Berita

Ilustrasi. (Foto: Dokumentasi RMOL)

Bisnis

Pelemahan Rupiah Bukan Krisis, Tapi Restrukturisasi Ekonomi Nasional

RABU, 20 MEI 2026 | 19:34 WIB | LAPORAN: ADITYO NUGROHO

Presiden Direktur Center For Banking Crisis (CBC), Achmad Deni Daruri menilai depresiasi nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS harus dimaknai sebagai proses restrukturisasi ekonomi nasional, bukan pelemahan ekonomi.

Deni meyakini, Rupiah akan kembali stabil terhadap Dolar AS maupun mata uang global lainnya pada tahap berikutnya.

"Ini restrukturisasi, bukan pelemahan. Narasi yang sering muncul adalah pelemahan Rupiah mencerminkan lemahnya ekonomi. Pandangan itu keliru. Depresiasi Rupiah justru harus dibaca sebagai restrukturisasi ekonomi menuju daya saing lebih tinggi," kata Deni di Jakarta, Rabu, 20 Mei 2026.


Menurut dia, dalam konteks global, jika Gubernur Bank Sentral AS yang baru, Kevin Wars, mengikuti arahan Presiden AS Donald Trump untuk menurunkan suku bunga, maka Dolar AS justru berpotensi melemah.

"Implikasi jangka menengah dan panjangnya, setelah fase restrukturisasi, Rupiah akan lebih stabil terhadap Dolar AS,” ujarnya.

Deni menjelaskan, depresiasi atau restrukturisasi Rupiah merupakan strategi penyesuaian struktural. Pelemahan Rupiah dinilai membuka ruang bagi ekspor, memperkuat industri domestik, serta menekan ketergantungan impor.

"Tugas pemerintah adalah memastikan pelemahan rupiah tidak sekadar menjadi gejolak pasar, melainkan momentum transformasi,” tegasnya.

Di sisi lain, Deni menyoroti pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I-2026 yang mencapai 5,61 persen. 

Menurutnya, angka tersebut memberi kesan stabilitas ekonomi nasional masih terjaga.

"Angka ini menenangkan publik dan pasar, seolah menegaskan ekonomi nasional masih berada di jalur aman,” ujarnya lagi.

Namun, di balik capaian itu, fondasi pertumbuhan ekonomi dinilai masih rapuh. Sebab, pertumbuhan lebih banyak ditopang konsumsi pemerintah dan sektor hospitality.

"Transformasi struktural sejauh ini belum terlihat nyata. Jika tidak segera diarahkan, Indonesia berisiko terjebak dalam middle income trap atau jebakan negara berpendapatan menengah,” jelasnya.

Konsumsi Pemerintah dan ICOR Tinggi

Deni menyebut pendorong utama pertumbuhan ekonomi berasal dari lonjakan konsumsi pemerintah yang mencapai 21,81 persen. Namun, efisiensi investasi masih rendah, tercermin dari tingginya ICOR (Incremental Capital Output Ratio).

"Infrastruktur dibangun, tetapi output yang dihasilkan relatif kecil dibandingkan input. Artinya, belanja fiskal belum menghasilkan produktivitas jangka panjang,” jelasnya lagi.

Karena itu, dia merekomendasikan agar sebagian belanja fiskal dialihkan ke penguatan kualitas sumber daya manusia, seperti program nutrisi, pendidikan, dan vokasi.

"Agar investasi menghasilkan tenaga kerja produktif dan daya saing berkelanjutan,” ujarnya.

Selain itu, Deni menyoroti sektor akomodasi dan makanan minuman yang tumbuh 13,14 persen akibat rebound pariwisata dan konsumsi domestik. Namun, sektor tersebut dinilai masih memiliki nilai tambah rendah dan rentan terhadap guncangan eksternal.

"Pertumbuhan seperti ini tidak cukup membawa Indonesia keluar dari middle-income trap. Perlu diversifikasi ke sektor bernilai tambah tinggi. Jika tidak, pertumbuhan hospitality hanya menjadi ilusi stabilitas,” bebernya.

Ketimpangan Masih Tinggi

Deni juga menyoroti dominasi Pulau Jawa yang masih menyumbang 57,24 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional. Sementara wilayah luar Jawa dinilai masih tertinggal.

"Ketimpangan ini berpotensi memperlebar jurang sosial-ekonomi dan memicu ketidakstabilan politik. Pertumbuhan yang tidak inklusif akan menjadi bom waktu pembangunan nasional,” ungkap dia.

Selain itu, dia memperkirakan harga minyak dunia masih akan bertahan tinggi dalam waktu cukup lama. Kondisi tersebut berdampak pada kenaikan biaya produksi, inflasi energi, hingga risiko defisit fiskal.

"Indonesia harus mempercepat diversifikasi energi dengan memanfaatkan gas domestik dan energi terbarukan agar tidak terus bergantung pada impor minyak,” pungkasnya.


Populer

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Menteri Warisan Jokowi akan Bersih dari Kabinet Prabowo pada 2027

Jumat, 30 Oktober 2026 | 23:29

Pencopotan Agus Suparmanto dan Taj Yasin Bukan Keinginan Ketum PPP

Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:16

Rencana Insentif MBG Rp1 Triliun Tuai Kritik dari DPR

Kamis, 29 Oktober 2026 | 15:47

Silfester Matutina Diduga Masuk List Saksi Sidang Ijazah Jokowi

Minggu, 25 Oktober 2026 | 04:00

UPDATE

Perempuan Tani HKTI Terapkan Teknologi IoT, Pangkas Penggunaan Pupuk hingga 50 Persen

Minggu, 01 November 2026 | 12:32

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

PTKIN Siapkan Langkah agar Inovasi Mahasiswa Tak Berhenti di Ajang Lomba

Minggu, 01 November 2026 | 11:56

Kloter Pertama Haji 2027 Terbang 11 April, Ini Jadwal Lengkapnya

Minggu, 01 November 2026 | 11:50

Imigrasi Sudah Cegah Ahmad Dedi ke Luar Negeri Atas Permintaan KPK

Minggu, 01 November 2026 | 11:36

Puluhan Orang Diamankan Polisi saat Gerebek Kampung Bahari

Minggu, 01 November 2026 | 11:30

Maroko Sambut Keputusan PBB Akhiri Misi MINURSO di Sahara Barat

Minggu, 01 November 2026 | 11:17

Citra Polri Bisa Rusak Akibat Dua Kejadian Ini

Minggu, 01 November 2026 | 11:05

Ombudsman Ingatkan Polri Jaga Etika dan Hormati HAM saat Penggeledahan

Minggu, 01 November 2026 | 10:48

PPK Ajak Masyarakat Berperan bersama Presiden Prabowo Wujudkan Kedaulatan

Minggu, 01 November 2026 | 10:42

Selengkapnya