Berita

Ilustrasi (Artificial Inteligence)

Publika

Biennale Menolak Luka

MINGGU, 31 MEI 2026 | 23:17 WIB | OLEH: AHMADIE THAHA

VENESIA itu kota yang seperti menolak tunduk pada logika. Kota di Italia Utara itu berdiri di atas air, diikat oleh kanal-kanal, gondola, dan bangunan tua yang tampak seperti museum raksasa yang lupa ditutup sejak abad pertengahan.

Dari Jakarta ke Venesia, jaraknya sekitar sebelas ribu kilometer lebih. Kalau naik pesawat, transit sana-sini, bisa lebih lama daripada rapat DPR membahas nasib rakyat kecil.

Dan ironisnya, ketika orang Indonesia sampai di Venesia, mereka justru akan melihat bagaimana bangsa lain memamerkan masa depan, sementara kita sibuk membawa nostalgia masa lalu.


Di kota air itulah digelar Venice Biennale ke-61, salah satu festival seni paling bergengsi di dunia, yang sering disebut “Olimpiade Seni Rupa”. Sebuah pesta besar seni kontemporer internasional yang tahun ini diikuti 99 negara, berlangsung dari Mei hingga 22 November.

Venice Biennale adalah pameran seni rupa internasional dua tahunan. Sering dijuluki sebagai “Olimpiade dunia seni”, partisipasi dalam Biennale merupakan peristiwa prestisius bagi para seniman kontemporer. Indonesia pun hadir di sana setelah absen selama enam tahun.

Paviliun Indonesia menampilkan pameran bertajuk “Printing the Unprinted”, yang menampilkan karya dari tujuh seniman dengan narasi epos pelayaran dan pembacaan alternatif atas manuskrip.

Festival ini telah menjadi gugusan berbagai pertunjukan mulai dari pameran pusat yang dikuratori oleh direktur artistik tahun tersebut, paviliun nasional yang diselenggarakan oleh masing-masing negara, serta pameran independen di seluruh penjuru Venesia.

Organisasi induk Biennale juga menyelenggarakan festival rutin untuk bidang seni lainnya yaitu arsitektur, tari, film, musik, dan teater. Di luar pameran internasional utama, negara-negara peserta memproduksi pertunjukan mereka sendiri, yang dikenal sebagai paviliun, sebagai representasi nasional mereka.

Negara-negara yang memiliki gedung paviliun sendiri, seperti 30 gedung yang terletak di Giardini, bertanggung jawab atas biaya pemeliharaan dan konstruksi mereka sendiri. Sementara itu, negara-negara tanpa gedung khusus membangun paviliun di Venice Arsenale dan bangunan-bangunan istana (palazzo) di seluruh kota.

Bayangkan saja seperti Pekan Raya Jakarta, TIM Cikini, ArtJog, festival film, teater, konser, pameran, demonstrasi politik, debat ideologi, dan perang opini global, semuanya dilempar ke dalam satu kota terapung bernama Venesia.

Bedanya, di sini para seniman bukan sekadar memajang karya. Mereka membawa identitas bangsa, luka sejarah, bahkan dendam geopolitik.

Tema utama Biennale tahun ini adalah In Minor Keys, gagasan kuratorial dari Koyo Kouoh, kurator asal Afrika yang wafat sebelum festival dibuka.

Tema itu seperti bisikan piano di tengah perang tank yang lembut, minor, tetapi menyimpan kesedihan global. Dan memang, Biennale tahun ini lebih mirip ruang sidang dunia daripada sekadar pameran seni.

Demonstrasi meledak di mana-mana sejak sebelum acara akbar dibuka. Paviliun Israel diprotes. Paviliun Rusia dipersoalkan. Amerika Serikat dicibir karena politik luar negerinya dianggap haus perang.

Para juri bahkan mundur massal karena menolak memberi penghargaan kepada negara-negara yang pemimpinnya dituduh terlibat kejahatan perang oleh Mahkamah Pidana Internasional. Terutama Israel, yang presidennya Benjamin Netanyahu divonis sebagai penjahat perang.

Ini bukan lagi sekadar soal lukisan atau instalasi seni. Biennale berubah menjadi teater politik global dengan latar bangunan klasik Italia. Biennale kali ini mencatat sejarahnya sendiri, lain dari saat dimulainya pada 1895.

Lucunya, dunia seni yang biasanya bicara tentang kebebasan, kini ikut terjebak dalam pagar-pagar geopolitik. Seniman mogok. Paviliun ditutup paksa. Pintu dirantai. Poster protes ditempel di mana-mana.

Jepang tutup. Belgia tutup. Austria tutup. Korea Selatan tutup. Seolah-olah dunia seni sedang berkata, “Kalau dunia politik gila, jangan paksa kami pura-pura waras.”

Dan di tengah semua hiruk-pikuk itu, Indonesia hadir dengan pavilion sendiri. Banyak orang Indonesia mungkin membayangkan paviliun itu seperti tenda pameran UMKM di alun-alun kabupaten.

Padahal di Venesia, paviliun adalah representasi resmi sebuah negara. Ada yang punya gedung permanen sendiri seperti istana mini nasional. Ada yang menyewa bangunan tua, gudang kapal, gereja, atau palazzo bersejarah di sudut kota.

Indonesia termasuk negara yang menggunakan ruang representasi khusus untuk memamerkan identitas budayanya kepada dunia.

