Berita

Sekjen DPP PDIP Hasto Kristiyanto (Foto: RMOL/Faisal Aristama)

Politik

PDIP: Kehadiran Megawati di Istana Tak Terkait Oposisi atau Koalisi

SENIN, 01 JUNI 2026 | 13:38 WIB | LAPORAN: FAISAL ARISTAMA

Kehadiran Presiden ke-5 RI sekaligus Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri bersama Presiden Prabowo Subianto dalam Upacara Hari Lahir Pancasila di Istana Negara, Senin 1 Juni 202,6 tidak dapat dimaknai secara sederhana dalam konteks oposisi maupun koalisi.

Sekretaris Jenderal DPP PDIP, Hasto Kristiyanto, menegaskan bahwa kehadiran Megawati didasari semangat untuk menghayati dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila secara utuh, bukan sekadar memperingati aspek historis kelahirannya.

"Ya, dari arahan Ibu Ketua Umum sangat jelas bahwa memperingati Pancasila bukan dilihat dari aspek historisnya semata, tapi memahami seluruh falsafahnya, narasi, dan spirit pembebasan," kata Hasto kepada wartawan usai upacara Hari Lahir Pancasila di Masjid At-Taufiq, Lenteng Agung, Jakarta Selatan.


Menurut Hasto, Pancasila lahir dari perenungan mendalam para pendiri bangsa untuk mewujudkan kemerdekaan yang sejati bagi seluruh rakyat Indonesia. Karena itu, nilai-nilai yang terkandung di dalamnya harus diwujudkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Ia juga menyebut Megawati memandang Pancasila sebagai fondasi geopolitik Indonesia yang dapat menjadi rujukan dalam membangun tatanan dunia yang lebih adil, sekaligus memperkuat peran Indonesia di tingkat global.

"Karena itulah Indonesia dengan Pancasila seharusnya menjadi contoh keteladanan bagaimana nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, kebangsaan, musyawarah, dan keadilan sosial itu betul-betul diwujudkan," ujarnya.

Hasto menambahkan, Pancasila berpihak kepada rakyat kecil, mulai dari petani, buruh, nelayan, hingga kelompok masyarakat yang rentan terhadap berbagai bentuk ketidakadilan.

"Karena Pancasila itu berpihak dari narasi falsafah manusia yang diambil dari kaum Marhaen, rakyat petani, buruh, nelayan, mereka yang miskin dan yang menjadi korban dari sistem kapitalisme global," jelasnya.

Saat ditanya apakah kehadiran Megawati di Istana menjadi sinyal perubahan posisi politik PDIP, Hasto menegaskan bahwa sistem ketatanegaraan Indonesia tidak mengenal konsep oposisi sebagaimana dipahami dalam sejumlah negara lain.

"Lha kita kan tidak mengenal adanya oposisi dalam konstitusi pemerintahan negara kita," tegasnya.

Menurut Hasto, Presiden Prabowo juga menghormati posisi PDIP sebagai kekuatan penyeimbang dalam demokrasi.

"Bahkan dalam pidato Presiden Prabowo yang tadi juga saya kutip, beliau menghormati posisi PDI Perjuangan sebagai penyeimbang. Presiden Prabowo menegaskan dalam rapat paripurna DPR bahwa demokrasi memerlukan check and balances, demokrasi memerlukan kritik," kata Hasto.

Lebih lanjut, Hasto mengingatkan pentingnya menjaga ruang demokrasi dan menghormati suara-suara kritis dari masyarakat sipil. Menurutnya, kritik merupakan bentuk kepedulian agar penyelenggaraan pemerintahan dapat berjalan lebih baik.

"Kami mendengar bahwa minggu-minggu ini akan dilakukan pemanggilan terhadap beberapa kelompok masyarakat sipil yang mereka bersuara kritis. Suara kritis itu terkandung kebenaran. Suara kritis itu muncul dari rasa cinta agar pemerintahan negara itu bisa berjalan dengan baik," tuturnya.

Karena itu, Hasto berharap pemerintah membuka ruang dialog terhadap berbagai masukan dari masyarakat dan tidak merespons kritik dengan pendekatan yang berpotensi membatasi kebebasan berpendapat.

"Karena itulah sebaiknya kita mendengarkan berbagai masukan, berbagai suara kritis, jangan kemudian dibungkam dengan menggunakan pasal-pasal karet di dalam hukum," pungkasnya.

Populer

Jumlah Personel TNI Tidak Masuk Akal

Sabtu, 30 Mei 2026 | 03:36

Penutupan Alfamart dan Indomaret Jangan Salahkan KDKMP

Kamis, 28 Mei 2026 | 06:00

Raksasa Telekomunikasi Ini Bakal Dibubarkan Danantara

Senin, 25 Mei 2026 | 08:33

PT PMM Keberatan 15 Kontainer Mineral Ekspor Dibongkar Aparat

Minggu, 24 Mei 2026 | 16:43

PT DSI Resmi jadi BUMN dan Siap Buka Rekrutmen

Senin, 25 Mei 2026 | 23:14

Pengacara Blueray Cargo Ragu Amplop Suap Kode 1 Diterima Dirjen Bea Cukai

Selasa, 26 Mei 2026 | 23:19

Keputusan Bisnis Dipidanakan, Nicko Widjaja Tulis Surat dari Rumah Tahanan

Jumat, 22 Mei 2026 | 17:34

UPDATE

Keakraban Prabowo dan Megawati di Hari Lahir Pancasila

Senin, 01 Juni 2026 | 14:21

Hasto Soroti Fiskal hingga Demokrasi Tanggapi Rencana Jokowi Keliling Indonesia

Senin, 01 Juni 2026 | 14:19

Patroli Jalan Kaki Berujung Penangkapan Anggota KKB Intan Jaya

Senin, 01 Juni 2026 | 13:43

PDIP: Kehadiran Megawati di Istana Tak Terkait Oposisi atau Koalisi

Senin, 01 Juni 2026 | 13:38

Prabowo Dorong Transformasi Nasional Menuju Ekonomi Pancasila

Senin, 01 Juni 2026 | 13:37

Keandalan Listrik Jadi Prioritas untuk Dukung Pertumbuhan Ekonomi

Senin, 01 Juni 2026 | 13:31

Kenapa 1 Juni Ditetapkan sebagai Hari Lahir Pancasila? Ini Sejarah dan Alasannya

Senin, 01 Juni 2026 | 13:30

Kontroversi LCC Empat Pilar MPR Berlanjut ke Pengadilan, Sidang Dimulai Besok

Senin, 01 Juni 2026 | 13:24

Kembalikan Pancasila sebagai Pandangan Hidup Bangsa

Senin, 01 Juni 2026 | 13:24

Lenteng Agung Arah Depok Ditutup hingga Selasa Pagi

Senin, 01 Juni 2026 | 13:21

Selengkapnya