Berita

P Markus Solo Kewuta SVD. (Foto: Dokumentasi Penulis)

Publika

ENSIKLIK MAGNIFICA HUMANITAS:

Cara Paus Lawan Kebangkitan 'Menara Babel'

SELASA, 26 MEI 2026 | 01:23 WIB

DALAM ensiklik pertamanya, Paus Leo XIV membahas dua isu utama zaman kita: peluang dan risiko kecerdasan buatan serta perdamaian bagi semua orang. Ia memperingatkan terhadap matinya kepekaan yang fatal terhadap perang.

"Magnifica Humanitas" adalah judul ensiklik pertama Paus Leo dan membahas "pelestarian kemanusiaan di era kecerdasan buatan." Ensiklik ini bertanggal 15 Mei 2026, yang juga menandai peringatan 135 tahun penerbitan ensiklik sosial penting Leo XIII "Rerum novarum" pada tahun 1891.

Dalam ensiklik pertamanya, yang disampaikan pada Senin Pentakosta ini, Paus Leo XIV melihat umat manusia dihadapkan pada sebuah pilihan: mereka dapat membangun "Menara Babel" baru, sebuah proyek kekuatan teknologi tanpa Tuhan, yang mereduksi manusia menjadi data dan efisiensi. Atau mereka dapat, seperti Nehemia dalam Perjanjian Lama, membangun kembali kota Yerusalem yang hancur bersama-sama, sebagai tempat hidup berdampingan secara persaudaraan dan adil. Kedua gambaran ini terjalin seperti benang merah dalam ensiklik tersebut.


Seperti yang dilakukan Paus Leo XIII dengan ensikliknya "Rerum novarum" 135 tahun yang lalu, Paus Leo XIV berupaya menafsirkan masa kini dalam terang Injil, membahas masalah dan tantangan saat ini. Saat ini, tantangan utamanya adalah digitalisasi dengan kecerdasan buatan (KI atau AI) dan pertanyaan tentang perang dan perdamaian. Paus Leo mengeksplorasi aspek-aspek ini dalam lima bab, sambil mengangkat kembali dasar dan prinsip ajaran sosial Gereja Katolik. Bab 3 dan 5 sangat menarik dan relevan.

Kecerdasan Buatan sebagai Tantangan Utama

Dalam bab ketiga, Paus Leo mengkaji kecerdasan buatan secara detail, menggambarkannya sebagai salah satu tantangan penting di zaman kita. Prinsip-prinsip panduan bagian ini adalah dua gambaran alkitabiah yang telah dijelaskan: Menara Babel dan pembangunan kembali Yerusalem. Oleh karena itu, pertanyaan penting di zaman kita adalah: "Apa yang sedang kita bangun?"

Paus menggemakan kritik terhadap "paradigma teknokratis" yang telah dirumuskan oleh Paus Fransiskus dalam ensikliknya "Laudato si'." Teknologi tidak boleh menjadi satu-satunya ukuran tindakan manusia. Jika efisiensi, kontrol, dan keuntungan diangkat menjadi prinsip tertinggi, umat manusia sendiri berisiko menjadi objek optimasi teknologi. Paus Leo XIV memperingatkan bahwa revolusi digital, dan kecerdasan buatan khususnya, dapat semakin memperkuat struktur kekuasaan yang ada. Kontrol atas data, platform, dan daya komputasi semakin terkonsentrasi di tangan beberapa perusahaan global. Ini menciptakan bentuk-bentuk baru ketergantungan, manipulasi, dan ketidaksetaraan sosial.

Pada saat yang sama, Paus secara eksplisit menekankan bahwa kecerdasan buatan pada prinsipnya tidak boleh dipandang negatif. Ia dapat menjadi bantuan yang berharga, misalnya, dalam bidang kedokteran, penelitian, atau administrasi. Namun, ia tidak boleh disamakan dengan kecerdasan manusia. Sistem AI memproses data dan mensimulasikan kemampuan manusia tertentu, tetapi mereka tidak memiliki kesadaran, penilaian moral, atau pengalaman sukacita, penderitaan, cinta, atau tanggung jawab.

