjadi efek mati rasa (desensitisasi). Tragedi kemanusiaan awalnya membuat menangis, terdegradasi menjadi tontonan visual atau kebisingan (noise) digital yang dilewati begitu saja.

Ketidakberdayaan Demokrasi

Stadium puncak patologi publik adalah ketidakberdayaan yang dipelajari (learned helplessness). Manakala publik dibombardir krisis sistemik, seolah tidak berujung, seperti rangkaian korupsi, hilangnya keadilan, merosotnya ekonomi, konsekuensi akhirnya bermuara pada kesadaran bahwa aksi perlawanan apa pun tidak mengubah keadaan (Meng & Berezina, 2020).

Tercipta nuansa publik, bahwa semua politisi sama saja, atau sistem sudah terlalu busuk untuk diperbaiki, menyedot habis motivasi untuk berpartisipasi dalam menjaga demokrasi, bak layu sebelum berkembang.

Paradoks melanda, melorotnya Indeks Persepsi Korupsi (IPK) pada skor buruk (TI, 2025), justru disertai survei kepuasan publik terhadap kepemimpinan figur sentral justru meroket tinggi (IPI, 2025). Dalam perspektif psikologis, membuktikan terjadinya kepasrahan absolut.
 
Publik terlalu lelah secara mental (cognitive fatigue), hingga menitipkan sisa harapan secara membabi buta pada pesona figur penguasa yang dianggap kuat, sembari mundur perlahan dari kewajiban mengawal jalannya demokrasi.

Merebut Kewarasan

Diperlukan upaya untuk merawat kewarasan publik, dan menghindari penyakit psikologis publik, agar menjadi subjek dan aktor penentu dari kehidupan bersama, bukan hanya objek penderita.

Pada tingkat individu, perlu kritis atas informasi yang mendera. Memiliki literasi untuk memilah representasi realitas, sehingga menjaga kapasitas empati. Disamping itu dibutuhkan kolaborasi bersama, dalam mengoreksi arah melenceng kekuasaan. Sementara di level struktural, diperlukan kemauan dan komitmen untuk mengembalikan kepercayaan publik.

Jangan sampai kemerdekaan individu dirampas, atau bahkan kehilangan sisi paling manusiawi yang dimiliki, yakni kepedulian tulus serta harapan bila hidup ini masih layak diperjuangkan.

Penulis sedang Menempuh Program Doktoral Ilmu Hukum Universitas Islam Sultan Agung

Populer

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

UPDATE

Prabowo Tegaskan Indonesia Tidak Takut Ancaman MSCI

Rabu, 21 Oktober 2026 | 16:32

Buruh Usul UMP 2027 Naik 9,5 Persen, Ini Respons Menaker

Rabu, 21 Oktober 2026 | 16:20

Ombudsman Ungkap Titik Rawan Korupsi di Layanan Pertanahan dan Kebencanaan

Rabu, 21 Oktober 2026 | 16:19

Kasus CSR BI Jalan di Tempat, MAKI dan ARUKKI Bersiap Ajukan Praperadilan

Rabu, 21 Oktober 2026 | 16:12

Pembenahan MBG hingga Program 3 Juta Rumah jadi PR Besar Prabowo

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:59

Begini Jurus BI Stabilkan Rupiah Hadapi Ancaman MSCI hingga Konflik Geopolitik

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:58

Nusron Hadiri Sidang Kabinet Paripurna setelah Dua Kali Absen Pemeriksaan KPK

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:53

PJJ dan WFH Bisa Jadi Opsi Antisipasi Asap Karhutla

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:53

UU Pelindungan Ketenagakerjaan Masih Diproses Setneg, Yassierli Minta Publik Bersabar

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:50

Event Konser hingga Festival Belanja Jadi Mesin Uang Jakarta

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:48

Selengkapnya