Berita

Ilustrasi (RMOL/Reni Erina)

Bisnis

Bursa Asia Tertekan, Kospi Paling Merah

SENIN, 18 MEI 2026 | 08:18 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Bursa saham Asia-Pasifik kompak melemah pada perdagangan Senin, 18 Mei 2026, setelah pernyataan Presiden AS Donald Trump terkait Iran kembali memicu kekhawatiran investor bahwa pasokan minyak global dan memperburuk tekanan inflasi dunia.

Dikutip dari CNBC International, tekanan paling besar terjadi di Korea Selatan. Indeks Kospi anjlok lebih dari 2 persen, sementara indeks saham kecil Kosdaq juga turun lebih dari 2 persen. 

Bursa Jepang ikut melemah, dengan Nikkei 225 turun sekitar 0,2 persen, meski indeks Topix masih mampu naik tipis 0,1 persen.


Pasar Australia juga bergerak di zona merah. Indeks S&P/ASX 200 turun sekitar 0,76 persen akibat kekhawatiran investor terhadap lonjakan harga energi dan meningkatnya risiko global.

Sementara itu, kontrak berjangka indeks Hang Seng Hong Kong berada di level lebih rendah dibanding penutupan sebelumnya, menandakan sentimen negatif masih membayangi pasar China dan Hong Kong.

Tekanan di pasar saham Asia muncul setelah Trump memperingatkan Iran agar “segera bertindak” dalam unggahan di Truth Social. Trump bahkan mengatakan “waktu terus berjalan” dan memperingatkan bahwa “tidak akan ada yang tersisa” jika Iran tidak mengambil langkah cepat. Pernyataan keras tersebut membuat investor kembali khawatir terhadap stabilitas kawasan Timur Tengah.

Kekhawatiran terbesar pasar adalah potensi terganggunya distribusi minyak dunia. Iran hingga kini masih menutup Selat Hormuz, jalur penting perdagangan energi global, sementara AS terus melakukan blokade terhadap pelabuhan Iran. Situasi ini membuat harga minyak melonjak lebih dari 1 persen.

Harga minyak Brent untuk kontrak Juli naik 1,34 persen 110,72 Dolar AS per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik 1,75 persen menjadi 107,26 Dolar AS per barel. Kenaikan harga minyak memicu kekhawatiran inflasi global akan kembali meningkat dan dapat mempersulit kebijakan bank sentral di berbagai negara.

Di Jepang, lonjakan kekhawatiran inflasi juga terlihat dari pasar obligasi. Imbal hasil obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun melonjak lebih dari 8 basis poin menjadi 2,785 persen, memperpanjang aksi jual obligasi global yang sebelumnya sudah terjadi akibat tingginya tekanan harga.

Populer

Jumlah Personel TNI Tidak Masuk Akal

Sabtu, 30 Mei 2026 | 03:36

Penutupan Alfamart dan Indomaret Jangan Salahkan KDKMP

Kamis, 28 Mei 2026 | 06:00

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

UPDATE

Pramono Klaim 96 Persen Warga Ingin CFD Rasuna Said Berlanjut

Minggu, 07 Juni 2026 | 10:20

Garuda Institute Minta BGN Utamakan Kualitas daripada Kuantitas

Minggu, 07 Juni 2026 | 10:12

Balas Serangan AS, Iran Gempur Pangkalan Bahrain dan Kuwait

Minggu, 07 Juni 2026 | 09:58

Ditjenpas Benahi Overkapasitas dan Tingkatkan Keamanan Lapas

Minggu, 07 Juni 2026 | 09:54

Paus Leo XIV Sebut Perang AS-Iran Tidak Adil

Minggu, 07 Juni 2026 | 09:11

Bukan Sekadar Ganti Pejabat, Reshuffle Kabinet Harus Pulihkan Ekonomi

Minggu, 07 Juni 2026 | 09:00

Bupati Pati Sudewo Ditahan di Rutan Semarang Jelang Sidang Dua Perkara

Minggu, 07 Juni 2026 | 08:56

Suhud Alynudin Akan Dilantik Jadi Ketua DPRD DKI Senin Besok

Minggu, 07 Juni 2026 | 08:27

Koperasi Didorong Masuk Ekosistem Industri Gula

Minggu, 07 Juni 2026 | 08:02

Gus Salam Serap Aspirasi Nahdliyin Sulsel Jelang Muktamar NU

Minggu, 07 Juni 2026 | 07:52

Selengkapnya