Berita

Presiden Prabowo Subianto. (Foto: Generate AI)

Politik

Prabowo Remehkan Pelemahan Rupiah, Warga Mulai Alihkan Tabungan ke Mata Uang Asing

SENIN, 18 MEI 2026 | 12:29 WIB | LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA

Pelemahan nilai tukar (kurs) Rupiah yang menembus level Rp17.600 per Dolar Amerika Serikat (AS) mulai mendorong masyarakat beralih menyimpan dana ke valuta asing (valas).

Fenomena itu terjadi setelah Presiden Prabowo Subianto mengatakan bahwa pelemahan kurs tidak akan berdampak langsung terhadap masyarakat desa karena tidak menggunakan Dolar AS.

“Mau Dolar berapa ribu kek, kan kalian di desa-desa nggak pake Dolar. Yang pusing itu yang suka ke luar negeri,” ujar Prabowo saat meresmikan operasionalisasi 1.061 Koperasi Desa dan Kelurahan Merah Putih pada Sabtu, 16 Mei 2026.


Setelah pernyataan Prabowo, pada perdagangan Senin, 18 Mei 2026, Rupiah sempat menyentuh level terendah di Rp17.675 per Dolar AS.

Tekanan pasar tidak hanya terjadi pada Rupiah. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga sempat anjlok hingga 4,35 persen dan terlempar ke posisi 6.431 pada perdagangan hari ini.

Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan pernyataan Prabowo telah memperburuk sentimen pasar terhadap Rupiah dan saham.

“Ya rupanya pernyataan dari Presiden Prabowo ini berakibat fatal terhadap kelemahan mata uang rupiah,” kata Ibrahim dalam keterangannya.

Fenomena perpindahan tabungan dari Rupiah ke mata uang asing, lanjutnya, ikut menambah tekanan terhadap kurs Rupiah.

“Masyarakat berpindah menabung dari tabungan rupiah menjadi valuta asing. Ini membuat apa? Membuat Rupiah terus mengalami pelemahan ditambah dengan olok-olok dari Presiden Prabowo sendiri yang mengatakan bahwa pelemahan mata uang Rupiah ini tidak berdampak terhadap masyarakat di kampung ya karena di kampung ini tidak mengenal yang namanya dolar,” tambahnya.

Direktur Eksekutif Celios Bhima Yudhistira juga menilai Presiden Prabowo terlalu menganggap enteng pelemahan tersebut. Menurutnya, situasi ekonomi global saat ini seharusnya direspons pemerintah dengan langkah antisipasi yang serius, bukan justru menyepelekan dampaknya terhadap masyarakat.

“Jadi kami sangat menyesalkan Prabowo terlalu menganggap enteng situasi sekarang, yang harusnya di banyak negara pemimpin-pemimpinnya itu mempersiapkan kondisi yang terburuk dengan stimulus, mempersiapkan publik,” kata Bhima kepada RMOL.

Di media sosial, ajakan untuk menyimpan dana dalam bentuk valas maupun emas ramai bermunculan seiring terus melemahnya Rupiah.

Salah satu akun di Threads mengaku mulai mengalihkan tabungannya ke Dolar Singapura (SGD).

“Yuk mulai nabung ke valas, 6 bulan terakhir aku mulai switch tabungan ke SGD, karena emas yang mulai aduhay harganya jadi beli emas ketika ada rejeki nomplok aja, tapi beli SGD lebih teratur dan mudah kontrolnya. Value uang lebih terjaga daripada simpen IDR,” tulis akun tersebut.

Akun lain juga menyarankan masyarakat mulai mempertimbangkan aset lindung nilai.

“Sebagai karyawan dengan gaji UMR, gue menyarankan teman-teman mulai nabung emas atau valas. Karena nyimpen Rupiah udah nggak guna,” tulis akun lainnya.

Sementara itu, seorang pengguna media sosial X mengaku berencana melepas obligasi pemerintah dan memindahkan dananya ke mata uang asing.

“Gue bakal lepas obligasi pemerintah yang gue punya, ganti dengan USD dan SGD. Walau ga seberapa, sakit rasanya pemimpin sendiri pidato seperti itu. Di titik ini, bukan lagi tentang return. Oke kalau ini udah masuk survival mode, kencangan ikat pinggang,” tulis akun tersebut.

Ada pula warganet yang memilih menghentikan aktivitas investasi saham untuk sementara waktu.

“Mulai hari ini stop dulu trade dan top up RDN. Tapi mau mulai nyicil nabung valas, soalnya makin ke sini rasanya pemerintah nggak peduli lihat Rupiah melemah kayak gimana,” tulis akun lainnya.

Populer

Jumlah Personel TNI Tidak Masuk Akal

Sabtu, 30 Mei 2026 | 03:36

Penutupan Alfamart dan Indomaret Jangan Salahkan KDKMP

Kamis, 28 Mei 2026 | 06:00

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

UPDATE

Pramono Klaim 96 Persen Warga Ingin CFD Rasuna Said Berlanjut

Minggu, 07 Juni 2026 | 10:20

Garuda Institute Minta BGN Utamakan Kualitas daripada Kuantitas

Minggu, 07 Juni 2026 | 10:12

Balas Serangan AS, Iran Gempur Pangkalan Bahrain dan Kuwait

Minggu, 07 Juni 2026 | 09:58

Ditjenpas Benahi Overkapasitas dan Tingkatkan Keamanan Lapas

Minggu, 07 Juni 2026 | 09:54

Paus Leo XIV Sebut Perang AS-Iran Tidak Adil

Minggu, 07 Juni 2026 | 09:11

Bukan Sekadar Ganti Pejabat, Reshuffle Kabinet Harus Pulihkan Ekonomi

Minggu, 07 Juni 2026 | 09:00

Bupati Pati Sudewo Ditahan di Rutan Semarang Jelang Sidang Dua Perkara

Minggu, 07 Juni 2026 | 08:56

Suhud Alynudin Akan Dilantik Jadi Ketua DPRD DKI Senin Besok

Minggu, 07 Juni 2026 | 08:27

Koperasi Didorong Masuk Ekosistem Industri Gula

Minggu, 07 Juni 2026 | 08:02

Gus Salam Serap Aspirasi Nahdliyin Sulsel Jelang Muktamar NU

Minggu, 07 Juni 2026 | 07:52

Selengkapnya