Berita

Wakil Ketua Komisi X DPR, Lalu Hadrian Irfani. (Foto: RMOL/Sarah Alifia)

Politik

DPR Minta Pemerintah Investigasi Dugaan WNI Palsukan Riset di Denmark

KAMIS, 28 MEI 2026 | 13:45 WIB | LAPORAN: SARAH ALIFIA SURYADI

Dugaan pemalsuan riset oleh warga negara Indonesia dalam forum ilmiah internasional di International Symposium on Pneumococci and Pneumococcal Diseases 2026 didorong untuk segera diinvestigasi pemerintah. 

Kasus ini dinilai berpotensi mencoreng reputasi akademik Indonesia di mata dunia.

Wakil Ketua Komisi X DPR RI Lalu Hadrian Irfani mengaku prihatin atas munculnya dugaan manipulasi penelitian dalam konferensi internasional tersebut. Ia menilai kasus itu harus menjadi peringatan serius bagi dunia pendidikan tinggi dan riset nasional.


“Kami mendorong adanya investigasi dan penegakan sanksi etik apabila dugaan tersebut terbukti,” kata Lalu, Kamis, 28 Mei 2026.

Menurutnya, apabila benar terjadi manipulasi data, pemalsuan identitas akademik, hingga penggunaan kecerdasan buatan atau AI untuk menghasilkan riset fiktif, maka tindakan itu bukan hanya melanggar etika akademik, tetapi juga merusak nama baik Indonesia.

Ia mengingatkan agar tindakan segelintir oknum tidak sampai menghancurkan kepercayaan internasional terhadap ilmuwan dan peneliti Indonesia yang selama ini bekerja secara profesional.

“AI seharusnya menjadi alat bantu untuk memperkuat kualitas riset, bukan dipakai untuk memanipulasi karya ilmiah,” ujarnya.

Karena itu, Lalu meminta pemerintah, perguruan tinggi, dan lembaga penelitian memperkuat pengawasan integritas akademik, termasuk tata kelola penggunaan AI dalam penelitian.

“Indonesia membutuhkan budaya akademik yang menjunjung tinggi kejujuran, tanggung jawab, dan meritokrasi agar reputasi pendidikan dan riset nasional tetap terjaga,” katanya.

Kasus ini mencuat setelah muncul dugaan sejumlah peserta asal Indonesia mempresentasikan penelitian palsu dalam konferensi ISPPD 2026 yang digelar di Kopenhagen, Denmark, pada 17-21 Mei 2026.

Sejumlah nama disebut terlibat, yakni Prihantini, Rifaldy Fajar, dan Rini Winarti. Penelitian mereka awalnya dianggap mengesankan, namun kemudian diduga merupakan hasil fabrikasi dan tidak pernah benar-benar dilakukan.

Dugaan tersebut diungkap peneliti Ida Bagus Mandhara Brasika melalui akun Threads miliknya. Ia menyebut terdapat dugaan pemalsuan identitas hingga penggunaan AI untuk menghasilkan data dan materi penelitian palsu.

“Salah seorang pelaku melakukan pemalsuan identitas. Modusnya pelaku berganti-ganti nama saat presentasi, bermodal ganti jilbab dan nametag,” tulis Mandhara.

Ia juga menyebut riset yang dipresentasikan diduga dibuat menggunakan AI dan fabrikasi data agar terlihat meyakinkan di hadapan ribuan ilmuwan dunia.

Sementara itu, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto menyatakan pihaknya memberi perhatian terhadap dugaan pelanggaran integritas akademik tersebut.

“Kemdiktisaintek memberikan perhatian terhadap informasi yang berkembang terkait dugaan pelanggaran integritas akademik dan etika penelitian yang melibatkan pihak yang menggunakan afiliasi institusi di Indonesia,” ujar Brian.

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Ganti Rugi Lahan Belum Tuntas, Warga Medan Polisikan Developer

Minggu, 07 Juni 2026 | 01:40

iPhone Raffi Ahmad Dikirim dari AS Tanpa Disebut dalam Dokumen

Selasa, 09 Juni 2026 | 00:01

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

UPDATE

Dialog BEM di Makassar: Gerakan Mahasiswa Harus Independen dan Berbasis Data

Rabu, 17 Juni 2026 | 20:17

DPR Apresiasi Perbaikan Haji di Era Prabowo, Antrean Jemaah Turun Jadi 26 Tahun

Rabu, 17 Juni 2026 | 20:14

KPK Soroti Nama Besar yang Muncul dalam Persidangan Kasus Bea Cukai

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:59

Polri Serius Garap Universitas Kepolisian yang Bisa Diakses Masyarakat Umum

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:42

Tiyo Ardianto dan Tradisi Panjang Anak Rakyat dalam Sejarah Pergerakan Indonesia

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:33

RUU Perkoperasian Buka Jalan Koperasi Jadi Soko Guru Perekonomian

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:25

Masyarakat Kemuning Ngadu ke BAM DPR soal Klaim Kawasan Hutan

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:21

FPHI Ultimatum OJK, Minta Kejelasan Laporan Keuangan Danantara

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:10

KPK Tagih Perbaikan Sistem MBG di Era Kepala BGN Baru

Rabu, 17 Juni 2026 | 18:56

Kinerja Bertumbuh, Pelindo Setor Rp7,81 Triliun kepada Negara

Rabu, 17 Juni 2026 | 18:50

Selengkapnya