Berita

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso di Kompleks Parlemen, Senayan, Senin, 18 Mei 2026. (Foto: RMOL/Sarah Alifia Suryadi)

Bisnis

BI Optimistis Rupiah Menguat Pasca-Juni Meski Sekarang Babak Belur

SENIN, 18 MEI 2026 | 18:35 WIB | LAPORAN: SARAH ALIFIA SURYADI

Nilai tukar Rupiah terus berada dalam tekanan dan kini nyaris menyentuh level Rp18 ribu per Dolar AS. 

Namun di tengah pelemahan tersebut, Bank Indonesia tetap optimistis Rupiah akan kembali menguat setelah melewati periode tingginya permintaan Dolar pada April hingga Juni.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso menyampaikan, bank sentral saat ini masih all out menjaga stabilitas nilai tukar di tengah tekanan global yang terus meningkat.


“Pak Gubernur (BI) meyakini bahwa pasca bulan Juni, pasca melewati musim demand yang tinggi terhadap Dolar yaitu April, Mei, Juni, insya Allah Rupiah sangat berpotensi untuk menguat,” ujar Denny usai rapat dengan Komisi XI DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Senin, 18 Mei 2026.

BI juga masih mempertahankan optimisme terhadap target rata-rata kurs rupiah tahun ini di level Rp16.500 per Dolar AS, dengan rentang Rp16.200 hingga Rp16.800.

“BI masih optimis rupiah di tahun ini masih bisa mencapai rata-rata yang sudah ditargetkan yaitu Rp16.500 dengan rentang Rp16.200 sampai dengan Rp16.800,” lanjutnya.

Menurut BI, tekanan terhadap rupiah saat ini bukan hanya dialami Indonesia, tetapi juga mayoritas negara lain akibat penguatan Dolar AS dan meningkatnya ketidakpastian global.

Salah satu faktor yang disorot adalah memanasnya situasi di Selat Hormuz yang mendorong kenaikan harga minyak dunia. BI mencatat harga minyak kini berada di kisaran 107 Dolar AS per barel.

Selain itu, persepsi inflasi global yang meningkat turut mendorong kenaikan yield US Treasury ke level 4,6 hingga 4,7 persen. Kondisi tersebut dinilai memperbesar tekanan terhadap mata uang berbagai negara, termasuk rupiah.

“Kalau kita melihat per Mei ini banyak sekali negara yang melemah terhadap US Dollar,” tegasnya.

Meski demikian, BI menilai fundamental ekonomi Indonesia masih cukup kuat untuk menopang stabilitas rupiah ke depan. Faktor seperti pertumbuhan ekonomi, inflasi yang terkendali, pengelolaan utang luar negeri yang prudent, hingga cadangan devisa yang memadai menjadi dasar optimisme tersebut.


Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Pengusaha Keberatan Masa Kerja Karyawan Kontrak Dipangkas jadi Empat Tahun

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

UPDATE

Persib Naik Peringkat Usai Tahan Imbang Dewa United

Senin, 12 Oktober 2026 | 02:20

Menata Kembali Pendidikan Kita

Senin, 12 Oktober 2026 | 01:58

Koperasi di Bima Sukses Produksi Garam Merah Putih

Senin, 12 Oktober 2026 | 01:35

Golkar Perkenalkan Sistem Dapil Nasional, Begini Penjelasannya

Senin, 12 Oktober 2026 | 01:15

Dua Tahun Prabowo-Gibran: Paradoks Kebijakan Pertahanan Negara

Senin, 12 Oktober 2026 | 00:48

Baintelkam Polri Alami Perombakan di Era Suyudi

Senin, 12 Oktober 2026 | 00:20

Taruna Merah Putih Gelar Taman Talks Kupas Masa Depan Kerja di Era AI

Minggu, 11 Oktober 2026 | 23:45

Polemik Revitalisasi Taman Coatesville, Warga Protes Bangunan 480 Meter Persegi

Minggu, 11 Oktober 2026 | 23:33

Pangandaran Run 2026 Rajut Kebersamaan TNI dan Rakyat

Minggu, 11 Oktober 2026 | 23:18

Manggala Agni Turun Tangan Padamkan Karhutla yang Mendekati Permukiman

Minggu, 11 Oktober 2026 | 23:07

Selengkapnya