Berita

Ilustrasi

Politik

Pelemahan Rupiah Tak Lepas dari Dosa Pemerintah Sebelumnya

MINGGU, 24 MEI 2026 | 13:31 WIB | LAPORAN: AHMAD ALFIAN

Pengamat ekonomi, Dipo Satria Ramli, menilai pelemahan rupiah hingga menembus level Rp17 ribu per dolar AS tidak bisa sepenuhnya dibebankan kepada pemerintahan saat ini.

Menurut Dipo, kondisi tersebut merupakan akumulasi persoalan ekonomi yang sudah terjadi sejak pemerintahan sebelumnya dan kini diwarisi Presiden Prabowo Subianto.

“Ini bukan murni kesalahan pemerintah saat ini, tapi memang ada dosa-dosa pemerintahan sebelumnya,” ujar Dipo di Kanal Youtube Abraham Samad, Minggu, 24 Mei 2026.


Ia menilai pemerintahan Prabowo saat ini menghadapi beban utang yang besar, sementara di sisi lain pemerintah juga memilih strategi ekspansi fiskal melalui belanja negara yang agresif untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.

“Pemerintah sekarang memang agresif, belanja pemerintah jor-joran. Strateginya ingin menggenjot pengeluaran supaya ekonomi tumbuh,” katanya.

Menurut Dipo, langkah tersebut dilakukan dengan harapan aktivitas ekonomi meningkat sehingga penerimaan pajak ikut naik. Namun, strategi itu juga membutuhkan tambahan pembiayaan melalui utang.

Ia juga menyoroti persoalan defisit fiskal yang dinilai mulai terasa nyata di tengah tekanan global dan domestik.
Selain faktor internal, Dipo menyebut gejolak geopolitik turut memperburuk tekanan terhadap rupiah, termasuk dampak konflik Iran yang sempat memicu kenaikan harga minyak dunia.

“Rupiah melemah bukan hanya karena geopolitik, tapi memang sebelumnya ekonomi kita kurang baik. Istilahnya ditiup saja goyang,” ujarnya.

Dipo menambahkan, pelemahan rupiah tidak hanya terjadi terhadap dolar AS, tetapi juga terhadap mata uang negara-negara tetangga seperti dolar Singapura, ringgit Malaysia, hingga baht Thailand.

Menurutnya, kondisi itu menunjukkan adanya persoalan fundamental dan struktural dalam perekonomian nasional yang perlu segera dibenahi pemerintah.


Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Pengusaha Keberatan Masa Kerja Karyawan Kontrak Dipangkas jadi Empat Tahun

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

Gus Lilur Laporkan Dugaan Jual Beli Suara Muktamar NU ke KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 00:20

Ledakan Besar Guncang Pasar Cimanggis-Ciputat, 2 Orang Dikabarkan Tewas

Kamis, 15 Oktober 2026 | 00:00

Danantara Minta Maaf dan Ambil Alih PLN Batam Usai Listrik Padam

Rabu, 14 Oktober 2026 | 23:36

Pemerintah Diminta Gencar Sosialisasikan Beasiswa Pendidikan untuk Anak Papua

Rabu, 14 Oktober 2026 | 23:08

Ijazah Keluarga Jokowi itu Terus Melahirkan Masalah Bangsa

Rabu, 14 Oktober 2026 | 22:54

GoTo Gelar RUPSLB, Restui Pembatalan Saham Tresuri dan Perombakan Direksi

Rabu, 14 Oktober 2026 | 22:26

Terdakwa Pemerasan Bangun Paulus Dijemput Paksa di Tempat Hiburan, Alasan Mangkir Sakit

Rabu, 14 Oktober 2026 | 22:17

Kaya Omega-3, Bumi Wijaya Pilih Ikan Sidat untuk Gizidat

Rabu, 14 Oktober 2026 | 22:07

Indonesia-Malaysia Perkuat Kerja Sama Imigrasi, Pencegahan TPPO jadi Perhatian

Rabu, 14 Oktober 2026 | 22:05

Pertamina Patra Niaga Maksimalkan Langkah Pemulihan Layanan BBM di Bali

Rabu, 14 Oktober 2026 | 21:52

Selengkapnya