Berita

Presiden Prabowo Subianto (Foto: Biro Pers Sekretariat Presiden)

Bisnis

Ekonom Dukung Rencana Presiden Bentuk Satgas Deregulasi Investasi

SENIN, 18 MEI 2026 | 11:27 WIB | LAPORAN: AHMAD SATRYO

Rencana Presiden Prabowo Subianto membentuk Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Deregulasi Investasi mendapat dukungan dari pakar ekonomi Didik J. Rachbini.

Prof. Didik menilai pembentukan Satgas Deregulasi Investasi merupakan langkah positif untuk mengurai persoalan struktural dalam tata kelola ekonomi Indonesia.

“Masalah institusi yang lemah juga dikritik sendiri oleh Presiden Prabowo, terutama terkait birokrasi yang menghambat banyak pelaku usaha,” ujar Prof. Didik kepada Kantor Berita Politik dan Ekonomi RMOL, Senin, 18 Mei 2026.


Menurutnya, proses perizinan investasi di Indonesia masih terlalu panjang dan berbelit. Untuk mendapatkan izin usaha, investor bahkan harus menunggu hingga satu sampai dua tahun. Padahal, di sejumlah negara lain, proses serupa bisa diselesaikan hanya dalam waktu sekitar dua minggu.

“Regulasi yang ruwet justru membuka celah praktik tidak sehat dalam birokrasi,” tuturnya.

Karena itu, pendiri Institute for Development of Economics and Finance atau INDEF tersebut mendorong Presiden Prabowo segera merealisasikan pembentukan Satgas Deregulasi Investasi.

Ia juga menyoroti capaian investasi asing Indonesia yang masih tertinggal dibanding sejumlah negara di kawasan. Berdasarkan data yang dipaparkannya, investasi asing di Indonesia berada di angka 1,8 persen, sementara Vietnam mencapai 4,2 persen, Malaysia 3,7 persen, dan Singapura 27,8 persen.

“Karena itu, Presiden berencana membentuk satuan tugas khusus deregulasi untuk memangkas aturan dan perizinan yang dinilai menghambat investasi serta kegiatan usaha di Indonesia,” katanya.

Prof. Didik menambahkan, gagasan pembentukan satgas deregulasi merupakan langkah yang logis. 
Menurutnya, negara-negara Asia Timur yang sukses melakukan industrialisasi juga menerapkan model “war room” reformasi birokrasi yang dikendalikan langsung oleh pemimpin politik tertinggi.

Populer

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Profil Achmad Syahri Assidiqi: Legislator Gerindra 'Gamer' Anak Eks DPR RI

Selasa, 12 Mei 2026 | 20:12

Jangan Biarkan Dua Juri Final LCC Lolos dari Sanksi UU ASN

Kamis, 14 Mei 2026 | 12:43

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

PSI Ketar-ketir Lawan Jusuf Kalla

Jumat, 08 Mei 2026 | 06:47

Inilah Bupati Sitaro Chyntia Ingrid Kalangit yang Diborgol Kejati

Minggu, 10 Mei 2026 | 01:09

Djaka Budi Utama Belum Tentu Bersalah dalam Kasus Suap Bea Cukai

Sabtu, 09 Mei 2026 | 02:59

UPDATE

Habib Syakur Kritik Elite Politik: Demokrasi Jangan Dijadikan Arena Gaduh

Senin, 18 Mei 2026 | 10:20

MK Tegaskan Jakarta Masih Ibu Kota, Pengamat Sebut IKN Hanya Ambisi Jokowi

Senin, 18 Mei 2026 | 10:02

Pakar Soroti Masalah Struktural yang Hambat Investasi Asing ke RI

Senin, 18 Mei 2026 | 09:56

Polemik Muktamar Mathla’ul Anwar Berlanjut ke Pengadilan

Senin, 18 Mei 2026 | 09:51

IHSG Ambles 190 Poin, Rupiah Terpukul ke Rp17.661 per Dolar AS

Senin, 18 Mei 2026 | 09:47

Emas Antam Turun di Awal Pekan, Termurah Rp1,4 Juta

Senin, 18 Mei 2026 | 09:32

Prabowo Tekankan Pangan Harga Mati, Siap Disalahkan Jika Rakyat Kelaparan

Senin, 18 Mei 2026 | 09:22

Awal Pekan, Dolar AS Masih Perkasa di Level 99 Setelah Reli Sengit Akhir Pekan

Senin, 18 Mei 2026 | 09:14

Harga Minyak Dunia Makin Naik, Kembali Sentuh 110 Dolar AS

Senin, 18 Mei 2026 | 08:44

Bursa Asia Tertekan, Kospi Paling Merah

Senin, 18 Mei 2026 | 08:18

Selengkapnya