Berita

Presiden Prabowo Subianto. (Foto: Dokumentasi RMOL/Istimewa)

Politik

Eksponen 98: Majalah The Economist Abaikan Fakta Prabowo

SELASA, 19 MEI 2026 | 18:49 WIB | LAPORAN: AHMAD SATRYO

 Topik yang diangkat majalah Inggris, The Economist soal kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dikritik aktivis yang juga eksponen angkatan Reformasi 98, Andrianto Andri.

Ia menyatakan The Economist telah beropini berlebihan, karena menyebut Pemerintahan Presiden Prabowo sedang menuju otoritarianisme dan pemborosan anggaran, tanpa dasar yang jelas.

"Majalah tersebut mengabaikan fakta bahwa Prabowo melakukan pendekatan demokratis dalam mencapai kekuasaan setelah tiga kali gagal. Saat ini, mantan Danjen Kopassus itu menelorkan kebijakan-kebijakan populis untuk rakyat," ujar Andri dalam keterangan yang diterima redaksi di Jakarta, Selasa, 19 Mei 2026.


Menurutnya, Presiden Prabowo merupakan sosok nasionalis tulen yang dibutuhkan Indonesia saat ini. Terutama dalam menghadapi situasi global yang sangat tidak menentu akibat kebijakan hegemonistik Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap negara-negara lain seperti Iran dan Venezuela.

Andri menilai majalah The Economist yang terbit pertama kali pada 1843 oleh keluarga Atmelly dan Rothschild itu telah menyebarkan isu yang membahayakan kondisi dalam negeri.

"Dikatakan juga oleh majalah itu, sebagai negara yang merupakan penganut muslim terbesar di dunia saat ini Indonesia berada di jalur yang sangat beresiko. Majalah itu sampai pada kesimpulan, Prabowo sedang melemahkan keuangan negara dengan perilaku borosnya, dan membahayakan demokrasi karena dia tidak mentolerir adanya kritik terhadap pemerintahannya," beber dia.

Masih kata Andri, sejak berdirinya majalah ini memang berkiblat kepada pemikiran neoliberalisme yang mendukung dan menyebabkan paham ekonomi yang mengusung semboyan ideologi kapitalisme modern. 

"Paham yang mereka perjuangkan adalah biarkan pasar bekerja dengan sendirinya (laissez-faire). Negara tidak perlu mengintervensi lewat serangkaian kebijakan yang mengganggu mekanisme pasar," tuturnya.

Karena itu, Andri menganggap wajar apabila The Economist tidak mengerti apa yang sedang dilakukan Presiden Prabowo, lewat serangkaian kebijakan populis/kerakyatannya seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) dan Sekolah Rakyat. 

Padahal selain program-program populis itu, lanjutnya, Presiden Prabowo jyga melakukan kebijakan Penguatan APBN, mendahulukan domestik dan ketahanan pangan dalam negeri. 

“Menurut majalah itu, Prabowo adalah sosok pemimpin yang membuat Indonesia menuju otoritarianisme. Bagi saya, pernyataan itu sangat tidak masuk akal dan tidak sesuai dengan kondisi faktual. Memang dia seorang jenderal tetapi dia adalah seorang yang taat dan mengikuti proses demokrasi," ucapnya.

"Harus dicatat bahwa Prabowo sudah empat kali mengikuti pemilihan Presiden, tiga kali gagal dan baru berhasil pada 2024. Dia menaati demokrasi untuk mencapai kekuasaan,” pungkas peraih gelar magister administrasi dari Universitas Prof. Dr Moestopo itu.


Populer

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Menteri Warisan Jokowi akan Bersih dari Kabinet Prabowo pada 2027

Jumat, 30 Oktober 2026 | 23:29

Pencopotan Agus Suparmanto dan Taj Yasin Bukan Keinginan Ketum PPP

Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:16

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Rencana Insentif MBG Rp1 Triliun Tuai Kritik dari DPR

Kamis, 29 Oktober 2026 | 15:47

UPDATE

Kapolri Resmi Larang Seluruh Polisi Pakai Vape

Minggu, 01 November 2026 | 21:51

Ketidakpuasan terhadap Kinerja Pemerintah

Minggu, 01 November 2026 | 21:33

Gaduh Penggeledahan Pesantren, Polri Libatkan Propam

Minggu, 01 November 2026 | 20:41

Dua Nasabah Gugat AIA Financial ke PN Jaksel

Minggu, 01 November 2026 | 20:18

Mantra Mahasiswa dan Mengapa Rakyat Sering Kali Dikalahkan?

Minggu, 01 November 2026 | 19:36

KB Bank Syariah Digugat ke Pengadilan

Minggu, 01 November 2026 | 18:39

Pakar Tata Negara Bongkar Efek Putusan MA Terhadap Nasib Gibran

Minggu, 01 November 2026 | 18:15

Cancel Culture RANS-Willie Salim Contoh Kemarahan Publik

Minggu, 01 November 2026 | 17:41

Lulusan Trisakti Didorong Jadi Generasi Inovatif dan Berjiwa Wirausaha

Minggu, 01 November 2026 | 17:23

Elemen Umat Islam Harus Bersatu Perkuat Ekonomi melalui Koperasi

Minggu, 01 November 2026 | 17:00

Selengkapnya