Sapi kurban dari Presiden Prabowo Subianto (kanan) dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka (kiri). (RMOL/Sarah Alifia Suryadi)
Program bantuan presiden berupa sapi kurban Idul Adha 2026 dari Presiden Prabowo Subianto memiliki dampak ekonomi dan sosial yang nyata bagi masyarakat.
Menurut Pengajar Komunikasi Politik sekaligus mantan pimpinan Komisi I DPR RI, Ramadhan Pohan atau akrab disapa Rampo, manfaat ekonomi program sapi Banpres terasa langsung jika pengadaan dilakukan dari peternak lokal.
“Manfaat ekonominya nyata bila sapi dibeli dari peternak lokal. Banpres sapi memindahkan belanja negara langsung ke peternak lokal, bukan ke impor atau rantai distribusi panjang,” ujarnya dalam keterangan tertulis, dikutip Jumat, 29 Mei 2026.
Rampo menjelaskan, pengadaan sapi dari daerah juga mampu memangkas dominasi tengkulak sekaligus menggerakkan ekonomi lokal.
“Jika pengadaan dilakukan langsung atau sedekat mungkin dari peternak daerah, maka negara ikut memangkas dominasi tengkulak, memberi harga jual lebih baik bagi peternak, menggerakkan transportasi lokal, jasa perawatan, pemeriksaan kesehatan hewan, jagal, panitia masjid, dan distribusi daging. Bukankah begitu?” jelasnya.
Rampo juga menyoroti dampak program tersebut terhadap akses gizi masyarakat. Menurutnya, distribusi daging kurban sangat membantu masyarakat yang jarang mengonsumsi protein hewani karena harga daging yang mahal.
“Dari sisi gizi untuk rakyat, qurban sapi, Indonesia masih menghadapi masalah akses protein hewani. Jadi, sapi banpres sudah pas dilakukan,” katanya.
Ia memaparkan, secara kasar satu ekor sapi besar dapat menghasilkan sekitar 250 kilogram daging layak konsumsi. Dengan total 1.098 sapi, maka diperkirakan menghasilkan sekitar 274 ton daging atau setara 2,7 juta porsi masing-masing 100 gram.
“Memang ini bukan solusi permanen gizi nasional, tetapi sebagai distribusi musiman, dampaknya nyata: masyarakat yang jarang membeli daging memperoleh akses protein hewani dari qurban sapi premium bobot berat macam peranakan Ongole, Limousine, Simental, Sapi Bali, Carolaise yang semuanya dibeli dari peternak lokal,” jelasnya.
Rampo pun menilai manfaat sosial program tersebut juga langsung dirasakan masyarakat menjelang hari besar keagamaan.
“Daging kurban masuk ke masyarakat, terutama menjelang hari besar keagamaan. Dalam konteks harga daging yang mahal bagi sebagian keluarga, bantuan protein hewani bukan sekadar simbol, tetapi bantuan konsumsi,” ujarnya.
Ia menegaskan, program sapi Banpres memiliki efek berganda bagi perekonomian daerah dan kesejahteraan rakyat.
“Banpres sapi adalah belanja sosial yang memiliki multiplier effect—pangan bergizi untuk rakyat, pasar pasti bagi peternak lokal, dan perputaran ekonomi daerah,” tegasnya.
Menurut Rampo, program tersebut layak dipahami sebagai intervensi sosial-ekonomi yang menyasar beberapa tujuan sekaligus.
“Banpres sapi layak dipahami bukan hanya sebagai “Qurban Presiden”, melainkan sebagai intervensi sosial-ekonomi musiman yang menyasar tiga tujuan sekaligus: distribusi pangan bergizi, penguatan peternak lokal, dan pemerataan manfaat ke daerah,” tuturnya.
Lebih jauh, Ramadhan menyebut program sapi Banpres mencerminkan karakter kebijakan populis-humanis Presiden Prabowo.
“Akhirnya, Banpres sapi di di momen Idul Adha perlu dibaca sebagai bagian dari atau sejalan dengan karakter kebijakan populis-humanis Presiden Prabowo: negara hadir langsung, menyentuh kebutuhan dasar rakyat, dan menggerakkan ekonomi kecil di bawah,” pungkasnya.