Objektivitas yang Tampak

Paus Leo XIV menggambarkan dengan sangat cermat risiko masyarakat yang terlalu bergantung pada sistem algoritmik. Objektivitas yang tampak pada sistem buatan dapat menyesatkan, karena sistem tersebut selalu mencerminkan proses berpikir dan prasangka para pengembangnya. Paus sangat mengkritik keputusan otomatis terkait pekerjaan, pinjaman, partisipasi sosial, dan keamanan publik. Di mana tidak ada lagi yang memikul tanggung jawab, belas kasihan, pengampunan maka keadilan bagi pribadi dan individu terancam hilang dari lanskap sosial.

Lebih lanjut, Paus Leo menunjuk pada konsekuensi ekologis dari revolusi digital. Konsumsi energi dan air yang sangat besar dari pusat data besar menimbulkan tantangan baru bagi pelestarian ciptaan. Oleh karena itu, keberlanjutan tidak boleh menjadi pertimbangan sekunder di era digital. Paus menyerukan inovasi teknologi yang melayani umat manusia tanpa semakin membebani "rumah kita bersama", sebuah pemikiran yang seharusnya sangat beresonansi dengan para aktivis lingkungan dan iklim.

Pandangan Kristen tentang Kemanusiaan sebagai Model Tandingan

Paus menyerukan aturan yang jelas untuk transparansi, akuntabilitas, dan pengawasan. Alih-alih membiarkan beberapa perusahaan teknologi mendikte standar moral masa depan, masyarakat demokratis harus memiliki suara dalam penggunaan sistem tersebut.

Ensiklik Magnifica Humanitas ini juga memberikan perhatian khusus pada konsekuensi budaya dan spiritual dari revolusi digital. Melawan gerakan-gerakan seperti transhumanisme dan posthumanisme, Paus menyajikan pandangan Kristen tentang kemanusiaan. Kebesaran manusia terletak bukan pada kemampuan manusia untuk melewati keterbatasan-keterbatasannya dengan bantuan teknologi, tetapi pada kapasitas untuk menjalin hubungan, cinta, kasih sayang, dan tanggung jawab. Penyakit, kegagalan, kerentanan, dan kematian bukanlah sekadar kekurangan, tetapi merupakan aspek penting dari keberadaan manusia.

Ensiklik Abad ke-21

Perspektif Paus Leo XIV tentang seni dan budaya juga patut diperhatikan. Ia berpendapat bahwa hal-hal ini melindungi umat manusia dari "menormalisasi kejahatan". Paus mengutip karya-karya yang bernilai profetik, termasuk Simfoni Kesembilan Beethoven sebagai ekspresi kerinduan akan persatuan, dan novel Thomas Keneally "Schindler's List," yang diadaptasi menjadi film oleh Steven Spielberg, sebagai peringatan terhadap pelupaan.

Namun sejarah tampak bukan hanya sebagai katalog tindakan kekerasan kita, tetapi juga sebagai bukti kemanusiaan. Paus Leo mengenang tokoh-tokoh yang telah mengubah dunia menjadi lebih baik. Selain Martin Luther King Jr. dan Nelson Mandela, ia menyebutkan sejumlah besar perempuan, termasuk Bunda Teresa, Maria Montessori, Wangari Maathai, dan Benazir Bhutto. Bersama dengan kutipan dari Gandalf dalam "The Lord of the Rings" karya Tolkien di bab kelima, dokumen tersebut mengungkapkan dirinya sebagai dekrit didaktik yang jelas berakar pada abad ke-21.

Di akhir bab ketiga, Paus Leo XIV secara ringkas merangkum alternatif utama ensikliknya: umat manusia dihadapkan pada pilihan antara dua bentuk kemajuan. Entah Menara Babel baru akan muncul--secara teknis brilian, tetapi tidak manusiawi. Atau, seperti halnya pembangunan kembali Yerusalem, akan ditegakkan suatu tatanan yang melayani kebaikan bersama, keadilan, dan martabat manusia. Pada akhirnya, yang terpenting adalah "kasih" yang membimbing tindakan manusia. Oleh karena itu, pembangunan Babel atau Yerusalem dimulai di hati setiap individu.

