Ilustrasi (RMOL/Reni Erina)
Memasuki pembukaan pasar di awal pekan, indeks Dolar AS (DXY) terpantau masih kokoh bertahan di area 99,26, mempertahankan posisinya di level tertinggi dalam sebulan terakhir.
Ketangguhan greenback pagi ini merupakan kelanjutan langsung dari reli masif pada penutupan Jumat pekan lalu, di mana DXY melesat 0,32 persen ke level 99,27 dan membukukan keuntungan mingguan lebih dari 1 persen
Sikap perkasa mata uang paman Sam ini dipicu oleh kepanikan pasar global terhadap hantu inflasi baru dan perubahan drastis peta kebijakan The Fed.
Berikut adalah tiga motor utama yang menyeret dolar ke puncak tertingginya sejak akhir pekan lalu:
1. Efek Domino Konflik Iran & Pasokan Selat Hormuz
Pasar masih terguncang oleh lonjakan harga minyak mentah akibat konflik Iran yang menyumbat jalur logistik vital di Selat Hormuz. Imbasnya, data April mencatatkan lonjakan inflasi grosir (PPI) AS tercepat sejak 2022 dan inflasi konsumen (CPI) tertinggi sejak 2023. Guncangan energi ini langsung menerbangkan imbal hasil (yield) US Treasury 10-tahun ke angka 4,599 persen, rekor tertinggi dalam setahun.
2. Skenario Suku Bunga Berbalik: Dari "Cut" Menjadi "Hike"
Daya beli masyarakat AS terbukti masih sangat tangguh meski penjualan ritel sedikit melambat. Kombinasi inflasi yang memanas dan ekonomi yang kuat membuat pasar kini sepenuhnya menghapus peluang pemangkasan suku bunga Fed tahun ini. Sebaliknya, para trader kini mulai bertaruh hampir 50 persen bahwa The Fed justru akan menaikkan suku bunga pada Desember mendatang.
3. Hubungan AS-China Memanas di Tengah Isu Taiwan
Selain faktor Timur Tengah, pelaku pasar global memilih mengamankan aset ke Dolar AS (safe haven) setelah pertemuan tingkat tinggi antara Presiden Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping tidak membuahkan kesepakatan besar. Terlebih, Presiden Xi secara terbuka memperingatkan bahwa isu Taiwan bisa memicu benturan langsung antara dua raksasa ekonomi dunia tersebut.
Keperkasaan Dolar AS pekan lalu sukses merontokkan mata uang utama dunia. Euro, Yen, dan Poundsterling kompak melemah secara global, di mana Poundsterling bahkan harus rela mencatatkan penurunan mingguan terdalamnya sejak November 2024.