Berita

Presiden Prabowo Subianto di Peringatan Hari Lahir Pancasila, Kemlu RI, Jakarta, Senin, 1 Juni 2026 (Foto: RMOL/Hani Fatunnisa)

Politik

Prabowo Uraikan Konsep Ekonomi Pancasila di Peringatan Hari Lahir Pancasila 2026

SENIN, 01 JUNI 2026 | 11:31 WIB | LAPORAN: HANI FATUNNISA

Presiden Prabowo Subianto menguraikan secara komprehensif konsep ekonomi Pancasila yang menjadi pijakan pembangunan nasional saat memimpin Upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila di Kompleks Kementerian Luar Negeri RI, Jakarta, Senin, 1 Juni 2026. 

Dalam pidatonya, Prabowo menjelaskan bahwa ekonomi Pancasila pertama-tama harus berpijak pada nilai religius dan kemanusiaan. 

Menurutnya, kekayaan alam Indonesia bukan sekadar aset ekonomi yang dapat dieksploitasi, melainkan amanah yang harus dikelola secara bertanggung jawab demi kesejahteraan rakyat dan keberlanjutan generasi mendatang. 


"Kita percaya bahwa kekayaan alam bukan sekadar komoditas ekonomi. Kekayaan alam adalah amanah Tuhan Yang Maha Esa yang harus dikelola secara bertanggung jawab untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat, dan juga untuk anak dan cucu kita, untuk masa depan, untuk generasi-generasi yang akan datang," ujar Prabowo.

Merujuk pada pilar kedua Pancasila,  Kepala negara menegaskan bahwa tujuan pembangunan ekonomi tidak boleh berhenti pada pencapaian angka pertumbuhan atau statistik semata. 

Pembangunan, kata dia, harus menghadirkan perubahan nyata dalam kehidupan masyarakat, terutama bagi kelompok yang paling rentan. 

"Pembangunan ekonomi harus menghasilkan kehidupan yang lebih baik bagi seluruh rakyat Indonesia. Anak-anak kita, anak-anak saudara-saudara yang paling lemah, paling miskin, paling tidak berdaya, harus memperoleh gizinya yang cukup," tegasnya.

Dalam pilar berikutnya, Prabowo menekankan pentingnya keberpihakan ekonomi kepada kepentingan nasional. 

Menurutnya Indonesia terlalu lama kehilangan nilai tambah dari sumber daya alam yang dimiliki karena harga komoditas strategis lebih banyak ditentukan di luar negeri. 

Oleh sebab itu, pemerintah mendorong kebijakan ekspor sumber daya alam satu pintu, penguatan devisa hasil ekspor, dan percepatan hilirisasi agar manfaat ekonomi lebih banyak dirasakan di dalam negeri.

"Ekonomi kita tidak boleh hanya menguntungkan segelintir orang saja. Sudah terlalu lama harga berbagai kekayaan alam kita ditentukan oleh pihak lain, ditentukan di negara lain. Sudah terlalu lama sebagian keuntungan dari sumber daya alam mengalir ke luar negeri dan tidak tinggal di Indonesia," kata Prabowo.

Prabowo selanjutnya menguraikan bahwa ekonomi Pancasila juga merupakan ekonomi yang egaliter dan berorientasi pada kerakyatan sebagaimana diamanatkan dalam Pasal 33 UUD 1945. 

Dalam kerangka tersebut, koperasi, usaha kecil dan menengah, serta desa harus menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru. Menurutnya, rakyat harus menjadi pelaku utama pembangunan dan bukan sekadar objek pembangunan. 

"Karena itu, koperasi harus diperkuat, koperasi harus bangkit. Koperasi adalah salah satu alat untuk mengangkat rakyat kita dari keadaan kemiskinan dan ketidakberdayaan," ujarnya.

Pada bagian akhir pidatonya, Prabowo menegaskan bahwa muara dari seluruh strategi ekonomi Pancasila adalah terciptanya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. 

Karena itu, pertumbuhan ekonomi harus berjalan seiring dengan pemerataan hasil pembangunan agar kemajuan dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat. 

"Kelima, ekonomi kita adalah ekonomi yang berkeadilan sosial. Inilah tujuan dari seluruh perjuangan kita. Pertumbuhan ekonomi harus disertai pemerataan. Kemajuan harus dirasakan oleh seluruh rakyat Indonesia," pungkasnya.

Populer

Jumlah Personel TNI Tidak Masuk Akal

Sabtu, 30 Mei 2026 | 03:36

Penutupan Alfamart dan Indomaret Jangan Salahkan KDKMP

Kamis, 28 Mei 2026 | 06:00

Raksasa Telekomunikasi Ini Bakal Dibubarkan Danantara

Senin, 25 Mei 2026 | 08:33

PT PMM Keberatan 15 Kontainer Mineral Ekspor Dibongkar Aparat

Minggu, 24 Mei 2026 | 16:43

PT DSI Resmi jadi BUMN dan Siap Buka Rekrutmen

Senin, 25 Mei 2026 | 23:14

Pengacara Blueray Cargo Ragu Amplop Suap Kode 1 Diterima Dirjen Bea Cukai

Selasa, 26 Mei 2026 | 23:19

Keputusan Bisnis Dipidanakan, Nicko Widjaja Tulis Surat dari Rumah Tahanan

Jumat, 22 Mei 2026 | 17:34

UPDATE

Prabowo Ingin Tunjukkan RI Bukan Objek Perebutan Pengaruh Global

Senin, 01 Juni 2026 | 04:03

Blusukan Jokowi Sulit Naikkan Suara PSI, Apalagi Goyang PDIP

Senin, 01 Juni 2026 | 04:00

Delapan Gudang Kendaraan Bodong di Deli Serdang Digerebek, 135 Motor Disita

Senin, 01 Juni 2026 | 03:29

Kampung Rambutan Dipadati Penumpang Arus Balik Iduladha

Senin, 01 Juni 2026 | 03:19

Herdinata Tega Bunuh Temannya Gegara Handphone Diambil

Senin, 01 Juni 2026 | 03:09

Nilai TKA Siswa SD-SMP Jeblok, Program MBG Dipertanyakan

Senin, 01 Juni 2026 | 02:30

Diplomasi Pertahanan Indonesia Lebih Antisipatif terhadap Ancaman Global

Senin, 01 Juni 2026 | 02:25

Agustus 1945: Ketika Jakarta Kota Tanpa Tuan

Senin, 01 Juni 2026 | 02:14

Cegah Penyimpangan Seks, Yayasan Humaniora Nikahkan Pasangan Pemulung

Senin, 01 Juni 2026 | 01:47

46 Persen Anggota DPR Fraksi Gerindra Tak Patuh Lapor LHKPN

Senin, 01 Juni 2026 | 01:29

Selengkapnya