Dalam ensikliknya, Paus Leo menghindari sekadar mengutuk kecerdasan buatan. Namun, kecerdasan buatan memainkan peran penting, bahkan sangat penting dalam kehidupan manusia ke depannya. Dalam bab kelima, Paus membahas banyaknya perang di dunia. Ia mengkritik normalisasi peperangan dan memperingatkan bahaya penggunaan kecerdasan buatan dalam sistem militer.

Tidak Ada “Perang yang Adil”

Menurut Paus, perdamaian bukan hanya salah satu isu di antara isu-isu lainnya, tetapi sangat penting untuk kebaikan bersama dan merupakan tolok ukur kematangan moral bangsa dan mereka yang berada di posisi tanggung jawab pemerintahan. Mengingat konflik saat ini, Paus Leo XIV mengambil sikap yang sangat jelas yakni mendukung perdamaian. Oleh karena itu, ia menolak wacana Gereja sebelumnya tentang “perang yang adil” dan sangat menganjurkan solusi damai.

Dalam konteks ini, kecerdasan buatan mengubah tidak hanya kehidupan sehari-hari dan masyarakat, tetapi terutama tata bahasa perang. Konflik hibrida, serangan siber, disinformasi, dan sistem senjata otonom, menurut Paus Leo XIV, membuat kekerasan lebih “praktis,” impersonal, dan kurang bertanggung jawab. Ambang batas untuk menggunakan kekerasan semakin rendah, dan manusia direduksi menjadi data dan elemen sekunder.

Di bawah judul “Budaya Kekuasaan,” Paus Leo XIV pertama-tama menggambarkan perkembangan berbahaya bahwa perang tampak sebagai instrumen politik yang normal. Bahaya lainnya adalah bahwa ingatan sejarah, misalnya tentang Holocaust dan Perang Dunia memudar, dan algoritma di ranah digital memperburuk polarisasi. Industri persenjataan, sebagai mesin ekonomi, memicu konflik baru dan perlombaan senjata baru, termasuk yang berkaitan dengan senjata nuklir. Sistem dengan kecerdasan buatan tampaknya menggantikan manusia dari tanggung jawab mereka. Namun, keputusan dengan konsekuensi yang berpotensi mematikan di masa perang harus tetap berada di bawah kendali manusia.

"Peradaban Kasih" Melawan Segala Sinisme

Paus Leo XIV mengidentifikasi tiga kriteria untuk ini: rantai tanggung jawab yang jelas, waktu yang cukup untuk penilaian moral, dan perlindungan ketat terhadap penduduk sipil. Lebih lanjut, Paus melihat krisis multilateralisme: hukum internasional dan PBB melemah, dan "hukum rimba" mendominasi. Selain itu, pragmatisme yang salah arah menabur keputusasaan dan keputusan melakukan perang sulit terhindarkan.

Menentang perkembangan ini, Paus Leo sangat menganjurkan "peradaban kasih," yang harus dibangun oleh semua orang, baik dalam skala besar maupun kecil. Paus Leo meminjam istilah ini dari Paus Paulus VI yang mula-mula menciptakannya. Penerapan peradaban kasih masa kini berarti:

1. "Kata-kata yang melucuti senjata": Perdamaian dimulai dengan bahasa, menjauh dari kebencian dan menuju kebenaran, kenyamanan, dan keadilan.

2. "Membangun perdamaian dalam keadilan": Perdamaian sejati bukanlah sekadar gencatan senjata, tetapi buah dari keadilan.

3. "Berfokus pada para korban": Para korban kekerasan harus diperhatikan. Paus mengajak Gereja untuk menjadi suara bagi mereka yang tidak bisa bersuara dan bagi mereka yang terluka.

4. "Memupuk realisme yang sehat": Paus Leo XIV tidak menganjurkan idealisme naif atau fatalisme sinis; sebaliknya, realisme ini mencari jalan yang layak menuju perdamaian.