Ibarat di Jakarta, paviliun Biennale itu bukan sekadar “stand”. Ia lebih mirip satu gedung kurasi nasional di kompleks elite internasional. Bayangkan satu negara diberi ruang untuk berkata kepada dunia, “Inilah kami.”

Dan tahun ini, Indonesia tampil dengan tema sejarah maritim. Bahkan untuk pertama kalinya Indonesia juga tampil di sektor teater Biennale. Laut, kapal, pelabuhan, sejarah rempah, jalur perdagangan, dan romantika maritim menjadi napas besar presentasi Indonesia.

Masalahnya, justru di situlah ironi itu menampar. Kita memang negara maritim. Itu kalimat yang dihafal sejak SD seperti doa sebelum ulangan. Laut kita luas. Pulau kita ribuan. Garis pantai kita panjang.

Tetapi seringkali semua itu hanya terdengar seperti puisi dalam pidato pejabat. Di dunia nyata, laut Indonesia lebih sibuk dijarah daripada dikelola. Kapal asing mondar-mandir seperti tamu yang merasa rumah orang lain adalah warisan nenek moyangnya.

Ikan kita ditangkap orang lain. Logistik laut kita kalah efisien dibanding negara kecil. Industri galangan kapal megap-megap. Nelayan hidup seperti anak tiri di negeri samudra.

Kita ini seperti pewaris kapal Nabi Nuh, tetapi sibuk bertengkar soal cat dek sementara mesin kapalnya dijual kiloan.

Biennale karenanya, menjadi cermin yang pahit. Indonesia datang membawa kisah maritim, tetapi dunia mungkin bertanya diam-diam, “Kalau memang bangsa laut, mengapa pelabuhannya kalah sibuk dibanding Singapura? Mengapa ekspor hasil lautnya kalah bernilai? Mengapa anak mudanya lebih hafal nama influencer daripada nama angin musim?”

Yang lebih menyedihkan, maritim kita sering berhenti sebagai slogan romantik. Kita bangga menyebut diri “poros maritim dunia”, tetapi banyak pulau terpencil justru kesepian seperti anak kecil yang ditinggal orang tuanya merantau.

Laut kita luas, tetapi konektivitas antar pulau kadang masih terasa seperti hubungan mantan yang jauh, mahal, dan penuh drama.

Sementara itu, di Venesia, kota yang bahkan tidak punya sumber daya laut sebesar Indonesia, air justru dijadikan identitas peradaban. Kanal mereka menjadi ekonomi.

Sejarah mereka menjadi pariwisata. Bangunan tua mereka menjadi magnet dunia. Mereka menjual memori dan estetika, sementara kita sering gagal menjual potensi nyata.Sejarah

Maka ketika Indonesia tampil di Biennale dengan narasi maritim, publik dunia mungkin menikmati estetika kapalnya, suara ombaknya, arsip pelayarannya. Tetapi bagi kita sendiri, pertanyaannya lebih dalam, apakah ini perayaan kejayaan laut, atau sekadar nostalgia tentang sesuatu yang perlahan hilang?

Biennale Venesia tahun ini akhirnya terasa seperti metafora besar dunia modern. Seni, politik, perang, identitas, kapital, sejarah, dan kemanusiaan bertabrakan di kanal-kanal sempit kota tua.

Dan Indonesia datang membawa cerita laut, sebuah cerita yang indah, megah, heroik, tetapi juga menyimpan kesedihan diam-diam.

Sebab di negeri maritim terbesar ini, kadang yang paling tenggelam justru bukan kapalnya, melainkan visinya.

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

KPK Temukan Dokumen Pengurusan Perkara Lain di Rumah Ayah Iptu Setya Budi Dias

Rabu, 12 Agustus 2026 | 22:18

TNI Kuasai Wilayah OPM di Intan Jaya dan Sita Sejumlah Senjata

Minggu, 16 Agustus 2026 | 01:24

Boyamin Sebut Ada Dua Brankas Kosong di Rumah Febrie, Ini Respons Kejagung

Rabu, 12 Agustus 2026 | 11:14

UPDATE

DPR Khawatir Pekerjaan Debt Collector jadi Ilegal, Ini Sebabnya

Minggu, 23 Agustus 2026 | 01:43

Keripik Pisang Lokal Besutan Rumah BUMN BRI Tembus Malaysia dan Hong Kong

Minggu, 23 Agustus 2026 | 01:19

Menlu China Mesra dengan Luhut, Sejumlah Tawaran Kerja Sama Mengalir

Minggu, 23 Agustus 2026 | 00:54

Program Gerakan “Warga Peduli Warga” Jaringan Aktivis 98 Berlanjut di Lampung

Minggu, 23 Agustus 2026 | 00:28

Sejumlah Elemen Mahasiswa Ogah Ikut Demo AMPB 27 Agustus, Ini Sebabnya

Minggu, 23 Agustus 2026 | 00:10

Ribuan Warga Meriahkan Panggung Rakyat Merdeka PANsar Murah di Kendal

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 23:50

BRI Raih Tiga Penghargaan Bergengsi Alpha Southeast Asia 2026

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 23:28

DPR Tekankan Penguatan Pengendalian Lingkungan untuk Hentikan Karhutla

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 22:58

YLBHI Dorong Bareskrim Usut Perwira Diduga Terlibat Penipuan Investasi Tambang Emas

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 22:14

Pikat Pembeli dari Singapura hingga Belanda, Produk UMKM Asal Sumut Berdaya Bersama BRI

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 21:55

Selengkapnya