5. "Menghidupkan kembali dialog dan multilateralisme": Hanya dengan berdialog satu sama lain, solusi dapat ditemukan, baik pada tingkat interpersonal maupun politik, untuk bergerak menuju budaya negosiasi yang sejati. Ini termasuk, khususnya, dialog lintas agama. Paus Leo XIV menekankan perlunya diplomasi dan multilateralisme. Paus melihat PBB memainkan peran penting bagi dunia. Ia juga menyampaikan seruan mendesak untuk berdoa bagi perdamaian, untuk mewujudkannya dalam relasi umat manusia satu sama lain, dan dalam masyarakat.

Di akhir ensikliknya, Paus Leo XIV menekankan bahwa Kristus tetap menjadi ukuran kemanusiaan sejati. Paus merujuk pada Magnifikat Maria: Tuhan berdiri bersama orang-orang kecil, yang lemah. Dalam semangat inilah, "peradaban kasih" dapat tumbuh dan mewujudkan perdamaian sejati.

Apa itu Ensiklik?

Ensiklik adalah dokumen ajaran kepausan. Dokumen ini ditujukan kepada Gereja Katolik di seluruh dunia, dan kadang-kadang juga kepada "semua orang yang berkehendak baik," termasuk non-Katolik. Ensiklik memiliki otoritas yang tinggi. Dalam Gereja Katolik, ensiklik dipahami sebagai ekspresi otoritas pengajaran tertinggi Paus, tetapi bukan merupakan pernyataan yang infalibel atau tidak dapat salah dalam pengertian dogmatis.


P Markus Solo Kewuta SVD 
Staf Dikasteri Dialog Antaragama


*Diambil dan dikaji dari berbagai sumber.


Populer

Keputusan Bisnis Dipidanakan, Nicko Widjaja Tulis Surat dari Rumah Tahanan

Jumat, 22 Mei 2026 | 17:34

Cegah Kabur, Segera Eksekusi Razman Nasution!

Kamis, 21 Mei 2026 | 05:04

40 Warga Binaan Sumsel Dipindah ke Nusakambangan

Jumat, 22 Mei 2026 | 22:33

Raksasa Telekomunikasi Ini Bakal Dibubarkan Danantara

Senin, 25 Mei 2026 | 08:33

Jokowi Boleh Keliling Indonesia Asal Tunjukkan Ijazah Asli

Rabu, 20 Mei 2026 | 01:33

Tetangga Sudah Mendahului, Indonesia Masih Berpidato

Jumat, 15 Mei 2026 | 05:30

Bamsoet dan Ketum Perbakin Banten Berburu Babi Hutan Perusak Panen

Sabtu, 23 Mei 2026 | 17:27

UPDATE

PalmCo Genjot Transformasi Kebun Rakyat Atasi Stagnasi Produksi Sawit

Senin, 25 Mei 2026 | 22:17

Agustina Dorong Denok Kenang Jadi Wajah Baru Semarang

Senin, 25 Mei 2026 | 22:12

Alarm Administrasi Publik

Senin, 25 Mei 2026 | 22:05

Daging Kurban Presiden dan Wapres di Istiqlal akan Disalurkan ke Pesantren

Senin, 25 Mei 2026 | 21:49

Jemaah Haji Diminta Disiplin dan Jaga Kesehatan Menuju Arafah

Senin, 25 Mei 2026 | 21:38

Majelis Etik Ombudsman Dalami Dugaan Pelanggaran Hery Susanto

Senin, 25 Mei 2026 | 21:32

Standardisasi Kemasan ala Kemenkes Berpotensi Picu Dampak Sosial Ekonomi

Senin, 25 Mei 2026 | 21:27

Dilema Etis Keterbatasan Fiskal Sektor Kesehatan

Senin, 25 Mei 2026 | 21:26

Walikota Agustina Sambut Biksu Thudong di Pelataran Masjid Semarang

Senin, 25 Mei 2026 | 21:10

Jadwal Lengkap Piala Dunia 2026: Pesta Bola Terbesar Siap Mengguncang Benua Amerika

Senin, 25 Mei 2026 | 20:19

Selengkapnya